What If Love: Overheard

Foto from: http://momgeekedition.blogspot.com

Beberapa waktu lalu, Alex @aMrazing pernah mengajak penghuni twitterland untuk berpartisipasi dalam hestek #WhatIfLove. Yaitu membuat satu cerpen dengan plot #WhatIfLove itu. Maksudnya, hubungan cinta yang terjadi, tapi lebih mengarah kepada pelampiasan. Dan di tengah jalan, terpaksa harus mengakhiri karena tidak mau munafik. Nah, saya sih gak tau gimana kelanjutan dari projek itu, gak update. Tapi gak ada salahnya kan menulisnya sekarang. Cerpen saya tentang apa? yaaa.. bayangkan aja kita lagi ngopi, sendirian, lalu iseng nguping pembicaraan dari meja sebelah. Hehe. Oke, selamat menikmati kopinya, teman.

 

 

“Udah lama?”
“Baru aja. Belum juga pesen apa-apa.”
“Kirain aku udah telat banget.”
“Gak kok.”
“Mbak, saya mau pesen ya?”
“Baik Pak, ini menunya. Mau langsung pesen?”
“Iya. Heineken satu. Kamu mau apa?”
“Aku pesen cappuccino ajalah. Yang dingin.”
“Baik.”
“Ok.”
“Adalagi, Pak? Bu? Makanan atau cemilannya mungkin?”
“French fries deh.”
“Baik, pak. Saya ulang lagi pesanannya ya, Heineken, cappuccino dingin, dan French fries. Mohon ditunggu sebentar ya, Pak.”
“Ok,”
“Gimana? Apa kabar kamu? Gimana kerjaan?”
“Baik, Ris. Seperti biasalah, target gak pernah berhenti.”
“Dimana-mana juga sama. Selama kita jadi karyawan, heheh.”
“Kamu kurusan Rud, diet?”
“Iya, mau ngecilin perut dikit. Ngecilin celana. Kamu gimana kabarnya? Jadi pindah kerja?”
“Maunya sih begitu, sayangnya belum ada yang pas. Tapi aku harus pindah dari tempat sekarang ini, Rud. Udah gak nyaman banget. Aku gak mau ikutan gila.”
“Ya kamu yang rajin aja nyari-nyari referal ke teman-teman.”
“Iya, tapi gak segampang itu juga kan?”
“Gaji kamu udah kegedean…”
“Heheh…”
“Makanya perusahaan lain sulit naikin lebih tinggi lagi.”
“Iya sih…”
“Oke Ris, ada apa? Jarang-jarang kamu ajak aku ketemuan, mendadak lagi.”
“Kemaren empat hari aku coba hubungin kamu, tapi semua handphone kamu gak aktif, kamu kemana?”
“Hahah.. iya. Emang gak aktif semua, sengaja. Aku pergi ke Thailand sama Tasya. Jalan-jalan. Pre honeymoon.”
“Gila! Kamu tau gak sih apa yang terjadi?”
“Ada apa emang?”
“Oke, aku gak peduli kamu mau ngapain sama Tasya. Tapi sekarang aku mau tanya, kamu sama Vani ada apa? Kamu selingkuh ama dia? Gila kamu! Dia sudah punya suami!”
“Hey! Ada apa? Kamu cerita dulu, jangan langsung ngegas aja.”
“Empat hari lalu, Vani nelpon aku. Dia dan suaminya ribut besar, gara-gara kamu! Dan dia coba menghubungi kamu untuk menyelesaikan semua, tapi handphone kamu malah mati semua.”
“Terus?”
“Ya kamu ceritain sama aku sekarang, ada apa kamu sama Vani? Kita emang belum begitu lama kenal, tapi Vani itu sahabat aku dari SMP, Rud. Dan aku tau kamu sempat satu kampus dengan Vani, sampai akhirnya dia lulus duluan dan kamu gak lulus-lulus. Nah, sekarang kenapa kamu jadi kurang ajar seperti ini?”
“Ris, oke aku ceritain semuanya. kamu jangan ngegas terus.”
“Oke..oke..”
“Gini, ada hal yang kamu gak tau tentang aku dan Vani. Kami memang sengaja menutup hal ini rapat-rapat. Aku gak cerita ke siapa-siapa, dia juga. Bahkan ternyata sama kamu dia juga gak cerita, padahal kamu sahabatnya. Aku sama Vani memang pernah saling suka, dulu saat semester pertama kita kuliah. Dari jaman Ospek. Aku suka mata bagusnya. Aku suka cara dia ngomong, pintar.”
“Tapi waktu itu dia udah pacaran sama Bram, kan? Mereka pacaran sejak SMA.”
“Aku tau. Tapi emangnya kita bisa melawan suara hati? Aku juga gak ngerti. Emang kita pernah bisa meminta pada hati, kepada siapa kita ingin jatuh cinta? Semua terjadi begitu aja. Dulu juga aku sebenarnya jarang pergi sama dia, paling ketemu di kampus, di kantin, gak pernah kemana-mana. Aku menikmati semua yang dibatasin itu. Hubungan aku dan dia, yang terbatas, karena dia sudah ada Bram. Dan Vani, aku yakin dia juga menikmati. Dari matanya aku tau. Matanya terlalu indah untuk bisa menyembunyikan kebohongan. Hubungan aku dan dia gak kemana-mana. Ketika dia lulus cepet, kami sudah hilang kontak. Aku juga terlalu sibuk dengan kegiatan di luar kampus.”
“Bram tau tentang kedekatan kalian?”
“Iya, Bram tau. Vani sering cerita tentang aku ke dia. Bram itu tidak bodoh Ris, dia tau sebenarnya Vani cinta sama aku, tapi dia terlalu sayang dengan Vani, dia tidak akan pernah bisa marah sama Vani.”
“Tapi kenapa Vani tidak putus aja dengan Bram, lalu pacaran sama kamu?”
“Nah, pernah Ris, saat masih kuliah, aku minta Vani untuk memilih, aku atau Bram. Dan Vani dengan tegas memilih Bram. Dia menolak aku. Dia gak tega untuk mutusin Bram yang sudah sangat-sangat-sangat baik.”
“Sejak itu kalian jadi renggang?”
“Tidak sama sekali. Malah, perasaan aku dan dia jadi semakin dalam. Kami mulai jauh setelah dia lulus kuliah, dan dia kerja di Surabaya, menyusul Bram.”
“Iya, aku ingat, Vani pernah bilang dia akan kerja di Surabaya.”
“Kamu tau Ris, saat dia akan pergi, aku minta tiga hal ke Vani.”
“Apa itu?”
“Satu, tolong doain aku cepat lulus kuliah. Dua, kabarin kalau kamu ingin menikah dengan Bram. Dan tiga, tolong kabarin kalau kamu punya anak.”
“You know Rud, permintaan kamu itu, malah membuat Vani semakin tidak bisa melupakan kamu. Dia menemukan hal yang tidak ada pada Bram, di kamu. Bram adalah a real nice boy, sementara kamu adalah a bad boy. Kalau dalam film Legends of the fall, Bram adalah Samuel yang well educated, lulusan Harvard. Dan kamu adalah Tristan, si liar yang mempesona.”
“How did I know Ris, kalau ternyata ikatan batin antara aku dan Vani ternyata lebih kuat dari yang kami duga. Berkali-kali aku pacaran dengan yang lain, tapi somehow aku tetap bisa merasa bahwa Vani masih kangen sama aku. I can feel it!”
“Kasian Bram…”
“Sebenarnya aku dan dia tidak pernah kontak lagi, di acara alumnus kampus juga, aku tidak pernah mendengar nama dia. Sampai beberapa minggu lalu, Arif nelpon aku, dan bilang Vani nanya pin BBM aku. Aku gak pernah nyari dia, Ris. Dia yang nyari aku.”
“Iya, Vani cerita sama aku juga seperti itu. Dia ngaku bahwa dia yang nyari kamu duluan.”
“Nah, berawal dari situ, kami berhubungan. Lalu dia sering nelpon aku. Dan ternyata aku tau, Bram sekarang tugas di luar kota. Hanya pulang ke Surabaya itu sebulan sekali.”
“Dia tau kamu pacaran sama Tasya?”
“Tau kok, aku cerita semua. Bahkan rencana aku dan Tasya untuk menikah tahun depan juga dia tau.”
“Lalu kenapa dia sampai sebegitunya dengan kamu??”
“Ya, aku salah Ris, kami salah. Kami mengenang cerita dulu-dulu itu terlalu dalam. Semua yang indah-indah kami kenang. Dan berhayal, seandainya tidak ada Bram, seandainya aku lulus cepat, seandainya dia tidak memilih Bram. Kami terlalu dalam dan terlalu jauh membiarkan hati kami berjalan melintasi forbidden area.”
“Rud, hal itu membutakan Vani. Dia menganggap semua itu sangat serius. Dan Bram mengetahui perubahan Vani, she’s so happy, over happy malahan. Satu-satunya orang yang bisa membuat Vani seperti itu cuma kamu, Bram paham banget tentang istrinya.”
“Ya, itu yang aku tidak sadari. Padahal aku tidak bermaksud untuk mengajak lebih jauh, tidak lebih dari hanya sekedar mengenang masa lalu.”
“Empat hari lalu, akhirnya Bram meminta kejelasan dari Vani, tanpa basa-basi Bram langsung menyebut nama kamu. Vani mengakui apa adanya, menceritakan semuanya. Mereka ribut besar. Mmmmmm… sebenarnya bukan ribut dalam artian berantem, atau marah-marahan, Bram tidak akan pernah bisa marah sama Vani. Tapi akhirnya dia minta Vani untuk memilih, kamu atau dia. Bram akan dengan ikhlas berpisah, asal kamu mau menikahi Vani.”
“Hah??? Gila, aku gak akan sejauh itu!! Aku punya Tasya, Ris.”
“Vani saat itu benar-benar bingung, aku sudah ceritakan dan ingatkan tentang Tasya. Dia tidak ingin pisah dengan Bram, tapi dia tidak bisa munafik bahwa dia cinta sama kamu. Dia nangis-nangis. Coba nelpon kamu, tapi tidak aktif.”
“Emang kenapa dia nelpon aku? Kan dia lagi ribut sama Bram?”
“Iya, dia ingin meminta kepastian dari kamu. Karena Bram benar-benar ingin dengar kamu seperti apa dengan Vani. Akhirnya dia memutuskan untuk memilih Bram, sekali lagi.”
“Baguslah, memang seperti itu seharusnya.”
“Tapi ini belum selesai, Rud. Masih ada yang mengganjal di hati Vani selama kamu tidak memberikan kejelasan apa-apa. Kamu hubungi dia, telpon. Tolong jelaskan bahwa kamu tidak bermaksud untuk mengajak dia untuk berhubungan serius. Please hargai dia, hargai Bram, hargai rumah tangga mereka.”
“Ya, sebenarnya selama liburan dengan Tasya kemaren, aku juga berpikir tentang hal ini, bahwa sepulangnya aku ke Indonesia, aku ingin menuntaskan, apapun itu yang bisa disebut namanya tentang hubungan aku dengan Vani. Makanya handphone aku mati total. Bukan untuk menghindar. Entahlah, somehow aku merasa harus mematikan handphone waktu itu. Dan ternyata memang ada kejadian di sini.”
“Whatever, Rud. Pokoknya sekarang aku ingin kamu selesaikan masalah kamu dengan Vani. Titik.”
“Baik.”

***
“Hallo, Rud, udah lama? Sorry, meeting aku agak molor tadi.”
“Hai, Ris. Iya, lumayan lah, setengah jam, gak apa-apa kok. Asal jangan satu jam aja. Hehehehe..”
“Aku sibuk banget hari ini. Oke, to the point aja, gimana, kamu udah hubungin Vani?”
“Udah, ternyata BBM aku udah dihapus sama dia. Aku coba telpon, tapi gak diangkat-angkat. Alternatif terakhir ya aku kirim email aja. Malahan bisa lebih bebas bercerita, kan?”
“Apa isi email kamu?”
“Begini…

Hallo Vani,

Apa kabar? Aku coba telp kamu tapi tidak diangkat. Gak apa-apa, mungkin kamu lagi sibuk.
Van, aku minta maap, beberapa hari lalu semua handphone aku mati total, sengaja aku matiin. Mungkin saja kamu ada coba hubungi. Aku pergi dengan Tasya, ya memang sengaja gak bilang sama kamu sebelumnya.
Van, selama empat hari itu adalah empat hari yang sangat luar biasa dalam hidup aku. Empat hari kami bersama, jauh dari orang-orang yang kami kenal. Cuma ada aku, cuma ada Tasya. Akhirnya aku menemukan bahwa sesungguhnya pada hati Tasya lah rumah ku untuk pulang. Bertahun-tahun aku merasa sebagai pengembara yang tidak bisa pulang karena tidak memiliki rumah. Dan sekarang, rumah itu ada, di dalam diri Tasya. Ke situlah aku akan selalu pulang.
Maap, Van. Aku harus mengungkapkan hal ini sejujur-jujurnya.
Tentang kita, kita harus sadari. Bahwa tidak pernah ada cerita tentang kita. Semua cerita kita hanyalah hayalan, keinginan, impian masa lalu yang sesungguhnya tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Hayalan itu memang selalu indah. Namun..
Seindah apapun cerita kita, sekarang harus kita akui, itu adalah impian masa lalu. Bahkan di masa lalu pun, pada kenyataannya kita tidak pernah bersama sebagai sepasang kekasih. Kita hanyalah sepasang teman yang memiliki rasa saling suka. Rasa saling suka yang tidak seharusnya kita pupuk untuk menjadi besar.
Sudah saatnya kita meninggalkan ransel di pundak kita yang berisi kenangan, karena hal itu hanya akan memberatkan langkah kita ke depan.
Perasaan kita adalah masa lalu. Dan sekarang kamu adalah milik Bram. Sementara masa depan aku adalah Tasya. Ya begitulah Van, apa yang digariskkan untuk kita.

Mulai saat ini, jangan pernah tersenyum karena aku lagi. Tapi tersenyumlah karena Bram.

Sampaikan salam dan maap aku yang sebesar-besarnya untuk Bram, suami kamu.

Salam,
Rudy

***

 

 

-foto diambil dari http://momgeekedition.blogspot.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: