Warteg Ibu Saeni, Nawaitu Empati

Bulan puasa tahun 2016 ini Indonesia terpecah dengan agenda utama polemik razia warteg Ibu Saeni di Serang. Saya juga benar-benar kaget lho ternyata hal yang terjadi setiap tahun itu, razia tempat makan di bulan puasa, bom waktunya meledak tahun ini.

Saya orang yang berprinsip bahwa puasa adalah urusan saya dengan Tuhan saya, tidak ada urusannya dengan orang lain, mereka yang makan, minum, merokok di depan saya sekalipun. Insya Allah saya tidak tergoda. Bagi saya itu godaan yang receh. Justru saya menikmati godaan itu dan merasakan puasnya kemenangan di sore hari saat waktu berbuka tiba.

Jadi kalau misalnya pada suatu saat iman saya lagi melemah lalu membatalkan puasa, saya juga berprinsip ini urusan saya dengan Tuhan, enggak ada hubungannya dengan makanan dan minuman yang ada di depan saya. Saya yang berniat puasa maka saya juga yang berniat membatalkan. Orang lain mah enggak ada urusan. Yo ra?

 

Kitten placing paw on other kitten

Empathy ~ huffpost.com

 

Razia warteg Ibu Saeni di Serang, yang walaupun aktifitas berjualannya itu melanggar Perda, telah mendapat simpati banyak orang. Dan saya termasuk yang bersimpati. Pelanggaran yang dia lakukan rasanya tidak layak diganjar dengan penyitaan barang jualannya dan tingkah intimidatif dari petugas Satpol PP yang melakukan penertiban.

Di sini mulai terjadi pro dan kontra antara mereka yang bersimpati ke Ibu Saeni dan mereka yang menyalahkan karena adanya pelanggaran Perda.

Saya menganalogikannya seperti ini, Polisi Lalu Lintas setiap hari menjaga peraturan berlalu lintas. Adakalanya mereka melakukan operasi penertiban. Sama seperti Satpol PP yang menertibkan pelanggaran Perda tersebut, ya kan? Lalu pada saat operasi dan Polantas menemukan pelanggaran lalu lintas, apakah dia dibenarkan melakukan tindakan kasar terhadap pelanggar? Tentu sangat tidak dibolehkan. Ada aturan yang mengatur seperti apa SOPnya. Beberapa kali terjadi peristiwa di mana Polantas khilaf dan berlaku kasar akhirnya menjadi cacian para netizen.

Apa bedanya dengan kasus warteg Ibu Saeni? Yang saya soroti adalah tindakan berlebihan dari para petugas Satpol PP. Itu saja poin saya.

Lalu pada saat operasi dan Polantas menemukan pelanggaran lalu lintas, apakah dia dibenarkan melakukan tindakan kasar terhadap pelanggar? Tentu sangat tidak dibolehkan.

Beberapa jam setelah kasus Ibu Saeni tayang di televisi, langsung ada gerakan spontan yang ingin membantu, gerakan ini digagas oleh Dwika Putra, Alexander Thian, Yogi Natasukma, dan Jenny Jusuf. Mereka adalah orang-orang yang memiliki influens tinggi di medial sosial.

Alex tersentuh melihat tangisan Ibu Saeni. Dwika ikut merasakan karena maminya juga berjualan makanan, bagaimana kalau itu terjadi sama mami, itu yang dirasakan oleh Dwika. Jenny dan Yogi juga ikut berempati. Singkat cerita, spontanitas mereka untuk membantu itu menjadi sangat-sangat viral. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka berempat. Dalam waktu kurang lebih 3 hari, uang terkumpul 200juta lebih. WOW! Big WOW!

Alex menceritakan perasaannya di Facebook,  dalam link ini

Lagi-lagi, pro kontra masih berlanjut. Mereka yang mendukung gerakan donasi dan mereka yang mencemooh. Kalau kalian sempat melihat ke kolom komentar, timeline, dan lain-lain, kalian akan tahu betapa sadisnya perkataan yang ditujukan kepada 4 orang ini. Saya ulangi sekali lagi, sadis nyinyirnya. Belum lagi fitnahan yang entah dapat dari mana idenya. Kalau saya yang mengalami,  enggak yakin bisa tahan dengan semua kalimat cacian itu. Untungnya mereka berempat adalah orang yang udah teruji mentalnya di sosial media.

Ada satu cacian lucu yang diterima oleh Yogi, di mana dia disebut melubangi dunia. WHATTTT APA INI ARTINYA??

Terus terang awalnya saya hampir sempat terbawa emosi membaca satu komentar dari seseorang yang mengenakan jilbab. Saya sengaja menekankan kalimat “mengenakan jilbab” di sini, karena bagi saya pada saat seseorang perempuan memutuskan mengenakan jilbab, maka dia tidak hanya berjilbab secara jasmani, tetapi juga berjilbab secara rohani, lebih pintar menjaga sifat dan perkataannya, sehingga jilbab itu tidak hanya sekedar mode berpakaian. Kalau misalnya saat itu kekesalan saya langsung dituliskan di blog  atau di timeline sosial media, pasti yang keluar adalah kata-kata kasar.

Beruntung, sekali lagi, saya puasa, saya diharuskan untuk menahan emosi lebih kuat. Mungkin dengan godaan makanan dan minuman adalah receh bagi saya, kali ini datang godaan yang bukan receh. Hehehe.

Dan lebih beruntung lagi, ada komentar dari Kang Motulz yang menyejukkan hati saya. Katanya, “Kalau di Islam.. niat itu disebut nawaitu. Mau bantu? mau kritik? mau nyinyir? mau nuduh? mau fitnah? Percuma didebatkan.. gak akan ketemu ujungnya karena semua kembali ke nawaitu-nya.. ”

Saya langsung DHEG! Iya ya, buat apa saya menjadi emosi? Nawaitu itu adanya di lubuk hati. Nawaitu saya adalah berempati kepada Ibu Saeni. Ternyata ada orang yang bernawaitu lain, ya sudah biarkan saja itu menjadi urusan dia dengan Tuhannya.

Nawaitu, niat, itu hati yang bicara. Yang tahu hanya pemilik hati dan malaikat pencatat amal baik/buruk, tidak ada yang lain.  Ada yang berbuat baik tetapi nawaitunya untuk nyari ketenaran. Ada. Atau ada yang menjadi teman dekat tapi dalam hati nawaitunya untuk jadi TTM dan bobok-bobok tanpa status. Ada.

Nawaitu yang bersih datang dari hati yang bersih. Semoga hati kita selalu bersih.

“Kalau di Islam.. niat itu disebut nawaitu. Mau bantu? mau kritik? mau nyinyir? mau nuduh? mau fitnah? Percuma didebatkan.. gak akan ketemu ujungnya karena semua kembali ke nawaitu-nya.. “

 



 

Leave a Reply

%d bloggers like this: