Wah, Maaf, Saya Anti “Budaya Timur”

Pengkotak-kotakkan Timur dan Barat itu dimulai ketika manusia semakin agresif berdagang, mengenal arah mata angin melalui bintang dan matahari, lalu menyadari bahwa bumi tidak hanya seluas tempat mereka berpijak. Orang-orang yang tinggal Eropa banyak melakukan ekspansi ke arah timur tempat mereka tinggal, dan menemukan sebuah dunia baru, Asia. Jadi mereka menyebut pergi ke Asia adalah pergi ke timur. Sementara kebalikannya, orang Asia akan menyebut pergi ke Eropa adalah pergi ke barat, karena memang kebalikannya. Sehingga sampai saat ini orang Eropa identik dengan orang Barat dan orang Asia indentik dengan orang Timur.

Budaya sendiri memiliki definisi sebuah adat istiadat, perilaku, pola pikir, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dalam satu masyarakat dan sulit untuk dirubah.

Kalau memang budaya itu sulit untuk dirubah, apakah ia bisa bertambah? Bisa banget! Budaya ngopi sudah ada sejak jaman entah, tidak hilang. Tetapi budaya ngopi jaman sekarang bertambah dengan budaya ngopi sambil main gadget. Sudah sangat lazim bagi waitress yang bekerja di kedai kopi mendapat pertanyaan, “wifinya apa ya?”

Itulah budaya sekarang.

 

 

Peta Nusantara

Asia itu luas, luas sekali. Jangankan Asia, Indonesia aja luasnya luarbiasa. Ratusan suku dan ribuan mungkin jutaan perbedaan budaya.

Justru yang saya heran, dengan kekayaan budaya yang luarbiasa itu, banyak orang yang menyempitkan dengan istilah “budaya Timur”. Terus terang saya tidak bisa menerima saat ada yang berkata, “Ah itu tidak sesuai dengan budaya kita, budaya Timur.” Terlebih biasanya hal tersebut disebutkan untuk mengomentari hal yang bernada porno, seks bebas, bikini, mabuk-mabukkan, ketidaksopanan, dan hal-hal yang dianggap negatif lainnya. Seolah-olah yang jelek-jelek berasal dari Barat, sementara yang di Timur itu lebih suci. Pret!

Dulu sekali dalam kontes pemilihan ratu kecantikan tingkat dunia, di mana pada salah satu sesi para peserta harus mengenakan bikini. Peserta dari Indonesia yang berangkat diam-diam, juga mengenakan bikini pada sesi itu. Lalu hebohlah seluruh negeri dari Sabang sampai Merauke ini, semua menghujat demi etika kesopanan budaya Timur.

Di situlah saya bingung dan eneg, memang mereka yang menghujat itu mewakili budaya Timur yang mana? Kalau memang berpakaian terbuka alias bikini itu tidak sesuai dengan budaya Timur, mari kita lihat seperti apa di Dayak? Papua? Bahkan di Bali sampai tahun 40an masih banyak perempuan yang bertelanjang dada, payudaranya ke mana-mana. Risih? Ya enggak, seperti itu budaya mereka, kok.

Gak percaya? Search aja di Google image dengan keyword perempuan Bali tempo dulu.

Apakah mereka yang hidup jaman itu berpikir perempuan tanpa pakaian itu porno? Ya enggak toh? Atau kita mau beranggapan bahwa mereka itu bukan orang Timur? Matamu pitulas.

Lalu budaya seks pra nikah apakah itu bukan budaya Timur? Beuh jangan salah, bray. Seks pranikah itu sudah ada sejak jaman kerajaan, sebelum “orang Barat” datang ke tanah Nusantara. Dalam bukunya Di Pedalaman Borneo, Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda, 1894, Anton W. Nieuwenhuis menulis bahwa pemuda dan pemudi Dayak  yang kasmaran akan menggunakan sampan, lalu menyepi di pinggir sungai di tengah hutan untuk memadukasih. Di dalam buku itu juga banyak foto-foto perempuan Dayak tanpa baju. Porno? Ya enggak.

Di Jawa, raja-raja yang memerintah terkenal memiliki banyak istri atau selir. Selain itu raja tersebut bisa juga memiliki perempuan di luar istri dan selir tadi, yang disebut dengan istilah gundik. Budaya satu suami dengan banyak perempuan ini tidak hanya menjadi hak raja seorang, tetapi juga biasanya dilakukan oleh saudagar dan kaum pedagang musiman yang datang dari negeri seberang.

Lalu kalau ini terjadi di banyak tempat di Indonesia, menjadi satu kebiasaan yang sulit untuk dirubah, bagaimana mungkin hal ini tidak bisa disebut sebagai budaya?

Kita tidak bisa bilang ini budaya impor, karena terjadi dengan sendirinya sebelum orang Barat datang. Bahkan kalau mau tau… rrr ralat, sebenarnya banyak yang tau tapi malas untuk mengakui, budaya datang ke Indonesia, menikahi perempuan lokal, punya anak, lalu pergi begitu saja, itu banyak dilakukan orang Arab di daerah Puncak, Bogor. Soal perempuan, saya rasa orang Indonesia lebih menghargai perempuan kalau dibanding dengan cara orang Arab. Padahal sama-sama disebut orang Timur, toh?

Kenalan saya, orang Korea, bercerita kalo orang Korea bagusnya diliat di film aja, tapi jangan ambil suami orang Korea, karena budaya mereka memperlakuan istri seperti pembantu. Ini saya diceritain oleh orang Korea langsung lho ya.

Di luar itu, kita orang Indonesia terkenal memiliki budaya sulit antri. Sepertinya antri itu adalah bagian hidup yang hina dina, layak tinggal di lembah nista. Gak usah saya ceritakan contohnya, kalian lihat aja di sekeliling, setiap hari, mana tuh antrian yang bisa rapi? Sementara orang Timur lainnya di Jepang, budaya antri itu sungguh rapi, bahkan di saat kritispun masih bisa rapi.

Kebalikannya di Jepang, seks dan esek-esek malah lebih ancur. Ancur yang terukur. Ah embuhlah, saya bingung menjelaskannya. Yang jelas seks di sana sudah menjadi industri yang dilegalkan.

Bagaimana dengan kebiasaan mabuk-mabukkan? Halah. Gak orang Timur gak orang Barat, sama aja. Di Eropa ada whisky, beer, atau wine. Di Arab ada khamar,  Jepang punya sake, dan di Indonesia ada tuak, ciu, atau lapen. Semuanya minuman tradisional beralkohol yang eksis sampai sekarang.

Itulah makanya saya eneg kalo ada yang bilang “itu kan tidak sesuai dengan budaya Timur!” Biasanya itu cuma ucapan berkedok egoisme buta. Cukuplah menilai sesuatu itu dengan moral dan kepantasan. Gak usah bawa-bawa budaya Timur, seolah-olah lebih baik.

You know, merasa lebih baik dan lebih mulia itu akar dari pada kesombongan.

Lagian batasan budaya Timur itu gak jelas, toh?

 

 

4 Responses to “Wah, Maaf, Saya Anti “Budaya Timur”

  • Hahaha, memang ya Om, budaya selektif sesuai selera ini kadang bikin mikir “yaelaaaah, budaya mana sih yang lu omongin bray?”
    Nice point Om! 🙂

  • Menohok ya bang. Tapi sayang nya banyak orang yang mengklaim dirinya menjadi perwakilan satu komunitas masyarakat, padahal masyarakat itu sendiri tak mengakuinya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: