Tukang Sayur Tercinta

Saya adalah seorang suami yang kadang jauh dari istri. Nah, saat istri lagi tidak di tempat, berarti saya harus mengurusi rumah sendirian: memasak, bersih-bersih, menyuci, dan tentu saja itu saya lakukan di sela-sela waktu tugas utama seorang kepala rumah tangga yaitu mendatangkan uang dan rezeki lainnya.

Pengalaman saya bertahun-tahun sebagai anak kos yang hidup sendiri memang ampuh untuk menempa saya menjadi seorang yang mandiri. Tetapi, ada satu hal yang terlewat dan tidak diajarkan ketika saya menjadi anak kost, yaitu memasak dan segala urusan dapur. YHA. Dulu saya selalu membeli makanan di luar. Yang paling maksimum saya lakukan adalah memasak mie instan, ditambah telor, ditambah potongan cabe rawit. Di makan sore-sore atau pada jam darurat menjelang tengah malam. Okey, silahkan kalian bayangkan nikmatnya, sekarang!

Di rumah sendiri, di mana dapur dan segala peralatannya dengan manis tersedia, tentu akan sangat mubazir apabila saya tetap membeli makanan di luar. Mau tidak mau saya harus bisa memasak sendiri. Bagaimana caranya? Pada siapa saya bisa belajar?

Sebenarnya memasak itu gampang, cara dan resepnya bisa ditemui di internet, melalui youtube, atau kalau mau lebih rapi, bisa membeli buku-buku resep masakan yang banyak tersedia di tokok buku. Tinggal pilih, masakan tradisional, internasional, western, chinese, terserah selera. Kalau saya sih lebih suka resep-resep yang tradisional ala emak saja.

Ternyata, satu hal yang agak membuat repot keinginan memasak sendiri di rumah adalah, keharusan untuk membeli bahan-bahannya. Lah iya, bagaimana kita memasak tanpa bahan? Ini yang lebih seru ternyata. Kita harus bisa mengatur bahan mana yang cepat busuk dan mana yang bisa tahan lama. Tempat membeli pun, akhirnya saya menjadi ala emak-emak yang rajin membandingkan mana tempat lebih murah mana lebih mahal.

pasar-cibinong

Situasi di pasar Cibinong

Satu keputusan saya adalah, tidak pernah membeli bahan di hypermarket, tetapi lebih memilih untuk membeli di pasar tradisional. Karena perbedaan harga yang Bandung Bondowoso, jauh banget. Harga di hypermarket berkali-kali lipat mahalnya dibanding harga di pasar tradisional. Yang menjadi nilai plus di hypermarket adalah, uang kembalian tidak lecek dan bau amis.

Tetapi, ada satu permasalahan lagi yang muncul mengenai pasar tradisional. Dengan kesibukan mendatangkan uang, saya tidak mungkin setiap hari ke pasar. Apalagi harus pagi hari agar sayur atau daging masih lumayan segar.

Untunglah, permasalahan itu terpecahkan dengan adanya Tukang Sayur Tercinta yang mangkal setiap hari di komplek perumahan saya tinggal. Kang sayur itu sudah hadir dari jam 2 pagi! Dari rumah saya cuma berjarak sekitar 100 meter, ya pas banget ditempuh sambil jalan kaki. Sudah diduga, Kang Sayur ini menjadi idola para ibu dan asistennya. Karena mangkalnya tidak jauh dari mesjid komplek, terkadang bapak-bapak yang pulang dari sholat subuh juga mampir untuk beli sayur. Hebatnya, Kang Sayur ini sudah menerapkan system “online”, alias pesanan lewat handphone. Jadi biasanya para ibu sudah memesan terlebih dahulu apa bahan yang diinginkan, lalu Kang Sayur akan membelikan dari pasar, atau menyiapkan bahan yang sudah ada dibungkus di kantong plastik, tertulis “pesanan”. Jangan coba-coba mengambil kantong itu kalau tidak ingin berurusan dengan ibu-ibu.

DSC_9424

Pelayanan Kang Sayur sungguh efektif, biasanya menjelang jam 8 barang dagangannya sudah habis, lalu dia bersih-bersih dan pulang. Apa saja yang dijual? Banyak macam, berbagai jenis ikan, sayur bayam, daun singkong, kangkung, bahan membuat sayur sop, sayur asem, bawang, cabe-cabean (?), dan lain sebagainya.

Sayangnya, kuantitas dari setiap jenis bahan tersebut biasanya terbatas, karena Kang Sayur ini hanya mengandalkan sebuah sepeda motor yang sudah dimodifikasi untuk menaruh dagangan. Seandainya dia bisa memperbesar kendaraannya dengan membeli motor roda tiga yang spesial untuk mengangkut barang, saya yakin dia bisa menjual lebih banyak lagi. Dan tentu setelah tidak ada pembeli di tempat mangkalnya, dia bisa berkeliling komplek menghampiri pembeli yang mungkin tidak bisa keluar rumah karena terlalu sibuk.

DSC_9423

Saya berharap, lembaga keuangan seperti bank dapat mencapai pedagang kecil seperti Kang Sayur ini, agar mereka dapat lebih berkembang. Karena akan sangat disayangkan apabila potensi besar seperti mereka akhirnya malah dimanfaatkan oleh para rentenir yang masih banyak tersebar, apalagi di sekitar pasar tradisional tempat Kang Sayur membeli bahan. Saya yakin, Kang Sayur juga pasti memiliki impian masa depan 5 tahun atau 10 tahun akan datang, tidak hanya berjualan dari jam 2 subuh sampai jam 8 pagi setiap hari. Dan saya yakin, tidak hanya saya yang terbantukan dengan berkembangnya usaha para Kang Sayur ini, tetapi yang pasti adalah para ibu-ibu, yang menjadi penjaga gawang rumah tangga kita.

Eh, beneran lho, pada suatu dini hari, saya pulang lembur jam 2 pagi, terkaget-kaget ngeliat Kang Sayur ini sudah sibuk menyiapkan dagangannya. Ternyata membeli bahan sayuran di pasar itu lebih enak setelah jam 10 malam, alasannya sayuran masih segar baru datang dari daerah penyuplai.

Beberapa kali saya lewat Pasar Tradisional Kramat Jati, kegiatan berdagang memang lebih seru antara jam 10 sampai jam 2 an, setelah itu mulai sepi karena sudah mulai habis.

Hmmm, baiklah, next time saya akan berpetualang di Pasar Tradisional Kramat Jati, dan akan saya ceritakan kepada kalian.

 

 

 

 

8 Responses to “Tukang Sayur Tercinta

Leave a Reply

%d bloggers like this: