Trilogy Jejak Mahakarya 2016: Eat

Jejak Mahakarya, adalah sebuah gerakan, sebuah inisiasi, yang digagas oleh PT HM Sampoerna untuk menggali dan mengenal lebih jauh seperti apa warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Gerakan ini berlangsung setiap tahun sejak 2011 dengan wacana atau sasaran yang berbeda setiap tahunnya. Misalnya tahun 2015 lalu gerakan Jejak Mahakarya mencoba mengeksplorasi kebudayaan Papua, maka tahun 2016 ini saya yang Alhamdulillah dipilih untuk ikut bergabung bersama 18 orang lainnya diberi arahan dan kesempatan untuk mengenal budaya Bali secara lebih mendalam.

Kenapa Bali? Adalah pertanyaan yang sering dilontarkan begitu menyebut tahun ini tujuannya adalah Bali. Karena Bali adalah salah satu daerah yang kebudayaan tradisionalnya masih sangat kuat mengakar dari jaman dahulu sampai sekarang di tengah-tengah serbuan modernisasi jaman dan pengaruh wisatawan yang jumlahnya jutaan kunjungan setiap tahun. Tiga hal yang membuat masyarakat Bali bisa tetap bertahan karena mereka memiliki tiga pilar kehidupan yang masih dijunjung tinggi, yaitu menjaga harmonisasi hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.

Harmoni, Harmonis. Ketika tiga pilar kehidupan di atas bisa terjaga tanpa dipaksa, maka disitulah manusia akan menjadi manusia sesungguhnya sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia.


Klik di sini untuk tulisan sebelumnya: Prologue Jejak Mahakarya 2016: Eat, Pray, Love


Ada dua cara paling asyik untuk menikmati Bali; melalui gemerlap lampu dan tawa ceria nightlifenya atau memilih untuk back to nature. Kami, tentu saja melakukan hal yang ke dua. Selama 5 hari perjalanan mengelilingi banyak tempat di pulau Bali, amat sangat banyak hal yang ingin saya ceritakan, yang membuat saya kebingunan sendiri  bagaimana cara menyampaikannya kepada kalian? Di tengah kebingunan itu tiba-tiba saya teringat sebuah film yang diperankan oleh Julia Roberts, Eat Pray Love, sebuah cerita yang diangkat dari novel kisah nyata Elizabeth Gilbert tentang perjalanan hidupnya “menjadi manusia lagi”. Film itu mengambil tiga tempat yaitu Italia (eat),  India (pray), dan Indonesia (love).

Eat, Pray, Love, adalah tiga hal yang secara tidak langsung bisa mewakili tiga pilar keharmonian masyarakat Bali; hubungan antara manusia dengan alam (eat), manusia dengan Sang Pencipta (pray), dan manusia dengan manusia (love).

Jadi kegiatan lima hari Jejak Mahakarya di Bali itu saya rangkum dalam trilogy Eat, Pray, Love. Here we go!

Eat

Jejak Mahakarya

Mungkin kalian sudah terlalu sering mendengar kalimat ini: Indonesia itu kaya. Kaya akan aneka makanan khas, jadi nikmatilah! Kata kuncinya “nikmatilah!” Kaya akan budaya, aneka makanan, dan keindahan itu perlu satu kata kunci, nikmatilah! Semua kekayaan itu tidak memberikan arti apa-apa tanpa kita nikmati.

Salah satu hal yang paling menarik minat saya begitu menerima itinerary selama lima hari di Bali adalah Cooking Class! Kami akan diajari pengetahuan tentang memasak dan membuat makanan ala orang Bali. Agenda yang rencananya dilakukan di Rumah Desa, sebuah tempat di daerah Marga, Tabanan.

Rumah Desa

Rumah Desa merupakan sebuah tempat wisata dengan nuansa back to nature yang diprakarsai oleh Wayan Sudiantara. Awal mula berdirinya Rumah Desa ini didasarkan pada kekuatiran yang dirasakan oleh Pak Wayan karena banyaknya pemuda-pemuda Bali yang pergi ke kota untuk mencari kerja. Mereka meninggalkan desa, menghampiri para wisatawan untuk menjadi tour guide, atau pekerjaan lain di kota. Pak Wayan melihat bahwa desa memiliki sebuah potensi wisata yang luar biasa, sehingga dia membangun Rumah Desa agar masyarakat mengubah pola lama mendatangi wisatawan menjadi pola di mana wisatawan yang mendatangi mereka.

“Don’t just go to Bali for holiday,  but go for a real experience – explore the real Bali by making original Balinese cuisine such as cakes, coffee, coconut oil, brown sugar, rice wine, spice pastes, and more through our Balinese cooking class”. Kalimat ini beberapa kali ditekankan oleh Pak Wayan sebagai ungkapan dari misi Rumah Desa.

Rumah Desa memiliki bentuk rumah adat yang didesain sesuai dengan arsitektur kearifan lokal orang Bali (Asta Kosala Kosali) dan sekarang digunakan sebagai restauran. Menurut Pak Wayan, bentuk asli seperti ini tidak akan dapat ditemukan di hotel-hotel ataupun tourist restaurant lainnya. Area Rumah Desa ini ternyata lumayan luas dan memiliki sekitar 39 rumah keluarga.

 

rumah desa

Feel the real experience of Bali. Rumah Desa at Banjar Baru, Desa Baru, Marga, Tabanan.

jejak mahakarya

Pak Wayan menjelaskan dengan runtut dan detail mengenai budaya Bali kepada tim Jejak Mahakarya

kalender bali

Budaya Bali ternyata memiliki beberapa perhitungan kalender tersendiri yang berbeda dengan kalender Masehi. Bahkan ada kalender yang memiliki perhitungan sampai 20 abad!

rumah desa

Turis mancanegara mendengarkan penjelasan mengenai aksara Bali dan diberikan kalung dari daun lontar yang bertuliskan nama mereka dalam hurup sangsekerta.

rumah desa

Ingin menikmati the real experience of Bali? Rumah Desa menyediakan penginapan yang membuat kita menyatu dengan alam Bali.

Pak Wayan dengan sabar menjawab semua pertanyaan dari tim Jejak Mahakarya, bahkan saking banyaknya pertanyaan karena keingintahuan kami yang tidak pernah habis, waktu kunjungan menjadi molor semolor-molornya, padahal kami belum memulai cooking class.


Info tentang Rumah Desa bisa diklik di www.rumahdesa.com


Indonesia memiliki ratusan ribu resep kuliner. Hebatnya resep itu tercipta dengan jenis rempah-rempah yang kurang lebih sama macamnya di sepanjang tanah nusantara ini. Resep masakan Bali ternyata menggunakan campuran rempah-rempah dan bumbu yang beraneka ragam sehingga menghasilkan sebuah rasa yang berani.

Kami menyiapkan beberapa jenis masakan untuk makan siang: Tum Ayam, Sate Bumbu Bali, Sate Lilit, dan tentu saja  Sambal Matah yang menggunakan daun Kecombrang. Ternyata ya, penggunaan aneka ragam bumbu tersebut juga tidak lepas dari filosofi kehidupan masyarakat Bali, luar biasa!

Kamu tau apa yang paling menyenangkan sekaligus paling melelahkan dari proses penyiapan makanan itu? Mengulek semua bumbu-bumbu itu menjadi halus. Apabila biasanya di rumah kita hanya mengulek dalam cobek yang kecil, maka kali ini kami mengulek dalam cobek yang wah duh besarnya. 5 menit, 10 menit, 15 menit, kok tumpukan bawang putih, jahe, kunyit, dan lain-lain masih belum halus ya? Sementara lengan sudah berasa pegal. Di tengah keresahan itu untung ada masterchef dari Rumah Desa yang sigap membantu kami mengulek.

Selesai menghaluskan semua bumbu, sekarang kami mengolahnya dalam adonan yang masing-masing bercampur daging ayam, daging sapi dan daging ikan. Membuat adonan ini, walaupun hanya menggunakan tangan, ternyata tidak bisa sembarangan. Ada teknik-teknik tertentu agar bumbu dan daging menyatu sempurna.

Tahapan ketiga adalah membentuk adonan tadi menjadi bahan makanan yang siap dimasak atau dibakar: sate bumbu Bali, sate lilit, dan tum ayam. Di antara tiga menu itu, menyiapkan sate lilit adalah yang sedikit lebih susah, karena kami belum terbiasa. Dinamakan sate lilit karena daging dibentuk sedemikan rupa sehingga bentuknya menyerupai daging yang dililit oleh tali.

Proses terakhir yaitu pembakaran, kami tidak melakukannya sendiri, sudah ada ibu-ibu desa yang akan melakukan itu. Yang kami lakukan adalah kembali mengelilingi Pak Wayan dan Pak Made untuk menggali sebanyak mungkin informasi mengenai budaya Bali. Beruntung, kami sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka.

rumah desa

Mengulek bumbu dan rempah yang banyak jumlahnya yang akhirnya dilakukan bergantian adalah sebuah keriaan terrsendiri

rumah desa

Perhatikan bahan bumbu yang harus dimasukkan ke dalam adonan. Rame ya.

jejak mahakarya

Sate dan Tum Ayam siap untuk masuk perapian.

jejak mahakarya

Nasi merah, nasi putih, sate lilit, sate bumbu Bali, sambal matah, dan lain-lain siap untuk mengisi perut.

jejak mahakarya

Ini sup pepaya muda yang rasanya seperti Tom Yam. Segar.

Kalau kalian ingin mengetahui bagamaimana rasanya makanan yang kami buat, rasanya sulit untuk menjelaskan. Karena master chef Rumah Desa yang mengatur semua takaran bumbunya jadi rasanya tetap enak, kekurangannya hanyalah bentuk sate yang tidak standar. Lumayan, saya sudah menambah ilmu tentang masak-memasak.

Semua menu masakan di Rumah Desa berasal dari bumbu-bumbu yang diambil dari tanah, tidak menggunakan pengawet, MSG, dan bumbu modern lainnya. Oleh karena itu masyarakat adat menjaga alam semesta untuk kelangsungan dan kebersahajaan hidup manusia saat ini dan manusia masa depan. Selama puluhan abad manusia telah hidup bersahabat dengan alam, membuat masakan enak yang semua bahannya dari alam. Hal inilah yang jangan sampai kita tinggalkan. Keseimbangan hidup bahwa ketika kita menjaga alam maka alam akan setia menjaga kita. Inilah Jejak Mahakarya yang harus kita teruskan sampai anak cucu kita memiliki anak cucu lagi dan lagi.

Bali Pulina

Bagaimana perasaan kamu sebagai penikmat dan pemburu kopi ketika membaca sebuah kalimat “visiting coffee luwak Bali Pulina”? Saya sumringah menahan senyum dan bahagia. Kopi luwak adalah masterpiece kopi di Indonesia. Harganyapun selangit mahalnya. Apalagi yang asli. Banyak penjual yang mencampur kopi luwak dengan kopi lain saat dijual di pasar agar harganya bisa lebih murah.

Apa sih istimewanya kopi luwak? Begini, kopi luwak itu berasal dari biji kopi (biasanya Arabica) yang sudah dimakan oleh binatang luwak (musang) lalu dibuang sebagai kotoran. Biji kopi tersebut sudah terkoyak kulitnya lalu dikumpulkan untuk diproses seperti membuat kopi biasa yaitu dijemur, disanggrai, dan ditumbuk.

Kelebihannya adalah, binatang luwak tersebut hanya memakan biji kopi yang bagus mutunya. Para luwak  secara otomatis dan natural memilih biji kopi sebelum memakannya. Proses fermentasi di dalam perut sebelum dibuang sebagai kotoran juga mempengaruhi rasa dan aroma kopi.

Bali Pulina merupakan tempat agro wisata yang terletak di Banjar Pujung Kelod, Tegallalang, Kec. Gianyar. Tidak hanya sekedar menyajikan kopi luwak, Bali Pulina mengemas segala sesuatunya menjadi sangat indah. Pemandangannya, suasananya, membuat nyaman. Sudut-sudut Bali Pulina membuat saya merasa berada di lokasi syuting film kerajaan dengan setting Bali dimasa lalu.

Para luwak yang berada di dalam kandang menyambut kami dengan bermalas-malasan. Saya tidak tahu apakah mereka menggigit atau tidak, rasanya saya ingin menggendong dan mengelus-elus binatang lucu itu. Tumpukan kotoran/kopi yang ada di bagian bawah kandang tampak belum diangkat. Aromanya tetap kopi walaupun tipis.

jejak mahakarya

Biji kopi arabica yang siap diberikan kepada binatang luwak. Segar.

jejak mahakarya

Luwak atau musang ini yang menjadi penyortir biji kopi terbaik.

kopi luwak

Biji kopi yang sudah melalui proses di dalam perut luwak.

kopi luwak

Proses pengeringan kopi melalui sinar matahari.

DSC07445-01-01

Ibu penyanggrai kopi yang sangat ramah. Selalu tersenyum dengan tulus menyambut para wisatawan.

Kopi luwak ini adalah salah satu Jejak Mahakarya nusantara yang sekarang menjadi komoditas dagang. Disebut sebagai kopi termahal di dunia, kopi luwak diproduksi di pulau Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Bali. Walaupun saat ini menurut berita yang beredar beberapa negara mulai memproduksi kopi luwak seperti Philipina dan Malaysia.

Di Bali Pulina harga sekantung kopi luwak 150 gram adalah 540 ribu rupiah! Harga ini akan menjadi jauhhhh lebih mahal di pasaran luar negeri. Karena harga yang mahal inilah banyak kopi luwak yang beredar di pasar sudah bercampur dengan jenis kopi lain. Sudah sulit mencari kopi luwak yang murni 100%.

Ada 2 jenis kopi luwak, yaitu kopi luwak dari alam liar dan kopi luwak artifisial. Yang dimaksud kopi luwak artifisial adalah para produsen kopi memelihara binatang luwak di dalam kandang, seperti yang dilakukan oleh Bali Pulina ini. Sementara kopi luwak alam liar adalah para petani mengambil biji kopi dari kotoran luwak yang masih berkeliaran bebas di hutan. Kopi luwak alam liar ini sangat langka namun cita rasanya di atas kopi luwak artifisial.

Bagi saya, menikmati kopi luwak artifisial produksi Bali Pulina inipun sudah sangat luar biasa. Sambil duduk menyendiri menenangkan diri, sedikit terpisah dari rombongan teman-teman, saya menutup mata, membaui wangi kopi luwak tanpa gula, menghirup dalam-dalam asma kopi itu. Kecapan pertama, saya tahan di lidah beberapa detik, lalu saya telan. Terasa masam dan pahit.  Saya tidak mendapatkan pesan apa-apa. Lalu dikecapan kedua, saya memejamkan mata menulikan telinga. Air kopi panas yang terasa di lidah saya tahan beberapa detik sampai berangsur dingin kemudian saya telan.

Ah ya, saya sudah menemukan pesan apa yang disampaian oleh segelas kopi luwak ini:

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia berbicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menumbuhkan dan memangkasmu
Mengangkatmu naik, membela ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

(Kahlil Gibran, Sang Nabi)


Bacaan yang berhubungan dengan cara meminum kopi: Sambil Ngopi, Seperti apa caramu menikmati kopi?


Kopi luwak itu kopi untuk para pecinta, yang mungkin telah dibutakan, atau dibodohkan, atau dimuliakan, sehingga pasrah dan  ikhlas atas nama cinta. Perjalanan saya untuk meminum kopi luwak pertama kali ini telah  menempuh proses bertahun-tahun yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya tidak pernah merencanakan di mana dan kapan akan meminum kopi luwak, hanya meyakini suatu saat akan meminumnya dari tempat di mana kopi itu diracik.

Bukankah ini cinta? Ketika mengetahui bahwa kopi luwak  berasal dari seonggok kotoran yang keluar dari pantat seekor binatang, tetapi kita tetap setia menunggu dan menikmatinya. Merasakan hangatnya di tenggorakan kita. Cinta, mungkin biasa. Tetapi rindu yang membuatnya menggelora.

kopi-luwak

Kopi yang panas dan rindu yang menggelora

bali-pulitan

Sudut primitif di Bali Pulitan

kopi-luwak

Wangi kopi yang membuat kita melupakan wangi parfum mahal yang kita kenakan.

DSC07482

Inilah sebungkus cinta seharga Rp 540 ribu itu. Hanya pecinta kopi sejati yang bersedia.

bali-pulina

Keceriaan para pencari jejak-jejak mahakarya nusantara.

Bali memang luar biasa. Saya sangat setuju apa yang disampaikan oleh Pak Wayan, jangan cuma datang ke Bali hanya untuk liburan, tetapi datanglah untuk pengalaman yang sesungguhnya. Datanglah ke Bali untuk hidup yang lebih harmoni dengan alam semesta. Resapi jejak  mahakarya nusantara yang ada di pulau Bali.



 

12 Responses to “Trilogy Jejak Mahakarya 2016: Eat

Leave a Reply

%d bloggers like this: