Sambil Ngopi: Teknologi, Anugrah atau Kutukan?

Designed by Freepik

Gue tidak begitu pintar hitung-hitungan, jujur aja. Nilai matematika gue di ijazah SMA cuma 3. Beneran, men. Segitu oncomnya kah, gue? Dalam hal hitung-hitungan matematika, iya. Tetapi dalam hal mencintai seseorang, gue gak pernah hitung-hitungan, tuh. Eaaaaaaa!

Nah, maksud gue begini, kalo sekarang adalah tahun 2015, maka sepuluh tahun sebelumnya adalah tahun 2005. Simpel kan? Keterlaluan sih kalo ngurangin 10 aja harus pake kalkulator. Kecuali 2015 dikurang 83, nah gue perlu kalkulator, sih.

Sepuluh tahun, masih ingat gak kalian apa yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir? Tahun 2005 kalian berumur berapa? Masih ngapain aja? Lalu tahun 2015 kalian sudah seperti apa? Kalian pasti sudah banyak berubah, tapi tidak menyadari prosesnya. Tiba-tiba, jreng! Tralaaa! Kalian seperti sekarang.

Kalian masih ingat handphone apa yang kalian pake tahun 2005? Ok, gak usah sebut merk, pertanyaannya, seperti apa kalian berkomunikasi pada tahun 2005 itu? Telp dan SMS, dan sedikit MMS. Sebagian sudah menggunakan internet, email, messenger yang saat itu dikuasai oleh Yahoo Messenger. Social media yang ngetop sekarang belumlah lahir, yang menjadi andalan saat itu Friendster. Ingat? Ketebak umur kalian kalo sempat punya Friendster. Muahahaha.

Sepuluh tahun berlalu, perkembangan teknologi emang sangat gila kecepatannya. Melebihi kemampuan orang kebanyakan untuk memahaminya.

Ingat gak, tahun 2005 itu internet masih menjadi barang mahal. Kita bisa menikmati hanya di tempat-tempat tertentu, seperti warnet (yang sekarang sudah langka), kantor, sementara di rumah masih sangat jarang terhubung dengan internet.

Beda ya dengan sekarang, tidak ada sejengkal tempat pun rasanya yang lolos dari jangkauan internet.

Nah, saking luar biasanya perkembangan teknologi ini, semua efek positif dan negatif juga menjadi berlomba sangat kuat. Menurut gue sih bukan salah teknologinya, karena semua hal di dunia ini pasti memiliki dua sisi mata uang, hadir bersamaan menjadi satu kesatuan. Tergantung sisi sebelah mana yang ingin kita lihat, kita sentuh, dan kita rasakan kehadirannya.

Lalu sebenarnya teknologi itu anugrah atau kutukan? Dua-duanya!
Banyak orang, (sangat banyaaaaak) yang berhasil mendapatkan anugrah karena memanfaatkan teknologi. Misalnya Mark Zuckerberg, dengan Facebook dia menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Atau dalam skala lebih kecil, dari sisi pengguna, jaman sekarang banyak influencer, buzzer, marketer, blogger, yang memanfaatkan teknologi informasi, melakukan hobby, mendapatkan ketenaran, lalu menghasilkan uang yang luar biasa jumlahnya. Orang-orang seperti ini banyak kita temukan di twitter, instagram, dan juga facebook.

Mau tau berapa penghasilan mereka? Gue sebutin contoh aja ya, ada seorang kawan yang sukses sebagai buzzer di twitter, yang harga dia untuk twit iklan adalah 2 juta rupiah satu kali twit. Nah, misalkan merk smartphone ternama ingin memanfaatkan ketenaran dia dengan membayar sebagai buzzer dengan kontrak 5 kali twit perhari selama masa promosi 3 hari. Ya sudah, dikali aja pendapatan dia untuk satu promo itu: 2 juta x 5 x 3 = 30 juta. Big WOW kan? Ngetwit doang.

Anugrah? Iya lah.

Lalu kapan teknologi bisa menjadi kutukan? Kalau kalian terlalu bodoh dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Sekarang jaman informasi bisa beredar dengan sangat cepat. Dalam hitungan menit bisa mencapai seluruh dunia. Segala kesalahan dan aib juga akan sangat cepat beredar di masyarakan luas. Makanya jangan sekali-sekali menyimpan hal-hal rahasia di dalam handphone, foto kalian telanjang, misalnya. Begitu handphone dicuri, selamat, kalian akan terkenal karena aib.

Kutukan? banget!

Jadi, kalian pasti tahu mana yang harus dipilih, mendapat anugrah atau kutukan.

Pasti ada yang beralasan, gak gampang untuk mendapat anugrah menjadi buzzer. Iya emang gak gampang, prosesnya membutuhkan ketekunan, keikhlasan, dan perjuangan luar biasa. Ya wajar, kan?
Kalau kalian tidak yakin untuk menjadi seperti itu, ya tidak apa-apa, itu pilihan kalian. Tidak mendapat anugerah, tidak apa-apa, yang penting tidak mendapat kutukan.

Anyway, tidak mendapat kutukan juga sebuah anugrah, bukan?

2 Responses to “Sambil Ngopi: Teknologi, Anugrah atau Kutukan?

Leave a Reply

%d bloggers like this: