Sambil Ngopi: PSSI, Mati Suri?

Judulnya, serem ya? Kalau diliat sama guru bahasa Indonesia jaman SMP dulu bisa dimaki-maki gw. Tapi ya beginilah keadaan yang sebenarnya terjadi tentang PSSI, badan sepakbola tertinggi di Indonesia.

 

Jadi gini ceritanya, bangun tidur siang, tiba-tiba gw pengen ngopi, tapi yang santai dan bersahaja. Nah jadi meluncurlah gw ke warung kopi yang jaraknya sekitar 100m dari tempat tinggal. Warung kopi itu bersebelahan dengan bengkel mobil tradisional yang lumayan rame. Iya, bengkelnya yang semua masih manual, mobil-mobil seenaknya diparkir di pinggir jalan. Di situlah gw ngopi santai, sambil ngangkat kaki satu ke kursi.

 

Biasalah, di setiap warung kopi ada TV non flat yang cuma pake antene dalam yang arahnya tergantung sama channel apa yang mau ditonton. Di situ ada 3 orang yang duduk selain gw, semua ngerokok, gw enggak. Masih diam satu sama lain, sambil nonton tv. Sampai akhirnya stasiun tv itu memberitakan tentang kongres PSSI yang hari ini (Sabtu 18 April 2015) dilaksanakan di Surayaba. Ditayangkan tentang ratusan bonek Persebaya 1927 yang mendemo kongres PSSI tersebut.

 

Di mana-mana sepak bola memang menyatukan (dan memisahkan) manusia. Salah seorang dari yang ngopi itu tiba-tiba berguman, “PSSI, mati aja lu!”

 

Yak, mulai!

 

Suara-suara lain mulai berguman, dan diskusi atau tepatnya hujatan terhadap badan tertinggi sepak bola di Indonesia itu mengalir tanpa moderator. Gw awalnya cuma senyum-senyum dengerin sambil browsing di twitter mencari berita tentang PSSI. Dapat!

Ada foto tentang surat keputusan dari Menpora mengenai pembekuan PSSI dari segala kegiatannya, dimulai dari hari ini. Orang-orang yang ngopi itu pasti belum update donk!!!

 

Gw mulai nimbrung obrolan mereka dengan menunjukkan foto surat itu dari smartphone gw. Obrolan semakin liar dan mereka semua mendukung keputusan Menpora itu. Tentu gw gak bisa menceritakan seperti apa diskusi liar itu di sini, karena emang bahasanya liar banget!!!!

 

Sebenarnya ada apa sih sampai PSSI dibekukan oleh pemerintah melalui Kemenpora? Dan seperti apa masa depan PSSI?

 

Sepak bola sekarang sudah menjadi industri, bisnis, ladang uang. Iya. Itu ada di mana-mana. Sepak bola Eropa sudah menjadi perputaran triliunan EURO setiap tahunnya. Weekend akan sepi tanpa pertandingan sepak bola di televisi. Pertengahan hari-hari kerja akan lebih semarak apabila ada perhelatan European night.

 

Sementara di Indonesia, sepakbola Indonesia sudah menyimpang jauh dari rel. Sudah lebih dari sepuluh tahun berita tentang sepak bola Indonesia adalah tentang perkelahian antar supporter, gaji pemain yang tidak dibayar, wasit yang tidak becus, jadwal pertandingan yang tidak pernah tetap, dan berita-berita konyol lainnya yang tidak perlu analisa mendalam bahwa PSSI itu diisi oleh orang-orang yang tidak memikirkan sepak bola Indonesia, tapi hanya kepentingan perut.

 

Sepak bola sudah menjadi lahan korupsi itu terjadi di mana-mana. Bahkan FIFA sendiri pun selama diketuai oleh the untouchable Sepp Blatter juga beberapa kali diindikasikan korupsi. Yang paling anyar dan masih hangat adalah rencana perhelatan Piala Dunia di Kuwait. Ada indikasi bahwa FIFA memutuskan PD di Kuwait tidak dengan pertimbangan professional, tapi ada indikasi sogokan uang. Hal ini masih dalam penyelidikan, walaupun sepertinya sulit untuk diungkap.

 

Judi bola dan pengaturan pertandingan itu ada di mana-mana, tidak di Indonesia aja. Tapi di seluruh dunia. Mafia judi bola di Indonesia ini cuma perpanjangan tangan dari luar negeri. Ini serius, Men. Para mafia yang bermain ada dari Singapura, Hongkong, dan Rusia. Belakangan setau gw, mafia judi dari Rusia tidak segetol dari Asia.

 

Hanya saja di Indonesia yang jadi masalah adalah, pengelolaan sepak bolanya yang amburadul. Catet, pengelolaan.

 

Kita tidak bisa bilang industri sepak bola di sini benar apabila ada pemain asing yang meninggal karena sakit karena gaji ditunda berbulan-bulan, apabila belum lagi kompetisi berjalan dua minggu tapi sudah ditunda masalah kepesertaan, apabila klub dan PSSI tidak bisa memberikan laporan pertanggung jawaban keuangan, dan ketika klub-klub yang telat berbulan-bulan menunda gaji pemain itu masih bisa ikut berkompetisi setiap tahun.

 

Selama ini PSSI tidak pernah mendengarkan apa kata pemerintah, selalu berlindung di bawah peraturan FIFA bahwa pemerintah tidak dibenarkan mengintervensi sepak bola, dan hukumannya adalah badan sepak bola akan dikeluarkan dari keanggotaan FIFA. Pemerintah yang sebelum-sebelumnya juga membiarkan saja PSSI mau seperti apa. Bahkan ketika Nurdin Halid sebagai ketua PSSI beberapa tahun lalu tersangkut kasus korupsi lalu dipenjara, pemerintah diam saja. Bayangkan, PSSI dipimpin oleh seseorang dari dalam penjara.

 

Baru kali ini pemerintah tegas: BEKUKAN PSSI!

 

Gw mendukung langkah Kemenpora ini. Biarlah PSSI dimatikan dulu, dibenahi, lalu dihidupkan kembali setelah semuanya benar. Jangan takut sangsi FIFA. Mari kita lihat, apakah FIFA akan memberikan sangsi itu? Ada beberapa Negara yang pernah diberikan sangsi oleh FIFA karena intervensi pemerintahnya, tapi setelah beberapa bulan sangsi tersebut dicabut dan sepakbola mereka lebih baik dari sebelumnya.

 

Dengan dibekukannya PSSI, berarti semua aktivitas PSSI menjadi illegal dan melawan hukum. PSSI harus membenahi diri sendiri dulu, jangan arogan dan berlagak kebal hukum. Setelah itu, Kemenpora tentu akan mereview ulang status PSSI. Dengan PSSI yang baru, semoga industri sepak bola di Indonesia dikelola dengan benar dan dengan satu semangat yang sama: sepak bola.

—————————————–

*sumber foto : http://kisahbujangbiasa.blogspot.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: