Sambil Ngopi: Kisah Cinta Dua Dunia

410627834_2a5297855b_z

Ini adalah kopi pertama gw di tahun 2016, secangkir kopi hitam robusta, yang gw tumbuk secara kasar hingga bijinya tidak hancur seluruhnya, yang  gw tuangkan tanpa disaring, membiarkan ampasnya timbul di permukaan air panas, dengan campuran sedikit gula pasir. Malam ini gw ingin mendapatkan pesan yang berbeda dari robusta terakhir, kini habis sudah di dalam toples.

Mungkin bubuk kasar kopi ini mengerti bahwa gw agak dikecewakan dengan kesan-kesan sebelumnya, maka malam ini ia sangat luar biasa, gw terkejut. Wangi yang sangat menyengat membuat gw berkali-kali melihat dengan kernyit ke arah cangkir, lalu membauinya lebih khusyuk. Gw sangat penasaran ingin segera tahu, pesan apa yang ingin disampaikan secangkir kopi hitam malam ini?

Cara menikmati kopi memang bisa berbeda-beda, dan pesan yang disampaikan juga akan berbeda-beda. Karena rasa kopi adalah personal.

Kopinya masih terasa panas, tapi cukup dingin untuk diminum. Gw memejamkan mata, menghirup wangi sekali lagi, meminum kopi sedikit, membiarkannya di lidah sesaat, lalu meneguknya.

Tau seperti apa tiba-tiba pikiran gw melayang?

Kopi adalah kesempurnaan hidup. Kopi adalah kisah cinta dua dunia. Wanginya seperti matahari pagi di musim panas yang masuk lewat jendela kamar kita, hangat menyapa dan menyegarkan mata. Warna hitamnya seolah mengingatkan bahwa kenyataan dalam hidup haruslah diakui dan diterima. Hitam itu indah, walaupun kadang terlihat kelam. Pahitnya kopi adalah rayuan manisnya gula dalam kesunyian.

Cinta yang abadi adalah cinta yang gagal, sepertinya gw pernah membaca kalimat ini, entah di mana, lupa. Cinta yang gagal tidak akan pernah pupus, sepahit-pahitnya kenangan itu, ia akan indah dan selamanya tinggal di ujung hati, seolah menanti untuk mendapat sapaan ringan maka ia akan muncul dan mengusir semua penghuni hati yang lain, seperti kotak pandora, melenyapkan sebuah kisah.

Kopi…

Cinta…

Hidup…

Kopi…

Cinta…

Hidup…

Kopi, seperti juga cinta, paling nikmat saat sedang hangat-hangatnya

Walaupun telah habis dan cangkirnya  kosong  menyisakan ampas, hangatnya itu yang menetap di hati kita.


Gambar diambil dari sini

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: