Rasa Cinta Dalam Kopi: Review Buku

The Various Flavours of Coffee; Rasa Cinta Dalam Kopi, sebuah novel karangan Anthony Capella, pernah kalian dengar itu? Atau ada di antara kalian yang pernah membacanya?

DSC_9446

 

Bagi gw, mudah saja menyimpulkannya. Buku ini adalah salah satu novel terbaik dengan latar belakang kopi. Bagaikan kopi yang memiliki jenis serta cita rasa yang bermacam-macam, novel ini bercerita tentang manisnya cinta, pahitnya kopi, getirnya penghianatan, menggelegarnya gairah birahi, nikmatnya kopi, hitamnya perbudakan, dan kelamnya kenyataan.

Saran gw pertama kali apabila kalian membaca buku ini, bacalah sambil meminum kopi, apapun jenisnya. Akan lebih baik bila itu kopi hitam, agar rasanya original, bukan campuran dengan coklat, susu, krim, atau segala macam bahan dan nama aneh yang biasa kita temui di papan menu coffee shop modern.

Cerita bersetting  di kota London, tahun 1800an akhir, pasca revolusi industri yang pertama kali berawal di Inggris Raya. Adalah seorang Robert Wallis, anak muda yang mengaku sebagai penulis puisi, tetapi bisa ditebak, ia bukan seorang penulis puisi yang sukses. Perkenalannya dengan Samuel Pinker, seorang pengusaha kopi merubah jalan hidup Robert secara drastis. Pintar merangkai kata, nyentrik, tetapi tidak pandai bernegosiasi apalagi mempunyai naluri bisnis, Pinker mengajaknya dalam pembuatan Pedoman yang bisa digunakan untuk mengenali berbagai macam rasa dan jenis kopi dari seluruh dunia. Di setiap contoh jenis kopi yang dirasakan, Robert bertanggung jawab untuk mencari sebuah padanan kata yang mampu mewakili kopi itu. Emily Pinker, putri Samuel, juga turut ambil bagian dalam proyek ini.

Pedoman pencicipan kopi memang dikenal sejak lama, sampai sekarang masih terdapat beberapa catatan mengenai itu. Bahan acuan yang digunakan untuk penulisan buku ini kebanyakan diambil dari The Coffee Cupper’s Handbook oleh Ted R Lingle.

Di awal-awal cerita, novel ini berjalan lambat dan mudah ditebak, seperti pembuatan Pedoman yang tidak menemukan hambatan berarti, Robert yang akhirnya berpacaran dengan Emily, dan ambisi Samuel untuk mengembangkan usahanya, sesuai dengan apa yang terjadi di Inggris dan Eropa lainnya setelah era revolusi industri. Alur cerita perlahan berubah beberapa bab kemudian ketika Samuel mengirim Robert ke Afrika dan membuka perkebunan kopi di satu daerah bernama Abyssinia.

Dalam perjalanannya, Robert ditemani oleh Hector, orang kepercayaan Samuel dalam pengurusan bisnisnya di luar negeri. Sebelum berangkat ke Afrika, Robert dan Emily resmi bertunangan, dan direncanakan mereka menikah setelah Robert pulang dari tugasnya. Di kota Harar, Afrika, Robert bertemu dengan seorang pedagang kaya dari Arab, Ibrahim Bey, yang memang direncanakan untuk membantu kebutuhan logistik Robert dan Hector. Ibrahim memiliki seorang budak perempuan yang bernama Fikre. Di sinilah cerita sesungguhnya bermulai.

Tugas utama Fikre adalah melayani Ibrahim Bey dan para tamunya dalam perjamuan kopi khas Abyssinia yang terbagi atas 3 urutan cangkir, abol, tona, dan baraka. Yang pertama adalah untuk kenikmatan; yang kedua membangkitkan kontemplasi; dan yang ketiga untuk memberikan berkat. Orang Abbysinia percaya bahwa itu menimbulkan semacam transformasi roh.

Secara ritual Fikre akan membasuh muka semua orang yang dilayaninya menggunakan kain serbet yang sudah dibasahi dengan air wewangian. Tanpa diduga, dalam setiap ritual ini, Fikre diam-diam berani menyelipkan sebutir biji kopi ke tangan Robert. Pertanda apa!? Misteri apa!? Menurut orang Abyssinia, tindakan memberikan biji kopi secara rahasia seperti yang dilakukan Fikre adalah ungkapan ketertarikan, sebuah pesan “I want you”, bagaikan sebuah undangan, “come on, seduce me!”

Seluruh rencana Robert berubah  sejak itu. Di depan matanya, Hector memperlihatkan praktik perbudakan kepada penduduk lokal, penghancuran hutan, dan penguasaan lahan secara semena-mena. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk menentang Hector, malahan Robert menyetujui tindakan itu. Sementara Fikre, semakin menggoda, dan Robert tidak bisa menahan gejolah hasrat, sehingga mereka terlibat dalam satu pergulatan cinta terlarang yang dahsyat.

 

rasa-cinta-dalam-kopi

 

Tanpa diduga Hector mati menggenaskan, dan kematiannya membuka satu tabir misteri yang sungguh mengagetkan. Di bagian inilah, Anthony Capella sungguh jenius membuat twist-twist yang tidak terduga. Semua cerita yang disusun rapi sebanyak ratusan halaman, tiba-tiba seperti dihancurkan dengan indah oleh Anthony. Sekali lagi gw bilang, dihancurkan dengan indah. Gw tidak menemukan kalimat lain yang bisa menggambarkan perasaan gw.

Kita tidak akan tahu seperti apa ending cerita ini. Bahkan setelah Robert kembali ke Inggris pun masih banyak twist yang tidak diharapkan sebelumnya malah terjadi, membuat gw sebagai pembaca jadi seperti, ow syit kok gini? Sebuah ungkapan kaget karena kagum. Gw jadi tidak berani menduga apa yang akan terjadi di bab selanjutnya, terlalu liar. Jawaban bagaimana novel berakhir, ada di lembaran paling akhir dari novel yang memiliki 677 halaman ini.

Kehebatan Anthony Capella adalah memadukan cita rasa kopi yang bermacam-macam menjelma menjadi sebuah cerita yang, seolah kita menikmati kopi itu sendiri; pahit, manis, kesat, moka, panas, dingin, dan sebagainya. Cara mengecap rasa kopi diajarkan dengan halus di sini, sehingga pembaca pasti akan mempraktekkannya pada secangkir kopi mereka.

Hal menarik lainnya, Anthony berani menulis sebuah adegan dengan sangat simpel tetapi menjadi bagian yang sangat berarti sebagai pecahan puzzle keseluruhan cerita. Banyak sekali sub chapter yang hanya terdiri dari satu atau dua lembar. Dengan gaya ini, dia membuat dinamika cerita menjadi tinggi, kita serasa sedang  nonton film action di bagian paling menegangkan, saat beberapa adegan terjadi dalam waktu hampir bersamaan, lalu frame berganti-ganti berkejaran.

Sebenarnya menuliskan kutipan-kutipan sebuah buku, puisi, atau lirik lagu adalah hal yang sudah sangat biasa dalam pembukaan bab sebuah novel. Hanya saja Anthony Capella memasukkan catatan-catatan kecil tentang kopi, yang mana tentu  hal ini menjadi semakin memikat terutama bagi para pecinta kopi yang membaca. Gw pernah bercerita bagaimana caranya kita menikmati secangkir kopi, bahkan sebelum gw membaca buku ini. Anehnya, apa yang disampaikan oleh Anthony Capella ternyata kurang lebih sama dengan maksud gw. Keren ya gw. Pada intinya, sebagai sesama penikmat kopi, kami memiliki persamaan pendapat bahwa rasa kopi itu personal. Kopi itu memiliki rasa dan “rasa”, yaitu rasa yang di lidah dan rasa yang ada dalam pikiran. Itulah kenapa kopi sangat membius.

Anthony bercerita, dalam penulisan buku ini dia menghabiskan sekitar dua ribu gelas kopi. Awalnya dia cuma sebagai peminum kopi biasa, sampai berubah menjadi pecandu kopi. Edan. Sama donk.

rasa-cinta-dalam-kopi

 

Novel ini sendiri diterbitkan pertama kali pada tahun 2008 dan sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Penerbit Gramedia menerbitkannya di Indonesia pada bulan November 2012 dengan judul Rasa Cinta Dalam Kopi. Gw membeli di sebuah obralan cuci gudang toko Gramedia dengan harga 30 ribu saja, untuk buku yang hampir 700 halaman tebalnya. Jujur sih, gw tertarik dengan buku ini pertama kali karena covernya, terus topiknya seputar kopi, tentu saja. Menurut ulasan di Goodreads, The Various Flavours of Coffee pernah ditawari oleh Warner Bros untuk dijadikan film. Namun tampaknya tidak jadi entah kenapa alasannya.

Anthony Capella adalah penulis kelahiran Uganda pada tahun 1962. Debut novelnya berjudul The Food of Love, pertama kali diterbitkan tahun 2004. Buku ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa, diterjemahkan ke dalam 19 bahasa, masuk ke Indonesia pada tahun 2008 dan diterbitkan oleh Gramedia dengan judul “Santapan Cinta”. Judulnya kok nganu ya, berasa alay.

(((( makan tuh cinta ))))

Buku ke duanya berjudul “The Wedding Officer” bahkan mendapat sambutan yang lebih bagus lagi. Menjadi international best seller dan telah dibuat menjadi film layar lebar oleh New Line dengan judul sama. Rasa Cinta Dalam Kopi adalah buku ke tiga Anthony. Kebanyakan novel karangannya merupakan kisah percintaan dengan bumbu hasrat yang dahsyat, tidak begitu vulgar, ibarat sebuah film, bisa dimasukkan ke dalam type film rating XX, bukan XXX. Anthony pintar memadukannya dengan kalimat manis menggoda.

 

anthony-capella

 

Dari judul-judul di atas, kelihatan ya kalau Anthony Capella selalu membumbui kisah romantisnya dengan seduction  yang dieksplore melalui makanan. Asik juga sih, jadi risetnya pasti tentang makanan. Haha.

Seperti apa rasanya ya menjadi pengarang yang bukunya diterjemahkan sampai ke berbagai macam bahasa, bahkan sejak dari buku pertama, luar biasa! Semoga suatu saat gw bisa menjadi pengarang buku yang sukses, mendapat apresiasi banyak orang, tidak hanya di dalam negeri saja.

2 Responses to “Rasa Cinta Dalam Kopi: Review Buku

Leave a Reply

%d bloggers like this: