Pulangkan saya ke Inggris!

Malam Selasa, dan bulan sedang purnama.

Adalah waktu yang tepat untuk berkeliling, menikmati sisa bau tanah yang basah karena hujan sore tadi.

Ya, malam Selasa saat purnama memang lebih indah dibanding malam Jumat. Seperti itulah yang ada di benak Edward. Dia baru saja bangun tidur dan mandi. Sambil memandangi wajahnya di depan cermin. Terlihat bekas luka di kepala, yang entah sudah berapa tahun lalu kejadiannya. Walaupun begitu, tubuhnya masih tegap, dan wajah khas Britania yang terkesan separuh angkuh… dan separuhnya lagi… tolol. Mungkin luka di kepala yang membekas itu telah menjadi penyebabnya. Mengganggu syaraf-syaraf di otak sehingga kadang IQ-nya seperti jarum kompas yang rusak, bisa menunjuk arah kutub utara dengan sempurna, lalu sesaat kemudian berputar menunjuk kutub selatan.

Dia adalah Edward, lengkapnya Edward Barrington. Orang Inggris sejati, yang dari namanya bisa ditebak dari mana dia berasal. Barrington adalah desa di Inggris sebelah timur, tepatnya 12 kilometer di sebelah selatan kota Cambridge. Walaupun Barrington adalah sebuah desa kecil, tetapi tempat itu memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan sebelum abad ke 13. Ya, sebuah gereja tua berdiri di desa itu sejak abad ke 13. Dan pada abad ke 18, penduduk desa Barrington dikenal sebagai pembuat batu bata dan semen.

Edward Barrington adalah seorang prajurit spesial, berpangkat kapten, dari tim pasukan khusus Inggris yang sangat disegani, Gurkha. Malam ini, Edward ingin berkeliling, bosan juga rasanya di dalam rumah ini. Dan bulan purnama adalah waktu yang sangat romantis.

Setelah memastikan kembali tampilannya di depan cermin, Edward dengan tegap dan bangga melangkah ke luar.

Prak..prok.. prak..prok.. Suara sepatu lars Edward sungguh perkasa.

Berjalan dengan pasti, Edward melewati halaman, membuka pintu pagar, dan terus ke jalan. Matanya terkagum-kagum menatap purnama. Indah sekali. Dan keindahan purnama disempurnakan oleh wangi tanah sisa hujan tadi sore.

Edward berdiri di tengah jalan yang sepi, memandang purnama dengan syahdu, lalu perlahan menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam.

Saat itulah, tanpa dia sadari sebuah mobil melaju kencang di jalan yang sepi itu. Mobil yang melaju itu tidak membunyikan klakson, sementara Edward masih terlena dalam heningnya!

DAN….

Edward melihat ke samping! Tapi dia sudah sangat terlambat..! Dia cuma bisa menutup muka sambil berteriak ketakutan!

“AAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH…..!!!!!!!!”

…….

…….

…….

Hening….

Gelap….

…….

…….

…….

Entah suasana hening dan gelap itu lewat beberapa lama. Pelan-pelan Edward membuka mata.

“HIHIHIHIIII…HIHIHIHIHIHIIIIIII….HIHIHIIIIIII…”

Suara perempuan tertawa dengan lantang, tapi sangat menyeramkan.

“Ketabrak lagi, Mas Edward? HIHIHIHIHIHII..HIHIHIHI..”

“DIAM KAMU! Dasar kuntilanak genit!” Edward mengumpat sambil melotot ke arah pohon besar di halaman rumahnya.

 

 

 

 

………………………Sementara itu di dunia lain.

Empat pemuda tanggung di dalam mobil yang melaju kencang itu semuanya pucat pasi, terutama yang berada di samping supir.

“Kowe nabrak apaan tadi Yok? Gila Yok… Kowe na..na..nab..nabrak apaan tadi?” Anton merinding.

Yoyok, yang menyetir, wajahnya sudah seputih kapas..

“Ga tau Ton, kowe liat sendiri kan, ada orang berdiri di tengah jalan. Tapi pas kita tabrak, dia cuma seperti angin…..AAAAAAAAHHHHH SETAAAAAANNNNNNN!!!!!!!”

Mobil semakin melaju.

 

 

 

 

Edward menendang pintu dengan kesal.

“Kenapa sih saya ada di sini?!?!”

Dia merebahkan diri di kasur, memanggil dua teman kesayangannya.

“Tuyuuuulllll…. Pocooooonggg! Sini kaliaaaann!”

“Iya Kapteeeeeeeeen! Kami dataaaang!”

Pocong melompat-lompat dengan manja, sementara Tuyul duduk di pundak Pocong berpegangan pada ikat kepalanya.

“Ih si Kapten ganteng kenapo seeeeh marah-marah muluuu? Baru juga Eike mau gesek-gesek pohon pisang.”

“Iya nih, napa sih Kep? Untung bos Ane gak nyuruh nyari duit malam ini.”

Dua hantu lokal itu bersungut-sungut, sementara hantu Inggris masih terlihat kesal.

“Kalian tau kan siapa saya?”

“Tauuuuu, Kapten Edward Barrington!”

“Kalian tau kan dari mana saya berasal?”

“Tauuuuu, dari Enggresssss!”

“Nah, lalu kalian tau gak, kenapa saya ada di siniiiiiiii????”

“Kalo itu, Eike ndak tau Kep..” si Pocong menjawab manja sambil meniup-niup tali ikat kepalanya yang menjuntai.

Edward Barrington, adalah seorang kapten dari pasukan Gurkha, yang dahulu ditugaskan oleh sekutu untuk “menjaga perdamaian” di Indonesia. Dia tiba di kota Surabaya pada 25 Oktober 1945, bersama pasukan lain, yang waktu itu tugas mereka adalah melucuti senjata pasukan Jepang.

Tetapi bentrokan-bentrokan kecil dengan milisi dari Indonesia tidak dapat dielakkan. Puncaknya pada tanggal 30 Oktober 1945. Saat itu Edward Barrington mengawal Brigadir Jenderal Mallaby yang sedang melakukan perundingan gencatan senjata. Mallaby adalah pemimpin tertinggi tentara Inggris untuk daerah Jawa Timur. Entah bagaimana kejadiannya, di luar tempat perundingan ternyata suasana sangat memanas, bahkan terjadi baku tembak antara pasukan sekutu dan milisi Indonesia.

Karena keadaan sudah tidak bisa dikuasai, Edward memutuskan untuk membawa Jenderal Mallaby kembali ke markas sekutu, untuk keamanannya. Tetapi ternyata mereka tidak pernah sampai, karena di Jembatan Merah mereka dicegat oleh pasukan milisi yang lebih besar. Mallaby tewas setelah ditembak di kepala, dan mobilnya dibom sehingga jasadnya hancur dan susah dikenali. Sementara Edward sempat diculik, tetapi dia juga ditembak di kepala saat diinterogasi, karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara yang menginterogasi tidak bisa berbahasa Inggris. lha piye?

Di sini. Di rumah inilah Edward di tembak. 69 tahun yang lalu.

foto diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November

Mobil Jenderal Mallaby yang hancur. Foto diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November

Lelah bercerita tentang peristiwa yang menghisap emosinya, Edward ingin mandi. Lagi pula, peristiwa bersentuhan dengan manusia ketika dia ditabrak tadi membuat badannya tidak nyaman, gatal dan bau.

Kamar mandi adalah salah satu tempat favoritnya karena udara yang lembab dan pewangi ruangan yang membuat badannya segar. Sambil bernyanyi-nyanyi pelan, Edward memandang bekas luka di kepalanya. Saat itulah.. tiba-tiba…

Kriiiiiittt……

Pintu kamar mandi terbuka, seorang manusia muncul begitu saja. Edward kaget bukan kepalang.

“AAAAAAAAAAAAAAAHHH… MANUSIAAAAAAAA!!!!!”

“AAAAAAAAAAAAAAAHHH… SETAAAAAANNNNN!!!!!”

Edward berlari menembus dinding, kembali ke loteng, ke “kamarnya” selama ini.

 

 

………………………Sementara itu di dunia lain.

Si manusia juga  menjerit histeris dan lari ke luar. Tergopoh-gopoh sampai terjatuh karena tersangkut kain sarungnya sendiri.

“Papaaaaaaaaaaaahhh!!!!! Hantunya muncul lagiiiiiiiii!!!!!!!!”

Bruk..!

 

 

…..

 

 

Pocong dan Tuyul tidak bisa menahan tawa melihat kesialan Edward malam ini. Dua kali dia berinteraksi dengan manusia. Dan itu membuat badannya menjadi tidak nyaman, gatal dan bau.

“Aduuuh Kapten ganteeeeeng, kesiyen dech.. ihik ihik ihik.. itu gatelnya kalo digaruk keluar asap gak Kep?”

Edward mengumpat-ngumpat. Sekali lagi malam ini dia bertemu manusia, bisa-bisa dia  menderita gatal seperti kadas kurap dalam dunia manusia.

 

 

…..

 

 

Dua malam kemudian, Pocong dan Tuyul datang ke loteng Edward. Mereka tampak serius.

“Kep, ane denger dari Tuan ane tadi siang. Manusia-manusia di rumah ini mau manggil orang pintar.”

“Ada apaan manggil orang pintar segala? Mau belajar apaan?”

“Aduh Keeeeeppp.. Orang pintar itu maksudnya orang yang punya ilmu hebat. Ustad, kiayi, guru, pokoknya itu tuh orang-orang berjenggot yang suka pake jubah putih.”

“Terus?”

“Ya buat ngusir ente laaaaaaaaah, piye toh?”

“Oh, kayak yang di tv itu? Wuihhhhh saya masuk tv donk?” Kapten Edward senyum-senyum bangga.

“Ih si Kapten mah muka doang ganteng, tapi otak separo.”

Pocong merengut.

“Masuk tv sih masuk tv, Kep. Tapi kan gambar muka kamu gak jelas. Nanti dilukisnya aneh. Pake tanduk, taring, hiiiih… Eike sih ogah!”

Edward berpikir jauh, lalu tersenyum lebar, sedikit tolol.

“Ya gak apa-apa sih orang pintar itu datang, kali aja bisa membantu saya pulang. Ke Inggris. Hehe..hehe..”

“TERSERAAAAAAAAAH!!!!” Pocong dan Tuyul melotot.

 

 

…..

 

 

Malam Jumat, bulan sudah tidak lagi purnama.

Tiga orang duduk bersila, di depan sebuah tungku kecil. Mulut mereka komat-kamit memainkan tasbih.

Tiga orang itu memakai jubah putih, semuanya berjenggot. Ada yang sudah tua, sementara yang dua lainnya tampak masih muda. Kesenengannya si Pocong sih kalo masih muda seperti ini.

Edward mengintip dari lubang tembok. Hmmmm.. pasti ini orang-orang yang diceritakan oleh Tuyul. Edward masih penasaran, karena baru kali ini dia melihat hal seperti ini. Manusia memang aneh kelakuannya, dan hantu-hantu lokal di Indonesia lebih aneh lagi bentuknya.

Tuyul dan Pocong sudah pasti mengungsi dulu untuk sementara. Mereka ketakutan. Tapi Edward tidak.

Orang-orang itu masih komat-kamit dalam bahasa yang Edward tidak mengerti. Lalu orang yang lebih tua menyemburkan air ke tungku kecil. Anehnya, bara api yang ada bukannya padam, tapi malah mengeluarkan asap yang lumayan tebal. Dan asap itu sungguh wangi. Edward suka.

Sambil mengibaskan sorbannya yang membuat asap menyebar ke seluruh ruangan, orang tua berteriak,

“Keluar kau, setan penunggu rumah! Keluar atau aku bikin kau sengsara!”

Edward masih diam di balik tembok.

“KELUAR KAUUUUUU!!!!”

Sambil bersungut-sungut, Edward keluar. Apaan sih ni orang tua, berisik aja.

Suasana sesaat menjadi hening. Tiga orang pintar itu memandangi Edward Barrington dengan tegang. Mereka tidak menyangka kalau yang keluar adalah setan bule, tentara pula.

“Yes, gentlemen, do you call me? Or perhaps you have something to do with me?”

Edward menggunakan bahasa Inggris, walaupun setelah sekian lama bergaul dengan hantu-hantu lokal dia bisa berbahasa Indonesia.

Tiga orang pintar itu gelagapan, tidak berbicara apa-apa.

“Excuse me?”

Edward terkekeh dalam hati.

“Ada apa memanggil saya? Kalian siapa?”

“Nama kamu siapa?”

“Heh, enggak sopan kalian. Datang-datang manggil orang tanpa memperkenalkan diri, malah nanya siapa nama.” Edward membentak.

“Eh iya, maap. Saya Ki Agung Sompa, dan dua orang ini murid saya, Sentot dan Mahmud.”

“Hmmm. OK. Saya Kapten Edward Barrington.”

“Siapapun kamu, dari mana pun kamu berasal, keberadaan kamu telah mengganggu orang yang tinggal di rumah ini. Jadi kami ingin kamu pergi dari sini, kembali ke asal kamu.”

Edward senyum-senyum, binggo

“Baik, saya bersedia untuk kembali ke asal saya. Tapi dengan syarat yang harus dipenuhi. Kalau tidak, NEHI!”

“Apa syarat yang kamu inginkan, Edward?”

Tiga laki-laki itu menunggu dengan tegang.

“Syaratnya adalah…

adalah….

ANTERIN SAYA PULAAAAAAANG!!! HAHAHAHAHAHAHA”

Ki Agung menatap Edward dengan ekspresi orang yang kalah main tebak-tebakan. Antara kesal dan gemes.

“Kamu mau dianterin kemana? Asal kamu dari mana?”

“Saya berasal dari INGGRIS! Ihiiiiyy… pulangkan sayaaaahhh.. ke INGGRIS!

I.N.G.G.R.I.S…!! Do you hear that???”

Edward kegirangan sambil membayangkan musim salju di kampung halamannya, Cambridge.

“Enggak bisa! Enak aja minta anterin ke Inggris. Itu jauh tauk! MAHAL!”

“Hih ya udah, jangan usir-usir sayah kalo gitu.”

“Kami tidak mau tau, pokoknya kamu harus pergi dari rumah ini, cari tempat lain.”

“Apaaa? Pergi? Kemanaaaaaa? Ke rumah manaa? Terus sampai di sana saya diusir lagi sama orang yang tinggal di situ? Enak aja usir-usir setan sembarangan.”

“Kalau kamu tidak mau pergi, saya bakar kamu sekarang!”

“Soook sana bakar aja kalau bisa!”

Ki Agung komat-kamit sambil mengibas-ngibaskan tasbihnya. Sementara Sentot dan Mahmud menyemburkan air yang ada di dalam botol.

Edward bukannya takut atau merasa sakit, dia malah bingung melihat atraksi tiga orang di hadapannya.

“Kok kamu gak kesakitan sih?” Ki Agung agak panik.

“Ya iyalah. Kan saya enggak ngerti bahasa yang kalian komat-kamitkan itu. Mana mungkin ada pengaruhnya sama saya.”

Ki Agung melempar tasbihnya ke arah Edward, tapi hanya menembus bayangan. Tubuh Edward seperti hologram yang tembus begitu saja.

Mereka bertiga semakin panik.

“Udah ah, ngapain sih kalian ini? Aneh deh. Saya mau tidur lagi sampai malam Selasa depan. Byeeeeee!”

Edward menghilang begitu saja dengan santai. Sementara Ki Agung dengan dua anak buahnya seperti kehabisan energi. Dengan dipapah, Ki Agung berjalan keluar dari rumah tua itu. Dia merasa hancur. Baru kali ini dia dikalahkan dengan mudah oleh makhluk halus. Tapi bukan itu saja yang membuat dia merasa gagal. Karena seandainya dia berhasil mengusir hantu Edward, berarti ujiannya berhasil. Maka dia akan menjadi bintang tamu tetap di sebuah acara stasiun tv yang membahas tentang hantu-hantu. Gagal sudah impiannya menjadi paranormal selebritis.

 

 

…..

 

 

Semenjak itu, dalam tidur Edward sering mengigau. Pocong dan Tuyul sering mendapatinya berbicara sendiri di dalam tidur. Dia selalu meracau, berkata ingin pulang…pulang ke Inggris, ke Cambridge, ke desa Barrington.

Edward merasa apapun yang terjadi, dia harus pulang. Walaupun sekarang dia jadi setan, hantu, demit, apapun, tapi tetap harus pulang. Ke Inggris. Seenak-enaknya jadi hantu di negeri orang, lebih enak jadi hantu di negeri sendiri.

Tetapi setiap kali ditanya pada saat dia bangun, Edward selalu menghindar. Katanya dia betah di sini, di Surabaya. Berteman dengan Tuyul dan Pocong, sambil sesekali menggoda Kuntilanak genit di pohon depan rumah.

Pocong sangat kasihan dengan kondisi kejiwaan Edward. Pasti dia sudah sangat rindu kampung halamannya. Apalagi dari berita yang dia lihat di tv,  Cambridge sekarang telah menjadi kota mahasiswa dengan kampus Cambridge University-nya yang sangat terkenal. Edward dapat tinggal di bangunan kampus itu sambil melihat orang-orang belajar tentang sejarah perang Surabaya 1945 dan kematian Jenderal Mallaby.

Wah, bagaimana eike bisa menolong Kapten ganteng ini?

Pocong mendesah resah, sambil matanya nakal melirik pantat Edward.

 

 

…..

 

 

Malam Selasa, beberapa minggu kemudian.

Edward dan Pocong sedang tidur-tiduran di atas atap rumah, menatap bintang. Mereka bercerita tentang kampung halaman masing-masing. Tentang Inggris, dan tentang Brebes, tempat asal Pocong.

Sudah beberapa malam Tuyul tidak muncul. Sepertinya dia lagi dapat tugas keliling mencari duit. Yah, begitulah kerjaannya.

Tapi menjelang dini hari, Tuyul muncul sambil lari-lari kesenengan. Di atas atap dia langsung loncat-loncat dan memeluk Edward.

“Apaan sih kamu Yul? Bikin eike cemburu aja?”

Pocong sebel, karena dia gak pernah berani memeluk Edward.

“Jadi gini ceritanya..”

Tuyul duduk di hadapan Edward.

“Edward, ente ingin pulang ke Inggris kan?”

“Iya.”

“Ane bisa membantu.”

“Heh??? Yang bener kamu Yul?”

Tuyul senyum-senyum sambil memainkan alisnya turun naik.

“Gini, beberapa hari ini ane disuruh kerja keras oleh Tuan ane. Keliling-keliling ke rumah-rumah orang kaya di komplek seberang sana. Pokoknya nyari duit sebanyak-banyaknya.”

“Oke, terus?”

“Iya, Tuan ane butuh duit banyak banget. Karena dia mau pergi… Ke CAMBRIDGE!!! HAHAHAHAHA!”

“HA..?”

Edward dan Pocong melongo.

“Udah jangan bengong, pokoknya ane mau titipin ente sama Tuan ane buat dibawa ke CAMBRIDGE. Okeeeeeee?”

“HOREEEEEEEEEEE!!!”

Edward, Pocong, dan Tuyul menari-nari bergembira di atas atap rumah.

“AKU PULAAAAAAAAAAAAANG!!!!!”

Kuntilanak genit yang tinggal di pohon besar itu juga tertawa-tawa kesenengan.

“HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIIIIII..!!!!”

 

 

 

……………………… Sementara itu di dunia lain.

“Pah.. denger suara perempuan ketawa gak? Mama takuuuuutttt..”

 

 

…..

 

 

Malam hari menjelang keberangkatan Edward ke Cambridge.

“Apppaaaaaa? Jadi saya harus masuk ke botol kecil ini? Kamu sudah gila ya Yul?”

Edward mendelik sewot.

“Ya terus gimanaaaaaa? Cuma begini cara satu-satunya biar bisa bawa ente ke dalam tas.”

Tuyul gak kalah sewot.

“Tapi gimana cara saya bisa masuk ke siniiiiiiii?? HIH!”

“Udah pokoknya ente ikutin apa kata ane.”

Edward akhirnya pasrah. Dia memeluk Pocong yang sesenggukan dari tadi, lalu memeluk Tuyul. Inilah perpisahan bagi tiga hantu yang bersahabat itu. Hantu lokal dan hantu bule. Mereka telah bersama selama bertahun-tahun. Tinggal di komplek sini dengan tenang. Hanya manusia yang kadang terlalu iseng memasuki dunia mereka, lalu seenaknya menyuruh pergi, tanpa menunjukkan ke mana tempat perginya.

Edward menutup mata, mencium bunga yang diberikan oleh Tuyul. Lalu sesaat dia merasa tubuhnya sangat ringan seperti asap, dan masuk ke botol kecil yang ada di lantai. Botol itulah yang akan dititipkan ke dalam tas majikannya si Tuyul dan dibawa terbang ke Inggris, besok pagi.

 

 

…..

 

 

Malam Selasa, beberapa hari kemudian.

Tuyul dan Pocong tidur-tiduran di atas atap rumah Edward dulu.

“Semoga Edward sampai di Inggris dengan selamat ya Yul.”

“Iya, semoga…. saja….”

“Maksud kamu?”

“Mmmmmm…”

“Kenapa YUL??”

“Eh.. itu.. annuu… Cambridge..”

“IYA KENAPA??”

“Ane baru tau Cong, kalo ternyata Cambridge itu ada dua. Satu di Inggris, satu lagi di Massachusetts, Amerika..”

“HAAAAAAAHHHH?!?!?!?! Terus Tuan kamu pergi ke Inggris apa Amerika???”

“Itu dia, ane gak tau pasti. Pokoknya ke Cambridge…”

………………

krik..krik…krikk…kriiikk…

 

 

Cerita tentang Edward Barrington di atas hanya fiksi, walaupun peristiwa yang menyangkut kematian Jendral Mallaby adalah kejadian nyata.  Cerita ini dibuat untuk mengikuti lomba menulis blog yang diadakan oleh Mister Potato.

 

#InggrisGratis

3 Responses to “Pulangkan saya ke Inggris!

  • wakakakakk kereeen…….
    bisa aja Ente Gan, eh tapi ane juga bisa minta tolong ga sama tuyul ? biar bisa bawain ane duit, soalnya ane juga mau ke inggris nemuin gebetan ane (baca: hermione 😀 )

    heheheh tapi intinya ane doain deh, smoga impian ente ke inggris bisa kesampean Gan, amin…
    salam blogger

  • prak prok prak prok suara kaki itu, beneran suara kaki? bukan pak tarno minta tolong?

    *dikeplak*

  • eh salah email, jadi gak muncul gravatar nih. eaaaa

Leave a Reply

%d bloggers like this: