Ngopi Pagi dan Kekalahan Chelsea

“Kopi apa yang paling nikmat?”

“Kopi yang diminum sambil ngeliatin saldo tabungan yang terus bertambah.”

……………………….. okedehkaka ………………………………..

Hari ini libur nasional, tanggal merah, yang katanya untuk menghormari hari buruh internasional, tanggal 1 Mei. #Mayday.Ok, apapun hari liburnya, yang jelas timeline di twitter pagi ini lumayan diramein oleh hasil semifinal Liga Champion tadi malam. Di rumahnya sendiri, Mourinho dicekokin 3 gol oleh Simeone. Memalukan untuk manajer sekaliber Mourinho.

Timeline rame karena ada dua fanbase yang bersorak-sorai. Satu pendukung Atletico Madrid, dan satu lagi pendukung Liverpool, yang kebanyakan masih belum bisa move on dari kekalahan atas Chelsea hari Minggu lalu.

Nah, mengenai pertandingan tadi malam, menarik, dan antiklimaks. Bagaimana Mourinho yang belakangan terkenal dengan taktik parkir bis ternyata malah kemasukan sebegitu banyak, dan seperti sebegitu mudah. Kenapa?

*seruput kopi*

Menurut saya, faktor yang sangat menentukan tadi malam bukanlah Simeone, bukan juga Mourinho. Ya mereka berdua adalah manajer, tugasnya meracik tim untuk bisa mengalahkan tim lawan, entah bagaimana caranya, sepakbola indah atau parkir bus atau total football atau kick and rush, ya terserah mereka. Tapi yang tadi malam menjadi aktor penentu adalah kedua kiper masing-masing tim. Chelsea dengan Mark Schwarzer dan Atletico dengan Thibaut Courtuis.

Schwarzer adalah kiper tua, 41 tahun, (tercatat sebagai pemain tertua dalam sejarah Liga Champion) dan hanya kiper cadangan di Chelsea. Karena kiper utamanya Petr Chech sedang cedera.

Sementara Courtuis, yang ironisnya adalah kiper pinjeman dari Chelsea, masih muda, 21 tahun, dengan masa depan yang sangat cerah.

Chelsea bermain baik, Atletico juga bermain baik. Mou tidak memarkir bisnya karena Chelsea harus menyerang, dia butuh gol untuk bisa ke final. Nah, taktik Mou sudah berjalan sesuai keinginannya. Hanya saja mereka tertahan oleh Courtuis yang entah berapa kali melakukan penyelamatan sangat gemilang. Dan ingat, gol Fernando Torres ke gawang Atletico juga terjadi karena bola yang memantul dari kaki bek sehingga membuat Courtuis mati langkah. Saya yakin bola itu masih bisa diselamatkan oleh Courtuis kalau tidak memantul.

Selain itu? Serangan Chelsea harus mati di pintu kamar Thibaut Courtuis.

Sementara Mark Schwarzer harus tiga kali melihat bola masuk, yang seharusnya gol kedua dan ketiga masih bisa diantisipasi kalau dia memiliki reflek yang masih bagus seperti ketika dia masih muda.

Saat melawan Liverpool hari minggu lalu juga, Mark Schwarzer diselamatkan oleh tendangan on target pemain-pemain Liverpool (terutama Gerrard) yang bolanya kebetulan mengarah langsung ke dirinya. Seandainya bola mengarah lebih jauh ke pojok, saya yakin fans Liverpool tidak akan sebegitu dendamnya dengan taktik parkir bis Mourinho.

Saya sempat berpikir Mou akan buru-buru memarkir bisnya setelah goal Fernando Torres, tapi ternyata tidak. Padahal saya sangat berharap ini, karena ingin tau apakah Simeone dapat membongkar parkir bis Mourinho.

Jadi kalau dikatakan bis Chelsea telah hancur tadi malam, saya tidak sependapat. Karena Chelsea belum memarkir bisnya. Unggul 1-0 Mourinho malah mengganti Ashley Cole dengan Samuel Eto’o, tentu untuk lebih meningkatkan daya serang.  Mou tahu bahwa unggul 1-0 belum cukup aman.  Belum ada yang bisa mengalahkan parkir bis Mourinho.

Ironisnya, taktik menyerang Chelsea tidak didukung oleh kekuatan mereka bertahan. Terutama kiper Mark Schwarzer.

Ironisnya, Chelsea dikalahkan oleh pemainnya sendiri yang dipinjamkan ke Atletico Madrid.

 

 

 

One Response to “Ngopi Pagi dan Kekalahan Chelsea

  • menurut saya sih performa Mark Schwarzer masih dalam kondisi yang baik-baik saja dalam beberapa pertandingan terakhir. Memang Diego Simeone kali ini kampiun dalam mengalahkan Jose Mourinho 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: