Mari menikmati kopi dengan apa adanya

Hari ini, tepat setahun saya enggak menulis di blog ini. Bukan itu saja, saya juga enggak pernah melakukan aktifitas blog walking, menuliskan komentar, dan seluruh aktifitas yang menunjang eksistensi blog saya di ranah dunia online. Bahkan saya pernah berfikir untuk menutup akun twitter saya, @sambilngopiyuk, tepat setahun yang lalu. Ada apa sebenarnya? Bohong dan munafik banget kalau saya bilang, “ga ada apa-apa, kok.”

Apakah saya memaksakan diri untuk menjadi blogger, padahal saya enggak biasa menulis? Atau menulis bukanlah saya? No, kalau itu yang kalian gunjingkan, you got it wrong, babe. Saya sudah mulai menulis cerita, naskah pidato, kata sambutan, dan lain-lain sejak SD. Menulis syair lagu sejak SMP dan memulai blog sejak 2003.

Saya bukan orang yang konsisten? Ini ada benarnya. Saya gampang terdistraksi.

Lalu kenapa aktifitas blogging, youtubbing, saya hentikan dengan tiba-tiba? Padahal google adsense saya sudah approved, youtube adsense pun sudah aktif sejak 2010, (ok, youtube adsense adalah kecelakaan, haha. Saya baru menyadari youtube adsense saya aktif baru sekitar 2015. Taik ya?)

Hidup yang easy

Di dunia blogging, sosial media, buzzer, ada hal-hal yang mengganggu perasaan saya. Saat ini internet marketing adalah koentji. Semua konten yang viral pasti penyebaran link-nya melalui internet. Jejak digital seakan mustahil untuk dihapus dari dunia maya. Aktifitas “mencari uang dan menyebar ketenaran” melalui internet ini yang mengganggu saya. Salah ga sih? Ya enggak, saya sama sekali enggak menghakimi mereka yang melakukan itu. Tetapi pada intinya, saya yang tidak ingin ikut (lagi) berenang di kolam itu.

Saya tidak memungkiri bahwa sangat banyak hal yang saya dapatkan dan pelajari melalui kegiatan ramai-ramai buzzering itu. Jalan-jalan, uang, banyak teman baru, dan lain-lain. Siapa yang bisa menolak? Asyik kan? Asyik banget. Cuman, semakin banyak yang ikut berenang, sebuah kolam renang enggak akan terasa nyaman lagi.

Saya pernah ngetwit, “pada awalnya tempat bermain selalu asyik, sampai akhirnya orang-orang norak ikut bermain.”

Apa jadinya kalau tempat seindah ini menjadi kotor?

In real life, kalian bayangkan sebuah tempat wisata yang adem dengan kolam renang yang airnya segeeeer banget. Asyik buat foto-foto, makanannya enak, holiday pun jadi perfect, yekan? Nah begitu tempat itu menjadi sangat terkenal, semakin banyak orang yang datang. Kita tentu tidak memiliki hak untuk melarang mereka datang, wong itu tempat umum kok. Tempat yang asyik seketika menjadi enggak asyik ketika mereka yang norak ikut nimbrung. Yang norak itu, mereka yang suka membuang sampah sembarangan, membawa tape recorder sendiri dan menyetel lagu dangdut pantura dengan volume sangat keras padahal tidak semua orang suka genre tersebut, mereka asik tertawa sesamanya, foto-foto, membiarkan anak-anak mereka bermain tanpa pengawasan. Yang namanya anak kecil, kadang di antara mereka ada yang cara bermainnya membahayakan anak kecil lain, sementara orang tuanya entah kemana.

Ini yang menjadi hal pertama saya rasakan.

Kenyamanan saya di dunia internet, sosial media, menjadi terganggu dengan banyaknya aktifitas buzzering yang tidak mengenal waktu. Pernah suatu ketika, saya lebih aktif bersosial media setelah lewat tengah malam dengan kalimat pembukaan “apakah sudah saatnya ngetwit tentang rindu?” Men, ternyata di tengah malam saat kita sedang merindu pun, masih berseliweran hashtag-hashtag orang ngebuzzing. Apa boleh buat, ini membuat sangat banyak teman-teman yang akunnya saya muted.

Why? Prinsip saya, jangan mengontrol hal eksternal yang di luar kendali karena itu bikin pusing, tapi cukup kontrol hal internal aja, yang bisa kita kuasai. Tentu saya enggak memiliki keinginan untuk mengomeli teman-teman yang masih jualan di tengah malam. Mereka nyari duit, men. Mungkin demi bayar cicilan, mungkin buat makan besok hari, mungkin buat membeli mimpi mereka. Yang saya lakuin cukup memencet tombol mute, bisa untuk akun atau untuk keywords hashtagnya.

Sampai di sini cukup? Belum.

Saya enggak mau menjadi orang munafik, maling teriak maling. Kalau saya merasa terganggu, masa iya saya tetap menjadi pengganggu? Bisa aja banyak orang yang mengalami hal serupa dengan saya, ya gak? Saya memutuskan untuk berhenti menjadi penggiat hashtag berbayar itu, berhenti kasak-kusuk mencari job tentang itu.

Hal kedua yang saya rasakan apa?

Di dunia blogging, salah satu cara nyari duit adalah dengan menulis untuk orang lain. Istilahnya ghost writer. Saat ini di pasaran banyak ghost writter dari gua antah berantah yang tiba-tiba muncul dan membanting harga. Ini menyakitkan. Bayangkan ada orang yang mau menulis 500 kata dengan bayaran, let say 5000 rupiah? Men, bahkan biaya transfer antar bank di mobile banking aja lebih mahal dari itu! Akhirnya yang terjadi harga pasaran berubah drastis. Berapa kali saya mendapat email untuk menjadi ghost writter dengan pembukaan harga tawar yang innalillah… Sakit hati saya. Di belakang layar saya berkomunikasi dengan beberapa blogger top yang viewnya jutaan, termasuk dengan almarhum mas cumilebay.com, ternyata mereka juga sering mendapat tawaran yang murah mencret. Hahahaha.

Simbok Venus juga pernah mewanti-wanti, jangan jual harga lu murah, nanti lu dipandang murahan sama orang lain. Siapapun elu, jangan pernah jual harga diri lu murah.

Orang lain menjual karya mereka dengan murah? Ya silahkan. Mungkin mereka kepepet dengan bayar hutang ke warteg.

Kemarin saya juga melihat postingan tentang lomba membuat design yang hadiahnya 1juta rupiah. Bayangin men, karya lu yang akan dipakai untuk promosi selama paling enggak satu tahun cuma dihargai satu juta rupiah? Padahal dari design itu si pemilik merk akan mendapatkan keuntungan yang enggak terhitung besarnya.

Hal ketiga yang saya rasakan?

Istilah bounty hunter, glory hunter, sudah ada sejak lama. Mungkin sejak jaman koboy di Amerika yang memburu hadiah uang dollar berdasar petunjuk selebaran kertas bergambar muka seseorang dengan tulisan besar “WANTED”. Di dunia blogging dan sosial media para pelaku bisnis internet marketing sering mengadakan lomba-lomba untuk memiralkan produk dan champaign marketing mereka. Ini cara yang sangat manjur, sih. Budget bisa lebih murah ketimbang beriklan melalui tv dan tingkat enggagement kepada masyarakat juga lebih tinggi.

Seperti yang saya bilang di atas, tempat bermain menjadi enggak asyik lagi kalau orang-orang norak sudah ikut bermain. Di sini, orang-orang norak itu bisa sebagai bounty hunter, bisa juga sebagai pelaku bisnis yang mengadakan sayembara. Pernah enggak sih kalian mendengar sebuah lomba yang pemenangnya sudah diatur? Beberapa sempat viral kok. Saya juga pernah menemukan indikasi pengaturan tersebut melalui sebuah lomba di instagram. Ketika akun pemenang entah siapa dengan foto-foto yang biasa saja. Tapi saya lebih memilih diam, bukan level saya mengurusi hal-hal murahan seperti ini. Biar saja mereka bermain di lembah nista. Seperti kata @aMrazing, “I’m busy enjoying my life, darling.” Muehehehehe.

Di instagram, para bounty hunter melakukan kecurangan “minjem foto” untuk memenangkan sebuah lomba. Kalo menang, hadiahnya kan bisa berbagi dengan pemilik foto.

Hal seperti ini yang menjadi korban adalah mereka yang serius dan sungguh-sungguh mengikuti lomba dengan jerih payah sendiri. Hunting foto itu bukan sekedar jeprat-jepret lho. Untuk pergi ke lokasi foto aja sudah membutuhkan biaya yang enggak sedikit.

Hal yang sama juga pasti dirasakan blogger yang sungguh-sungguh ikut sebuah lomba blogging. Membuat postingan di blog itu bukan sekedar orat-orat menggabungkan kalimat. Kalau ingin sebuah tulisan menjadi bagus, pasti ada riset, penyesuaian foto-foto, dan lain-lain.

Bayangkan jerih payah mereka ini menjadi sia-sia karena pemenang sudah ditentukan atau didapat orang lain dengan cara yang enggak asoy.

Puncaknya yang saya rasakan apa?

Saya ingin kembali berkegiatan di blog, di sosial media, tanpa embel-embel bayaran dari orang lain yang membuat saya seperti terkungkung, juga tanpa mengejar hadiah. Saya ingin menulis sesuka saya seperti Teppy dalam review movie suka-suka. Saya sudah enggak mau memikirkan keywords, SEO, backlink, dan lain sebagainya yang akan membuat blog saya memiliki pageviews tinggi. Kalau ada sumber yang harus saya sebutkan, ya saya sebutkan, kalau enggak ya sudah. Kembali ke tujuan awal saya ngeblog, menuliskan apa yang menjadi uneg-uneg saya.

Saya sangat beruntung bukan orang yang kehidupannya tergantung pada satu hal: dunia internet marketing dan sosial media. Sehingga saya bebas berekspresi tanpa takut akan image diri menjadi rusak. Saya merasa lebih plong tanpa membohongi diri menjadi orang lain.

Kopi itu sederhana, hayalan kita yang membuatnya megah. Eh wait, semua stuff yang saya kenakan di foto itu sudah enggak ada. sialan! Sendal gunung putus di Bali, celana sobek di Kalimantan, tshirt entah kemana, arloji lenyap di Kepulauan Seribu, kacamata wassalam, kampret.

Seperti kopi yang ada di meja, cukuplah kopi itu kita nikmati seperti apa adanya yang tersaji di dalam cangkir. Enggak usah berpikir ini kopi digunting atau digiling.

Gilingan lu pada!

 

 

2 Responses to “Mari menikmati kopi dengan apa adanya

  • welcome back, mas.. sambil ngupi2 saja nulisnyaa..

  • baru pertama ke blog ini. senang tiap ‘nemu’ blogger yang masih bersemangat untuk nulis karena suka, bukan karena cari duit belaka. ya walaupun ga salah juga cari duit dari blog, tapi blog yang ‘suka-suka’ secara umum lebih menyenangkan bacanya 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: