Mari Kita Kemping Di Bukit Batas!

Bagi sebagian besar anak laki-laki, kemping adalah impian akan dunia lain. Dunia di mana dalam semalam mereka akan menjadi manusia dewasa yang mandiri, berani, gagah, dan pahlawan bagi diri sendiri. Apabila di rumah mereka masih harus  mengikuti aturan rumah; jam mandi, jam makan, jam tidur. Maka begitu mereka mendirikan tenda, merekalah penguasa diri mereka sendiri; mandi atau enggak, kapan makan, atau enggak tidur semalaman.

Saya adalah anak lelaki kecil yang sangat manja. Bahkan sampai usia SMP, saya seperti hidup penuh ketergantungan dengan orang lain. Ibaratnya, andaikan mengunyah nasi bisa diwakilkan, maka saya akan meminta orang lain untuk itu.  Anehnya semua kemanjaan itu berbalik 180^ dengan saya ketika berada di alam liar: kemping. Saya sanggup membawa ransel berat berjalan berkilo-kilo meter dengan tawa riang, duduk diam seorang diri di tengah hutan malam-malam tanpa ketakutan, atau tidur dengan pulas padahal hujan menerpa tubuh.

Kemping telah merubah segalanya. Pertama kali saya kemping sewaktu kelas 6 SD, ikut Pramuka di sekolah. Yang lalu kegiatan kemping dan alam liar semakin menjadi pada saat SMP, SMA, dan kuliah. Tampaknya buku-buku komik yang saya baca sewaktu kecil mempengaruhi jiwa saya seperti Wiro Anak Rimba Indonesia, Tarzan, Huckleberry Finn, Tom Sawyer, dan lain-lain.

Bagi anak-anak yang tinggal di perkotaan, kemping adalah barang mewah. Alasannya klise, tidak ada tempat yang layak. Kemping kok mencari tempat yang layak? Justru kemping mencari tempat yang tidak layak. Makanya beberapa EO dengan tangkas melihat hal ini lalu menjadikannya lahan bisnis, kemping mewah.

Kalimantan itu penuh dengan tempat kemping. Enggak usah terlalu repot-repot. Hanya perlu jalan kaki sedikit biasanya sudah ketemu tempat yang cocok untuk memasang tenda. Sewaktu SMA, saya pernah iseng ingin kemping di belakang rumah yang lahannya masih perkebunan dan persawahan. Jalan kaki sekitar 500 meter, seorang diri.  Tetapi berakhir dengan MENDING PULANG AJA karena angkernya yang kebangetan plus juga gangguan rombongan babi hutan.

Kebetulan, bulan Juni lalu, saya pulang ke Banjarmasin untuk satu urusan kerjaan sambil jalan-jalan kulineran dan tentu saja KEMPIINGG!


Salah satu catatan kulinernya ada di sini: Genitnya Mie Bancir di Banjarbaru


Nah, untuk kemping akhirnya saya berangkat bersama 3 saudara sepupu dari Daya Family. Etapi mewujudkan rencana kemping enggak segampang mewujudkan rencana pesta hura-hura. Tarik ulur, hampir saja gagal di menit-menit terakhir. Gimana alotnya negosiasi untuk kemping, enggak perlulah diceritain di sini. Direncanakan awalnya yang ikut sekitar 7-8 orang, tetapi yang kemon cuma berempat. Yang enggak ikut kena denda rongatus ewu. Saudara sih saudara, urusan denda gak kenal saudara. Cih!

buki-batas

Ceria sebelum berangkat, yang penting rongatus ewu bagi yang enggak ikut.

Sesuai kesepakatan, tujuan kemping adalah di Bukit Batas, Danau Riam Kanan, Banjarbaru. Dari meeting point kami saat itu, rumah almarhum kakek di daerah Liang Anggang, membutuhkan waktu 45 menit naik sepeda motor sampai ke pelabuhan di Waduk Riam Kanan. Lalu dari pelabuhan perjalanan dilanjutkan naik kapal kecil (klotok) selama 45 menit lagi.

Kami tiba di pelabuhan menjelang sore. Ternyata kapal yang kami pesan belum datang. Jadi sambil menunggu, baiknya mampir dulu di warung makan. Warung ini cuma menyediakan bermacam nasi bungkus dan kue penganan. Lauk nasi bungkusnya ada ayam, ikan gabus, dan menjangan. Hayoooo apa itu menjangan? Hehehe. Menjangan itu daging rusa kecil khas yang memang masih bisa diburu secara bebas di daerah Kalimantan. Serat daging menjangan lebih lembut dibanding daging sapi. Biasanya dimasak dengan bumbu cabe merah.

Daging Manjangan (rusa), satu porsinya berapa ya? 9000 kalo gak salah

DSC06675-01

Pas dibuka ternyata cuma seuprit. Teksturnya lebih lembut dari daging sapi, biasanya dimasak dengan bumbu cabe merah (masak habang).

Sebenarnya kalo dipikir-pikir, tim kemping saya kali ini rada gemblung juga sih. Berangkat kemping hari Minggu sore, di mana orang-orang sudah pulang dari tamasya, kemping, jalan-jalan, siap kembali ke rumah masing-masing karena hari Senin sudah kembali kerja.  Jadi di pelabuhan ketika semua orang naik dari kapal setelah berlibur, lah kami berempat malah menunggu kapal untuk berangkat.

DSC06679-01

Pelabuhan kecil hanya untuk kapal jenis klotok. Kami berangkat saat orang-orang sudah mau pulang.

Saya cerita sedikit mengenai Danau Waduk Riam Kanan ini ya. Waduk ini dibangun dengan menciptakan danau buatan di atas bukit dengan membendung 8 buah anak sungai yang menenggelamkan sekitar 9 buah desa di luas lahan 9000an hektar. Pengerjaan dimulai pada tahun 1958 sampai akhirnya diresmikan pada tahun 1973 oleh Presiden Soeharto. Ketika air tidak begitu dalam, kita bisa melihat bekas-bekas rumah yang dulu  ditenggelamkan dan pohon-pohon mati yang masih berdiri tegak di dasar danau.


Secara lengkap sejarah pembuatan Waduk Riam Kanan bisa dilihat di sini: Waduk Riam Kanan, dari 1958 sampai sekarang


Saat ini Danau Riam Kanan menjadi objek wisata bagi masyarakat sekitar Banjarbaru-Martapura. Banyak spot mancing yang bisa ditongkrongin seharian dan desa-desa yang baru dibangun di tempat terkucil ini menambah ramai kehidupan. Saya sebut terkucil karena desa-desa yang terletak di pesisir danau hanya bisa diakses melalui kapal klotok. Mau lewat darat? Bisaaaaaaa… tetapi jarak 10 kilometer bisa ditembus dalam waktu 3 hari. Saya enggak becanda soal ini. Kebetulan satu sepupu saya yang batal ikut kemping karena kelelahan setelah baru saja selesai acara offroad di daerah situ. Dia yang merasakan jarak 10 kilometer dicapai dalam 3 hari dengan mobil!

***

Ketika baru berangkat, hari masih terang, ombak kecil, suasana santai.

Perjalanan di atas kapal klotok menjelang senja menuju Bukit Batas sungguh memanjakan mata. Gugusan bukit di pegunungan Meratus yang disapu semburat matahari sore, warna langit yang memerah lalu perlahan menjadi gelap, ditutup dengan pudarnya sunrise di balik bukit. Sepi. Hanya kami, suara kapal, ayunan ombak kecil, dan kegelapan malam di sini.

 

sunset di bukit batas

Sunset yang membius, melenakan mata. Ketika matahari tenggelam di balik bukit.

Di atas kapal kaki saya tertusuk serpihan kayu lantai kapal, setelah sekian lama sakitnya enggak hilang saya tahu ini adalah masalah. Tetapi karena masih gelap tanpa lampu, saya diam saja menikmati rasa sakit.

Pas adzan Isya kami tiba di pelabuhan hutan Pinus. Di sini juga benar-benar gelap tanpa ada penerangan. Kaki saya masih sakit untuk berjalan, begitu diperiksa benar dugaan saya, ada serpihan kayu yang masih tertinggal di balik kulit telapak kaki. Kecil tetapi sangat mengganggu, hal ini berbahaya bila dibiarkan. Bisa infeksi dan bernanah. Operasi darurat harus dilakukan, hanya mengandalkan lampu sentar dan pisau kecil, saya dibantu adik “membelah” jempol kaki saya. Lumayan juga, butuh waktu sekitar 30 menit sampai akhirnya tusuk kayu menyebalkan itu bisa dicabut.

Dari pelabuhan kami memasuki desa kecil, berjalan kaki sekitar 10 menit. Untuk naik ke Bukit Batas, setiap tamu harus lapor ke kepala desa dan dikenakan biaya restribusi sebesar 5000 per orang. Hal ini dicatat secara tertib dalam buku tamu dan buku kas desa. Uang tersebut digunakan untuk biaya kebersihan area Bukit Batas.

Dari desa berjalan kaki sampai ke puncak hanya butuh waktu 20 menit, katanya. Ini kata kepala desa. Itu biasanya waktu yang digunakan oleh penduduk desa, katanya. Oke, berarti kalo waktu yang dibutuhkan oleh bukan penduduk desa sekitar 40 menit, dua kali lipatnya. Ternyata waktu yang kami butuhkan hampir 2 jam! Walaupun bukit ini tingginya tidak lebih dari 1000 mdpl, tetapi treknya lebih berat dari Gunung Salak. Lumayan menyiksa bagi om-om 40 tahun ini. Berapa kali kami berhenti untuk mengatur napas. Adik saya sampai 3 kali muntah karena kelelahan.

Di puncak tanahnya lumayan lenggang. Luasnya sekitar setengah lapangan bola. Ada warung kopi yang tutup, ada toilet umum sederhana, dan tentu saja pemandangan yang menakjubkan! Bintang-bintang seperti dalam jangkauan tangan, lalu di bawah sana terhampar Danau Riam Kanan dengan pulau-pulau kecilnya yang dulu merupakan puncak bukit.

DSC06704-01-01

Suguhan pemandangan di bawah bintang-bintang.

Sesaat sebelum mendirikan tenda, ada seekor ular kecil yang cantik melintas di dekat kaki. Berwarna hitam pekat dengan satu garis merah menyala yang melintang lurus dari kepala sampai ekornya. Ular itu ditangkap dan disimpan dalam botol oleh sepupu saya untuk di bawa pulang. Dia memang pawang ular. Kobra aja sering diajak main-main.

DSC06725-01

Santai bersama Orang Tua. Ingatlah Orang Tua selalu di manapun berada  :))

Di puncak yang pekat dan sunyi itu hanya ada kami berempat, seolah-olah kamilah pemilik bukit itu. Mungkin ada penghuni lain yang tidak tampak menemani kami, tetapi masing-masing bisa menjaga diri enggak saling iseng mengganggu. Kami santai, mereka tenang.

Sungguh saya sangat menikmati malam di puncak Bukit Batas itu. Berbaring menatap bintang, malam yang sunyi dengan suara angin. Suara katak memanggil hujan, suara binatang-binatang lainnya melengkapi malam yang diterangi sinar bulan.

kemping di bukit batas

Sinar bulan, pegunungan Meratus, kesederhanaan yang agung.

Menjelang subuh saya terbangun karena mendengar suara ada yang makan indomi kering di samping tenda. Saya pikir itu salah satu sepupu yang kelaperan. Tetapi kok makannya banyak banget ya? Penasaran saya buka tenda, dan… cukucukucuk.. dua ekor anjing liar lari terbirit-birit karena kaget. Syit! Terlambat, semua persediaan makanan sudah habis dibabat sama dua anjing itu. Dem!

Ternyata dua orang sepupu saya yang tidur di meja warung kopi tutup itu mengira saya yang kelaperan lalu makan indomi kering. Hahahaha. Duga-menduga yang berunjung kami kehabisan bahan makanan.

Sambil tertawa-tawa menahan kesal saya berkeliling berburu sunrise. Sayangnya, matahari tidak terbit dengan cantik hari itu, sisa-sisa hujan tadi malam masih membawa kabut dan gerimis di sebagian puncak bukit pegunungan Meratus.

 

DSC06745-01

Matahari pagi yang malu-malu di balik awan gerimis.

 

DSC06758-01

Saat memoto ini, tiba-tiba saya teringat pegunungan Himalaya. Hanya saja ini pegunungan Meratus dengan hijau hutan yang mulai memudar.

 

DSC06760-01

Pagi itu saya dikerumunin lebah madu yang entah dari mana datangnya. Mereka enggak akan menyengat asal tidak disentil.

 

IMG_-tgrpsu-01

Pagi hari di puncak Bukit Batas

Karena sudah tidak ada yang kami tunggu dan tidak ada lagi yang bisa di makan, kami turun pagi itu juga. Mungkin masih bisa memancing ikan di bawah, lumayan untuk dibawa pulang. Sebelum pulang, kami membersihkan sampah-sampah bekas tadi malam agar bukit ini tetap rapi dan nyaman.

Dalam perjalanan turun, baru kami bisa melihat dengan jelas bagaimana jalan yang kami lalui tadi malam. Untung kami naik saat gelap, tidak tahu seperti apa medan yang kami lewati, hanya tahu jalannya mendaki dengan sadis. Ternyata… khas hutan Kalimantan. Walaupun jalan setapak tetapi tetap saja, hanya dilihat  sudah cukup membuat hati ciut.

Tetapi lelah dan pegal bisa saya lupakan demi melihat dan merasakan indahnya pemandangan di Bukit Batas.

DSC06771-01-01

Pemandangan yang menakjubkan di balik Bukit Batas.

Bagi saya yang berpuluh-puluh tahun tinggal di Jakarta, keindahan seperti ini adalah hal yang sangat mahal sekali. Desa di kaki Bukit Batas juga ternyata sebuah desa kecil  yang nyaman dilihat. Kehidupan yang bersahaja tanpa napsu duniawi yang berlebihan, bersahabat dengan alam yang menjaga mereka. Semua seperti sebuah orkestra megah yang saling mengisi dengan anggun agar tidak sumbang.

 

DCIM100GOPROGOPR0491.

Pulau kecil yang ditumbuhi pohon pinus, teduh, nyaman, sejuk.

 

DSC06807-01

Pelabuhan hutan Pinus yang ternyata tempat dengan ketenangan yang menenangkan batin.

Pagi yang cerah itu, beberapa bocah terlihat berangkat sekolah dengan ceria, riang, penuh semangat. Saya tertegun. Sungguh indah dunia mereka. Terlebih ketika ada seorang anak lelaki yang dengan bangga memegang bendera merah putih, berjalan menyeberang jembatan mengenakan seragam sekolah tetapi hanya mengenakan sendal jepit. Sungguh sebuah nasionalisme yang polos.

DSC06797-01

Saya terpukau dengan pemandangan ini. Masa depan Indonesia ada di tanganmu, Nak.

 

Dalam perjalanan pulang di atas kapal klotok, saya menikmati birunya langit. Di Jakarta langit cerah dengan sedikit awan itu langka, lho. Butuh libur 3 harian baru bisa terlihat langit bersih tanpa polusi. Itu juga warna birunya kadang masih terlihat pucat.

 

DSC06822-01

Desa-desa kecil di pesisir danau Riam Kanan. Kebanyakan mereka hidup dengan membuat keramba ikan.

 

DSC06817-01

Dikelilingi oleh pegunungan Meratus. Megah ya?

Saya mengimpikan, seandainya ada investor yang mau membuat sebuah resort di sini dengan cottage terapung seperti di Derawan, lalu menambahkannya dengan beberapa macam wisata air seperti water boom, banana boat, atau mungkin seluncuran air yang ekstrim dari puncak bukit yang tidak begitu tinggi, pasti akan menjadi hal baru dan sangat berpotensi. Lalu untuk menikmati pemandangan dari atas bisa dibuat kereta gantung antar pulau-pulau kecil di situ.

Sebelum semua itu terwujud yang mungkin memerlukan waktu 5-10 tahun lagi, bisa kalian coba dengan kemping dulu di Bukit Batas menikmati bintang dan kemegahan alamnya. Bagaimana?



 

 

2 Responses to “Mari Kita Kemping Di Bukit Batas!

Leave a Reply

%d bloggers like this: