Kopi Kong Djie, Kopi Keakraban di Belitung

Pernah ke Belitung? Atau punya rencana untuk ke Belitung? Tidak perduli apakah kamu traveler ransel atau koper, hotel atau home stay, paket wisata atau backpacker, kamu harus berkunjung ke Kedai Kopi Kong Djie yang ada di kota Tanjung Pandan, Belitung.

kopi-kong-djie

Kedai Kopi Kong Djie, sejak 1943

Kedai ini terletak di belokan antara jalan Kemuning dan jalan Siburik Barat, kota Tanjung Pandan, Belitung. Apabila ingin berjalan kaki, cukup 5 menit dari Monumen Batu Satam, yang boleh disebut sebagai pusat kota, karena dekat dengan pasar dan keramaian lainnya. Masih bingung juga? Tanya sama orang yang ada di sana. Penduduk Belitung ramah-ramah, kok.

Pasti kalian ingin lebih tahu lebih dulu apa itu Monumen Batu Satam? Batu Satam adalah batu yang berwarna hitam yang menjadi ciri khas daerah Belitung yang kaya akan timah. Proses terbentuknya batu Satam itu merupakan hasil proses alam yang terjadi sebagai reaksi atas tabrakan yang terjadi antara batuan dari langit (meteor)  yang menghantam lapisan bumi di bagian yang memiliki kandungan timah sangat tinggi, jutaan tahun yang lalu. Batu Satam ini memiliki tekstur urat yang sangat khas dan hanya ada di pulau Belitung. Bagi para kolektor, batu ini lumayan menjadi buruan karena keunikannya.

monumen-batu-satam

Monumen Batu Satam. Nah, dari bundaran ini, letak Kedai Kopi Kong Djie hanya sekitar lima menit berjalan kaki menuju arah pelabuhan/pantai.

Kedai Kopi Kong Djie mulai buka sejak jam enam pagi sampai jam sepuluh malam, setiap hari. Apabila pengunjung sedang ramai, biasanya ada injury time sampai jam sebelas malam. Lalu apa sih istimewanya kedai kopi ini dibanding yang lain? Bukankah di Belitung banyak bertebaran kedai kopi seperti di daerah Manggar, Belitung Timur, di mana di sana budaya ngopi sepertinya lebih hidup.

Keistimewaan pertama, kedai kopi ini terletak di Tanjung Pandan, di mana bandara ada di sini. Sehingga tidak perlu menempuh perjalanan lebih jauh apabila waktu kalian terbatas. Sedangkan untuk menikmati kopi Manggar, perjalanan ke sana ditempuh dengan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil. Ingat ya sob, sejam naik mobil di Belitung itu jangan disamakan dengan sejam naik mobil di Jakarta. Di Belitung tidak ada macet sama sekali.

kopi-kong-djie

Sudut jalan tempat kedai kopi Kong Djie

Keistimewaan kedua adalah, kedai kopi ini sudak ada sejak tahun 1943, sebelum Indonesia menyatakan merdeka tahun 1945. Artinya kedai kopi ini menjadi saksi sekian banyak peristiwa pahit, kelam, manis, dan segala perubahan yang ada di pulau Belitung. Menurut Koh Ishak, kedai kopi ini pertama kali dibuka oleh orang tuanya, lalu sekarang dia yang meneruskan.

 

Koh Ishak sedang menyiapkan kopi

Sebenarnya ya, di daerah Belitung bukanlah tempat yang bagus untuk menanam kopi. Mereka justru mendatangkan bubuk kopi dari luar pulau yaitu Sumatera dan Jawa dan menyampurnya sehingga jadilah kopi khas sana. Nah lho, lalu kenapa budaya ngopi di sana menjadi sangat kental? Menurut Koh Ishak, semua ini tidak lepas dari sifat kekeluargaan dan ramah tamah yang ada di Belitung. Tingkat kriminalitas yang terjadi di pulau Belitung amat sangat rendah. Bahkan peristiwa pembunuhan bisa dihitung tidak lebih dari 1o kejadian dalam setahun. Rendahnya tingkat kriminalitas ini juga dibanggakan oleh beberapa orang yang sempat saya ajak ngobrol selama berada di Belitung dalam rangka melihat penampakan Gerhana Matahari Total 2016.

Saya mengamati kesibukan dan pembicaraan para pengunjung yang datang. Semua dari berbagai kalangan. Ada beberapa pelancong, penduduk asli, baik dari suku Melayu ataupun dari suku China. Topik pembicaraan sangat luas, terutama yang saya dengar dari penduduk lokal. Setiap ada pengunjung lain datang yang kebetulan penduduk lokal juga, biasanya mereka saling sapa karena saling kenal. Pada saat pelancong datang pun, tidak ada tersirat rasa penasaran, keingintahuan, atau rasa penuh selidik. Sehingga siapapun yang datang akan segera merasa nyaman.

Mereka asik bercerita tentang nostalgia ketika kuliah.

Bentuk kedai memang masih sangat sederhana, jangan disamakan dengan kedai kopi/coffee shop yang ada di Jakarta. Beda, men. Beda market, beda tempat, beda kepentingan, dan beda budaya ngopi.

kopi-kong-djie

Salah satu sudut kedai kopi Kong Djie

Di kedai Kong Djie, saya memesan dua jenis kopi yang mereka sediakan, yaitu kopi hitam dan kopi susu. Harga secangkir kopi htam hanya Rp8000 dan secangkir kopi susu hanya Rp 10000. Mure ye? Lalu seperti apa rasa kopi yang ditawarkan? Kopi hitam arabica Kong Djie terasa ringan di mulut dengan tingkat kepahitan yang rendah. Bahkan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya menghabiskan kopi hitam tanpa campuran gula sama sekali.

Kopi itu memiliki rasa yang berbeda, bahkan untuk kopi yang sama, bisa menghasilkan rasa yang berbeda ketika dikecap oleh orang yang berbeda. Dan kopi yang sama yang dikecap oleh orang yang sama akan menghasilkan rasa yang berbeda saat dinikmati di waktu yang berbeda. Haha. Nah, saya kan memiliki cara tersendiri untuk menikmati kopi. Sambil menutup mata, menghirup aroma kopi, mengecap sesendok, merasakannya di lidah, lagu apa yang terlintas di benak saya?

Ngobrol di warung kopi, sentil sana dan sini. Sekedar suara rakyat kecil, bukannya mau usil.

Ha, kalian tau itu lagu siapa? Ha… itu adalah lagu “mars” nya kelompok lawak Warkop DKI, Dono Kasino Indro yang legendaris itu.

kopi-kong-djie

Kopi hitam Kong Djie

Iya, lagu itu yang paling pantas untuk menggambarkan suasana bersahaja kedai kopi Kong Djie. Koh Ishak, yang selalu sibuk, melihat saya duduk sendirian, lalu mengambil bangku dan menemani. Dari mulut dia lah banyak sekali saya dengar cerita-cerita tentang Belitung. Dia bilang, salah satu syarat utama untuk ngopi di Belitung adalah; tidak memiliki telinga panasan. Karena obrolan di kedai kopi sangat luas, sangat akrab, dan sangat tajam. Justru karena keakraban yang luar biasa itu makanya pengunjung bisa bicara bebas tanpa takut ada yang tersinggung. Lalu bagi yang telinga panasan? Haha, mending ngopi aja sendiri di rumah. Begitu kata Koh Ishak.

Oh iya, kenapa saya bilang budaya ngopi di sini sangat berbeda dengan di Jakarta? Di sini pengunjung datang untuk menikmati kopi sambil ngobrol satu sama lain. Bukan untuk datang dan asik main gadget satu sama lain.

Dari Koh Ishak pula saya jadi tahu ternyata harga tanah di kota Tanjung Pandan itu sudah sangat tinggi. Dia bilang tidak kalah dengan daerah Kelapa Gading, Jakarta. Uedan. Banyak hal yang dia ceritakan, termasuk hal-hal yang off the record. Dari semua cerita itu, yang paling saya tunggu adalah daftar tempat yang harus saya kunjungi selama di Belitung, yang jarang menjadi tujuan wisata. Salah satunya adalah nasi pecel khas Belitung yang ada di jalan Veteran. Dia jelasin kalau nasi pecelnya itu dibungkus dengan daun simpor, yang merupakan daun khas Belitung. Bentuknya agak mirip dengan daun pohon jati, hanya saja tidak ada bulu-bulu yang seperti duri halus pada daun jati. Ketika saya tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk daun simpor, Koh Ishak memanggil salah satu pengunjung yang ada di situ lalu menyuruhnya memperlihatkan foto daun simpor yang ada di handphonenya.

Segelas kopi dan coretan tangan Koh Ishak tentang letak warung nasi pecel daun simpor

Saya ngobrol tanpa terasa sudah melebihi jam 10 malam, tetapi Koh Ishak menahan saya untuk pergi, beberapa temannya yang datang ikut nimbrung. Obrolan pun menjadi semakin hangat, dan saya hanya banyak mendengarkan mereka bercerita tentang Belitung.

Menjelang jam 11 malam, saya pamit untuk balik ke hotel, karena besok masih harus ada kegiatan lagi. Di perjalanan pulang, saya menemukan satu bukti bahwa daerah Belitung itu memiliki tingkat kriminalitas yang sangat rendah, yaitu ketika saya melewati sebuah sepeda motor yang terparkir sendirian di pinggir jalan, sementara yang punya sedang masuk box ATM sekitar 20 meter dari situ, di sepeda motor itu, kunci kontaknya tergantung begitu saja!

 

7 Responses to “Kopi Kong Djie, Kopi Keakraban di Belitung

  • Aku itu sebenarnya bukan penggila kopi. Tapi selalu pemasaran ingin mencoba kopi dari daerah-daerah yang pernah kukunjungi. Meski ujung-ujungnya mencret. Hahaha. Akan aku coba saat ke Belitung nanti

  • Ini tempat wajib di singgahi kalo ke belitung, meskipun menurut gw kopi nya biasa aja hehehe

  • Sayangnya ane menolak ajakan ki demang buat ngopi hari rabu malam, sudah ngantuk berat. Anyway, pantes kamis pagi langsung cari pecel, malemnya dah dapat bocoran

  • jadi kangen belitung lagi, bener tuh di belitung aman banget, ampe kagum liat banyak motor parkir di jalan padahal kunci masih ngegantung. unik bener

Leave a Reply

%d bloggers like this: