Ketika Ahok Membawa Cermin

Ahok, TemanAhok, Anti Kafir, Anti Cina, dan kata-kata yang mirip semakin sering kita baca akhir-akhir ini. Semuanya pasti tertuju kepada Basuki Tjahaja Purnama, bekas Wakil Gubernur DKI yang naik pangkat menjadi Gubernur setelah Jokowi menjabat menjadi Presiden, tahun 2014.

Kalimat-kalimat anti kafir dan anti cina semakin kencang berhembus karena sebentar lagi Jakarta akan melakukan Pilkada, tahun 2017. Terus terang hal ini membuat Jakarta dan juga Indonesia menjadi terpecah dua, Pendukung Ahok dan Anti Ahok. Apalagi setiap hari media nasional selalu memberitakan hal ini; siapa lawan Ahok?

penantang-ahok

Para calon lawan Ahok

Apa sih yang membuat Ahok begitu fenomenal? Dia Cina, dia non muslim, dia suka marah-marah, tapi dia Gubernur Jakarta dan calon yang sangat kuat untuk kembali menjadi gubernur. Dari beberapa survey yang dilakukan baik secara formal atau non formal, misalnya di sosial media, dia selalu menang, siapapun lawannya. Prosentase pendukung Ahok sangat luar biasa.

Ibarat sebuah merk dagang, nama Ahok tiba-tiba melakukan penetrasi ke pasar, dan langsung memiliki branding dan positioning yang sangat kuat di masyarakat. Merubuhkan merk-merk lama yang sudah sekian puluh tahun berada dalam comfort zone. Nah, inilah yang membuat banyak orang seperti kebakaran jenggot. Indonesia memang negara hukum yang mengakui 5 agama, tetapi dengan mayoritas agama Islam di dalamnya. Dalam Undang-undang sangat tegas menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak untuk menjadi kepala daerah, atau presiden sekalipun, tanpa ada kewajiban harus beragama Islam. Hanya saja dengan mayoritas penganut Islam, tentu akan selalu ada dorongan agar kepala daerah/presiden adalah orang muslim.

Sejarah mencatat DKI pernah memiliki gubernur non muslim, yaitu Henk Ngantung, yang menjabat pada periode 1964 sd 1965. Waktu itu pemilihan kepala daerah masih ditunjuk secara langsung oleh presiden, jadi Henk Ngantung diangkat menjadi gubernur atas instruksi dari Presiden Soekarno. Setelah itu semua gubernur DKI selalu beragama Islam sampai akhirnya Ahok naik menjadi gubernur.

⌈Profil Henk Ngantung bisa dibaca di sini⌋

Cara Ahok dalam memimpin memang sangat jauh berbeda dengan gubernur kebanyakan. Dia tidak terbiasa berdiam kalem dan menyampaikan hal-hal dengan halus. Di depan media, yang selalu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Ahok, dia selalu berbicara berapi-api, sundut sana sundut sini, sehingga banyak orang yang terbakar emosi. Selain cara berbicara yang keras, Ahok juga tidak memiliki rasa takut untuk menggulingkan siapa pun yang dia anggap tidak bekerja dengan benar. Sudah berapa kali dia mengganti aparat di pemerintahan DKI karena dia anggap tidak becus.

ahok-marah

Ahok ketika naik pitam di sebuah forum

Walaupun kadang kebijakannya yang dia ambil dadakan, tetapi dia berani melakukan itu sementara pendahulunya lebih memilih diam. Misalnya penggusuran daerah pelacuran Kalijodo, diskotik Stadium, atau wilayah Kampung Pulo, yang sudah puluhan tahun dibiarkan. Ahok ibarat mesin penghisap debu yang berkekuatan raksasa, menghisap semua kotoran yang ada di Jakarta tanpa tedeng aling-aling.

Naiknya Jokowi sebagai presiden RI, adalah sebuah berkah keberuntungan yang luar biasa bagi Ahok, karena dia bisa menjabat jadi gubernur. Seandainya dia maju sebagai calon gubernur DKI tanpa pengalaman menjadi gubernur saat ini, saya yakin tidak ada yang akan tertarik. Siapa dia? Tidak ada yang tahu.

pelantikan-jokowi

Momen pelantikan Jokowi yang dihadiri ribuan rakyat

Kuatnya nama Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon gubernur DKI periode 2017-2022 membuat dua pihak kuatir dan tidak terima. Siapa mereka? 1. Penjahat keuangan alias koruptor; 2. Muslim yang tidak mau dipimpin oleh non muslim. Semua orang pasti bersyukur apabila para koruptor ketakutan, tetapi bagaimana dengan muslim-non muslim? Agama adalah dagangan yang sangat laku di negeri ini. Agama untuk politik, agama untuk tipu menipu, agama untuk ketenaran, apapun itu, semua yang menggunakan agama  biasanya menjadi laku keras di Indonesia. Padahal itu cuma strategi jualan aja. Intinya? kosong.

Semua penantang Ahok pun sekarang menggunakan isyu agama untuk merubah pandangan para pendukung Ahok yang muslim. Berhasilkah? Efektifkah? Saya rasa tidak. Karena alih-alih mendapat dukungan, para penantang Ahok justru mendapat cemoohan.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, ini ibarat strategi marketing. Bagaimana caranya agar bisa menggeser sebuah merk yang sudah mendapatkan positioning yang sangat bagus di benak masyarakat. Cara-cara black campaign, menjelek-jelekkan pesaing, adalah cara kuno yang sudah tidak efektif lagi. Apalagi menginginkan hasil yang instant. Jaman sekarang orang sudah tidak gampang terpengaruh black campaign, atau politik uang. Pada Pemilu lalu terbukti bahwa banyak caleg yang gagal terpilih padahal mereka sudah menggelontorkan sekian banyak uang ke daerah pemilihnya. Ini adalah sebuah gambaran bahwa rakyat sudah bisa menilai siapa yang harus dipilih.

fpi-demo-tolak-ahok-jadi-gubernur

Ormas Islam yang paling getol menentang Ahok

Bagi saya, dari pada umat muslim mengeluarkan dalil-dalil haram ini itu, lebih baik kita merasakan tamparan dari Ahok dan bercermin, kenapa ini terjadi? Sudah sekian banyak umat muslim mendapat amanah untuk memimpin daerah, tapi coba hitung, berapa di antara mereka yang malah terjerat kasus korupsi? Berdasar data dari KPK, selama 11 tahun sampai tanggal 6 Agustus 2015, tercatat ada 56 kepala daerah mulai dari gubernur sampai walikota yang melakukan tindakan korupsi. (sumber klik di sini). Dari 56 nama tersebut, lebih dari setengahnya adalah penganut agama Islam. Belum lagi ditambah dengan data anggota dewan yang melakukan tindakan korupsi, berjumlah sekitar 3600 orang. (sumber klik di sini) Mari kita lihat dengan jujur, berapa perbandingan yang muslim dan non muslim dari angka itu?

Saya tidak bermaksud menggiring opini bahwa orang muslim cenderung lebih korup. Tetapi ini sebuah kenyataan bahwa banyak pelaku tindak pidana korupsi adalah orang muslim. Nah di sinilah masyarakat bisa menilai bahwa agama tidak memiliki pengaruh apa-apa ketika para pemimpin atau wakil mereka disodori godaan duniawi. Kalau mau korup ya korup aja. Ada pemimpin beragama muslim yang tidak korup, tetapi dia diam  dan tutup mata ketika mengetahui orang-orang di sekitarnya korup. Masyarakat sudah sangat jengah dengan kondisi ini. Belum lagi ketika orang-orang itu tertangkap oleh KPK, tiba-tiba saja mereka bergaya seolah-olah orang suci, berpakaian keislamian bagi yang pria dan berkerudung bagi yang wanita. Lucunya sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa, “ini cobaan Tuhan.” Jadi tertangkap melakukan tindakan hukum bagi mereka adalah cobaan. Tidak terlihat penyesalan sama sekali, malah menyalahkan Tuhan. Masyarakat sudah muak.

ahok-tidak-tega-makan-uang-rakyat

Pada saat masyarakat muak dan jengah inilah, muncul Ahok yang Cina, yang Kristen,  membabi buta menjaga system yang ada agar tidak dikorupsi. Kebiasaan-kebiasaan lama yang melenceng akhirnya runtuh. Masyarakat memiliki idola baru. Seperti persaingan bisnis, merk lama yang merasa lebih senior lalu marah, merasa dikhianati.

Nokia dan Blackberry adalah (dulunya) dua nama besar di industri mobile phone. Selama bertahun-tahun mereka menguasai pasar dengan tingkat keuntungan yang luar biasa besar. Sekarang mereka hanya tinggal nama, sudah kalah bersaing dengan iPhone, Samsung, Oppo, dan lain-lain. Bagaimana bisa? Nokia dan Blackberry tidak melakukan kesalahan, mereka hanya berhenti berinovasi mengikuti keinginan pasar. Saat sekarang mereka ingin berinovasi sudah tertinggal jauh dari para pesaingnya. Sungguh tidak mungkin untuk melakukan black campaign karena pengguna mobile phone tahu apa kebutuhannya.

Ahok-meme

Strategi black campaign bukanlah strategi yang bagus, karena tidak menghasilkan diri kita sebagai jagoan, tetapi malah sebaliknya membuka aib.

Jadi bila para pesaing Ahok ingin merebut pasar pemilih, caranya jangan melakukan black campaign, tapi lakukan penetrasi pasar yang sangat terencana, berkesinambungan, dan bukan instant. Jangan lecehkan Ahok, karena itu akan berbalik, justru gandenglah Ahok. Tirulah cara Ahok yang tanpa pandang bulu menjaga system agar tidak dikorup, tetapi lakukan cara itu dengan bahasa dan kata-kata yang tidak menyalak menggonggong, inilah yang menjadi pembeda, nilai unik. Bagi sebagian masyarakat sekarang, lebih baik punya pemimpin galak tapi bisa dipercaya, dari pada pemimpin santun tapi tidak bisa dipercaya. Tagline yang bisa digunakan untuk mendapat simpati adalah “pemimpin yang santun dan dapat dipercaya”.

Tagline tersebut tentu akan tercipta dengan bukti selama bertahun-tahun, bukan instant demi pilkada saja. Demikian, mari kita ngopi.


Kecuali foto arak-arakan Presiden Jokowi yang merupakan orisinal karya saya, foto-foto lainnya saya dapatkan dari berbagai sumber di google image.

19 Responses to “Ketika Ahok Membawa Cermin

  • Lagi rame tuh di sosmed Om. Ormas islam nuding dan tereak anti kafir, di luar yang dibilang kafir nolongin pengungsi muslim. Ampun dah. Kenapa mereka gak see through the deeds. Ahok udah berani tegas lawan korupsi lalalili, ya apa mau yang mimpin mereka korup tanpa kemajuan di kota ini kayak bertahun-tahun sebelumnya?

    • Iya Dan, teriak2 berusaha membuka aib orang bukannya membuat diri terlihat jago, terlihat bodoh iya. Sama aja teriak2 menjelek2an Android, bilang baterai boros, blablabla, dan menyuruh ganti ke Symbian. Emang ada yg mau? Mending fokus dengan diri sendiri agar memberikan manfaat bagi lingkungan, nanti otomatis akan banyak pendukung.

  • Well said ini mah!
    Udah lelah sama black campaign pemilu lalu, bikin sakit jari sama lelah hati 🙁
    Gak bisa dipungkiri karena emang fakta bahwa pemimpin muslim banyak yang korup.
    Jika mau pemimpin muslim maka cari dong sosok yg kemukakan program, udah ada bukti nyata kerja bukan sekedar omdo belaka *ish emak2 aja bisa keleeus* dan jangan pernah menjual agama *benci banget ini*.
    Jakarta udah mulai berubah, masa gak didukung sih 🙁

  • Itulah hebatnya politik negeri ini, segala cara dilakukan demi melengserkan yg benar. Sekian lama berjalan, kenapa baru sekarang ada issue amandemen UU calon Independen??? Hmmm…hanya bisa nonton drama panggung sandiwara.

    • Begitulah ketika berpolitik hanya untuk kepentingan perut. Mana yg bikin kenyang, itu yg diperjuangkan.

  • Paradoks ya, tidak menyukai sosok baik dan komit pada kepentingan rakyat, hanya karena beda.
    Masyarakat harus mau belajar sportif dan terbuka, belajar melakukan penilaian pada prestasi bukan pada bungkus, hehehe
    Postingan bernuansa politik yang up to date, membuat aku membacanya sampai selesai.
    Makasih ya

  • CERDAS

    Salam Kenal dengan Sukacita

  • “Tetapi ini sebuah kenyataan bahwa banyak pelaku tindak pidana korupsi adalah orang muslim.”
    ga relevan, ya jelas aja karena muslim adalah agama mayoritas disini. Coba di India, ya koruptornya kebanyakan orang Hindu, kalau di China ya kebanyakan koruptornya orang Atheis, dan lain2.

  • hidup ahok!
    hidup Om Dolly!

  • Jujur saya kagum dengan sosok Ahok. Walaupun banyak orang mencela bliau kafir, ini itu dan lainnya tetapi saya yakin ahok dapat dipercaya, jujur. Yang islam malah saling menyalahkan, mengkafirkan orang lain…

    AHOK-DKI-1

    • Iya. Tidak ada manusia yg paling sempurna, pasti ada salah dan kekurangan. Semakin mencela semakin mempertontonkan keburukan sendiri. Daripada mencela Ahok lebih baik tunjukan bahwa diri sendiri lebih baik, tanpa menyombong.

  • aku gak ngerti, orang2 yg ngotot bahwa pemimpin harus muslim, itu mereka milih gubernur atau milih calon suami?

  • Mantap bang ulasannya. Gw suka tulisan yang terakhir, “Tirulah cara Ahok yang tanpa pandang bulu menjaga system agar tidak dikorup, tetapi lakukan cara itu dengan bahasa dan kata-kata yang tidak menyalak menggonggong, inilah yang menjadi pembeda, nilai unik.” dan saya sepakat.

    Sayangnya politisi kita sifatnya lebih condong, “jika tidak bisa lebih baik, maka buat lah lawan menjadi lebih buruk.” Sehingga fokusnya bukan berjuang kepada kepentingan publik, tapi pencitraan semata untuk kepentingan pribadi. Sementara publik makin dibuat muak.

    • Iya, saya ga ngerti kenapa mereka yang menjadi penantang Ahok malah sibuk ngurusin Ahok, bukan fokus sama diri sendiri

  • suatu bentuk masukan yg mungkin tidak mengenakkan buat muslim, tetapi memang harusnya bisa diambil sisi positifnya bagaimana menindaklanjuti ttg banyaknya pemimpin muslim yg terjebak korupsi, walaupun sebanding lurus antara jumlah pejabat muslim dgn kemungkinan terjerat ke kasus korupsinya.
    kalau saya sih masih tetap memegang aturan agama ttg aturan memilih pemimpin.

Leave a Reply

%d bloggers like this: