Keroncong Kampung Tugu, Geliat di Balik Keterasingan

Keroncong Kampung Tugu, Kampung Tugu, Gereja Tugu, kalian pernah mendengar, sering, atau hanya tau sekelebatan? Bagi yang tinggal di Jakarta saya yakin ada sebagian yang pernah mendengar. Tetapi sangat sedikit yang memahami dengan baik apalagi pernah berkunjung ke daerah yang bernama Kampung Tugu tersebut.
Sebagai bekas seorang pemerhati musik amatiran, saya sering mendengar bahwa musik keroncong itu aslinya berasal dari daerah yang bernama Kampung Tugu di Jakarta, makanya sering disebut dengan genre Keroncong Tugu. Walaupun, ndase kemput saya juga tidak mengerti seperti apa ciri khasnya Keroncong Tugu tersebut kalau dibandingkan dengan keroncong dari daerah lain.

Mbak Terry yang menemani perjalanan #GetLostInJakarta

Belasan tahun saya tinggal di Jakarta, sekalipun belum pernah berkunjung ke Kampung Tugu yang letaknya di daerah Semper, Jakarta Utara. Justru setelah saya meninggalkan Jakarta, kesempatan berkunjung itu datang. Ok, sebenarnya kesempatan itu tidak akan datang, tetapi saya yang membuat kesempatan itu ada. Etapi memang seperti itu kan yang sering menjadi salah pengertian di benak banyak orang: kesempatan akan datang. No! It’s a BIG NO! Kesempatan itu kita yang menciptakan begitu kita memiliki keinginan. Dan begitu kita memiliki keinginan maka serta merta kita akan memikirkan bagaimana kesempatan itu dijadikan. Yo ra?

Menjelang akhir tahun 2016, saya melihat sebuah tweet dari Xplore Indonesia mengenai give away tiket pesawat seharga total Rp 7,5juta untuk 3 orang dengan tujuan kemanapun di Indonesia. Syaratnya juga luar biasa gampang, cukup meretweet tweet mereka dengan tujuan yang diinginkan. As simple as that. Yodah, saya menulis ingin pergi ke Wakatobi, sebuah impian yang ingin saya wujudkan, sekalian berburu kopi di pulau Sulawesi. Dan dua hari kemudian, saya diberi tahu bahwa saya berhak mendapat hadiah tiket pesawat Garuda Indonesia / Citilink PP seharga Rp 1,5juta. WOW!!!! Rejeki orang baik. Muehehehehe.

Emang sih ya, dengan angka 1,5 juta itu untuk maskapai Garuda atau Citilink, tujuan sangat terbatas apalagi pulang pergi. Jadi saya memilih untuk pergi ke Jakarta saja dan Banjarmasin, PP. Lho? Ngapain ke Jakarta? Apa yang mau dicari lagi? Padahal saya sudah belasan tahun tinggal di Jakarta. Men, belasan atau puluhan tahun tinggal di Jakarta bisa saja belum cukup untuk mengenal kota itu secara lebih dalam. Banyak seluk beluk Jakarta yang kita tidak tahu, yang mungkin selama ini kita hanya hapal mengenai macet, mall, banjir, kemodernan, dan betapa tingginya ritme kehidupan manusia Ibu Kota.

Saya merancang sebuah perjalanan di Ibu Kota dengan hestek #getlostinJakarta. Iya, saya ingin jalan-jalan ke tempat-tempat yang anti mainstream, yang jarang dikunjungi orang, bahkan jarang terpikirkan untuk dikunjungi, saya ingin menyasarkan diri di Ibu Kota. Nah, mulailah saya membuat list tempat mana saja yang bisa dikunjungi, pilihannya antara lain: Gudang VOC, Museum Prasasti, Glodok/Petak 9, dan Kampung Tugu. Spesial untuk perjalanan ke Kampung Tugu, saya ingin mencapainya dengan bersepeda dari tempat saya menginap di sekitaran Kebon Kacang, jaraknya kalau dilihat menggunakan Google Maps kurang lebih 17km, pulang pergi ya 34km. Piyuh. FYI saya bukan seorang pesepeda lho. Terakhir saya naik sepeda itu bulan Agustus tahun 2016 di Bali dalam ekspedisi Jejak Mahakarya.

Beruntung ya, iya, orang baik selalu beruntung, kayak saya ini. Mbak Terry dari Negeri Kita Sendiri @NegeriID menawarkan diri untuk menemani saya sepedaan. Mbak Terry ini wanita perkasa nan baik hati. Tiap hari selalu sepedaan kemana-mana di Jakarta. Dia juga yang merekomendasikan penyewaan sepeda di Karbela III Setiabudi, murah meriah, Rp 15ribu perjam, atau Rp 180ribu selama 24jam. Segala macam jenis sepeda ada di situ. Pak Kastono Mulyo, pemilik penyewaan itu orangnya juga sungguh baik hati, dia memberikan diskon lagi untuk durasi 24 jam, yaitu hanya Rp 150ribu. Muehehe. Saya tahu, sih, enggak mungkin juga kan saya benar-benar menyewa selama sehari semalam, tetapi just in case lah ya.


Nah, cerita tentang penyewaan sepeda Pak Kastono ini dan bagaimana keseruan dua orang yang nyasar demi menuju Kampung Tugu bisa dibaca di sini


Singkat kata singkat cerita, hari Minggu tanggal 5 February lalu saya dan Mbak Terry sampai juga di Kampung Tugu di Jakarta Utara setelah gowes sekitar dua jam dari Setiabudi Jakarta Selatan. Sepedaannya cuma santai sih, enggak ngoyo, beberapa kali berhenti, dan beberapa kali nyasar. Namanya juga #getlostinJakarta. Ketika kami sampai, acara kebaktian di Gereja Tugu baru saja selesai. Pak Johan Sopaheluwakan, yang merupakan Humas Kebudayaan Ikatan Keluarga Besar Tugu, masih sibuk, sambil menunggu beliau, kami menikmati nyanyian lagu-lagu dengan  irama Keroncong Tugu yang dimainkan sekelompak orang di bawah sebuah pohon rindang di depan gereja. Mereka ini bernyayi hanya untuk iseng, bukan sebuah pertunjukan. Biasa dilakukan setelah mereka selesai kebaktian.

Keroncong Tugu

Sungguh saya merasa sangat beruntung, menikmati alunan musik keroncong tugu, meliat om-om dan tante-tante yang bersuara merdu itu bernyanyi dan menari di bawah sebuah pohon rindang. Menurut informasi Pak Johan, untuk memanggil rombongan keroncong tugu, biasanya tarifnya sekitar Rp 10jutaan.

Saat itu saya merasa sebagai seorang perantauan yang kebetulan berada di sebuah negara asing, menikmati suguhan alunan keroncong tugu membuat saya sangat rindu akan tanah air Indonesia, nusantara yang jaya.

Sejarah musik keroncong tugu sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan bangsa Portugis dalam mencari rempah-rempah ke bumi nusantara. Mulanya bangsa Portugis mendarat di Gowa, India, lalu kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke Malaka, Malaysia. Sampai di sini mereka masih belum menemukan rempah-rempah. Selain berburu rempah-rempah orang-orang Portugis itu juga menikah dengan penduduk-penduduk lokal dan membuat perkampungan. Keberadaan rempah-rempah sendiri masih sangat misterius, para pedagang Arab dan China hanya menyebutkan rempah-rempah ada di pulau raja-raja.

Suatu ketika kapal-kapal Portugis sampai ke Banda, Maluku. Akhirnya di sinilah mereka menemukan pusat rempah-rempah. Ternyata kedatangan Portugis disusul oleh Belanda beberapa tahun kemudian, yang kemudian terjadi peperangan memperebutkan daerah penghasil rempah-rempah. Perang ini dimenangkan oleh Belanda, sehingga bangsa Portugis banyak yang dijadikan budak yang kemudian dibawa oleh orang-orang VOC ke Batavia.

Makam-makam tua ini tidak memiliki keterangan tahun

Tahun 1661 gereja Portugis meminta kepada pemerintah Belanda agar orang-orang ini dibebaskan lalu terpilihlah 23 kepala keluarga. Pembebasan ini harus dibayar mahal dimana Belanda menginginkan mereka  merubah nama Portugis menjadi nama Belanda, sehingga disebutlah orang-orang ini sebagai mardijkers, orang-orang yang dibebaskan.

Belanda menempatkan para mardijkers itu di daerah yang penuh rawa dan nyamuk malaria dengan tujuan mereka akan punah, daerah itu dikenal dengan daerah Tugu. Dalam perjalanan dari tahun 1661, dalam keterasingan, mereka mengembangkan budaya lokal sendiri termasuk bahasa turunan dari Portugis sekitar 300-500 kosakata yang dikenal dengan bahasa Tugu. Selain bahasa, mereka juga membuat musik sendiri yang disebut musica de Tugu atau lebih dikenal dengan Keroncong Tugu.

Mereka membuat alat musik sendiri yang disebut jitera (berbentuk gitar dengan ukuran besar), krunga (ukuran sedang), dan macina (ukuran kecil). Perbedaannya adalah alat-alat musik ini berdawai lima, sementara gitar biasa memiliki jumlah dawai enam dan ukulele memiliki dawai empat. Sayang sekali saat ini orang-orang kampung Tugu yang masih aktif berkeroncong juga tidak bisa memainkan jitera yang berdawai lima.

Di sinilah sebenarnya cikal bakal keroncong tercipta. Kata keroncong sendiri adalah sebutan dari orang-orang luar Tugu yang mendengar mereka bermain musik dengan suara seperti “krong-krong-krong” dan “crong-crong-crong” lalu disebutlah (oleh orang-orang luar itu) dengan istilah musik keroncong.

 

Gereja Tugu

Walaupun pada papan nama tertulis 1748, tetapi sebenarnya awal berdiri gereja Tugu ini diyakini sekitar tahun 1670-1680, tidak lama setelah berdirinya kampung Tugu, yang dipercaya sebagai kampung tertua di daerah Cilincing, Jakarta Utara.

Bangunan gereja sendiri sudah banyak mengalami renovasi, termasuk ketika hancur pada tahun 1740 saat terjadi pemberontakan etnis tionghoa. Kemudian pada tahun 1744 atas bantuan seorang tuan tanah Yustinus Vinck gereja ini dibangun kembali, dan baru selesai pada 29 Juli 1747 yang kemudian diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr.

Keunikan gereja ini terasa karena hampir semua ornamennya masih asli, bahkan gagang pintu pun masih asli. Hanya saja lonceng gereja yang digunakan saat ini sudah imitasi karena lonceng asli yang dibuat oleh Belanda sudah rusak dan disimpan di depan rumah pendeta. Menurut cerita, lonceng yang asli tersebut mengeluarkan suara yang sangat keras sehingga bisa terdengar sampai beberapa kilometer.

Gereja Tugu dan lonceng yang sekarang sudah imitasi

Lonceng asli gereja tugu tersimpan di rumah pendeta

Cantiknya anak kecil keturunan orang Portugis di kampung Tugu

Budaya Rabo-rabo dan Mandi-mandi

Budaya silaturahmi memang sangat kental di bumi nusantara ini, terlebih bagi mereka yang berada dalam satu komunitas atau yang sedang dalam perantauan.

Sebagai keturunan bangsa Portugis, masyarakat kampung Tugu juga memiliki budaya lokal  yang sampai sekarang masih dilestarikan, yaitu budaya Rabo-rabo dan Mandi-mandi. Rabo-rabo berasal dari kata rabo yang artinya ekor. Dimulai dari satu keluarga yang mengunjungi rumah keluarga lain, lalu penghuni rumah yang dikunjungi akan keluar mengikuti dan mengunjungi setiap rumah keluarga yang lain lagi sehingga pada rumah yang paling akhir seluruh keluarga besar akan terkumpul. Sambil berjalan biasanya mereka membawa semua alat musik keroncong. Awalnya rabo-rabo ini dilakukan setiap tanggal 1 Januari, namun sekarang dilakukan pada hari Minggu pertama bulan Januari.

Ritual Mandi-mandi sendiri akan dilakukan pada rumah paling akhir dikunjungi di mana semua anggota keluarga sudah berkumpul. Prosesinya hanyalah mengoleskan bedak dingin ke wajah setiap orang yang disayang. Biasanya orang yang paling disayang akan mendapat paling banyak bedak dingin dari para anggota keluarga.

Bapak Johan Sopaheluwakan, menjelaskan sejarah panjang kampung Tugu dengan singkat

Gado-gado Tugu

Jangan berharap bisa membeli gado-gado Tugu! Karena ternyata memang tidak dijual di mana-mana. Saya dan Mbak Terry awalnya ingin  mencicipi gurihnya gado-gado Tugu, tetapi ternyata menu tersebut hanya diolah kalau pada acara-acara spesial seperti Rabo-rabo dan Mandi-mandi tadi.

Menurut salah satu tetua masyarakat kampung Tugu, letak uniknya gado-gado Tugu adalah sayurnya dimasak menggunakan santan sehingga terasa lebih gurih. Tetapi entah kenapa tidak ada masyarakat Tugu yang spesial menjual menu tersebut di warung atau rumah makan. Jadi kami tidak bisa bercerita lebih jauh.

Mardijkers, orang-orang yang dibebaskan

Pun begitu, kami sudah membuat rencana suatu saat akan berkunjung lagi ke kampung Tugu bersama lebih banyak rekan blogger dan sosial media, salah satunya adalah untuk spesial mencoba menu gado-gado kampung Tugu.

Perjalanan singkat saya ke kampung Tugu menyimpan sebuah kesan tersendiri. Ada banyak sekali budaya dan peninggalan-peninggalan di sekitar kita yang selama ini jarang kita sadari sehingga at the end of the day kita seperti kaget, eh mereka ada lho, kemana aja kita selama ini?

Untuk kampung Tugu sendiri, semoga nanti anak-anak muda di sana bisa memanfaatkan teknologi informasi dan sosial media dengan membuat web resmi tentang informasi kampung Tugu dan festival-festival budaya kecil. Terus terang, sejarah berdirinya NKRI tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan bangsa Portugis di nusantara dan kampung Tugu menyimpan sungguh banyak cerita sejarah bangsa Portugis yang belum tentu bisa kita dapatkan di buku-buku sekolahan.


 

4 Responses to “Keroncong Kampung Tugu, Geliat di Balik Keterasingan

  • Aduh, begitu banyak cerita dari kampung Tugu. Dari sejarahnya, musiknya, makanannya, dan cara hidup mereka sehari-hari. Saya perlu menampak diri. Bertahun-tahun hidup di Jakarta dan pindah ke pinggirannya setelah itu tapi tak pernah sekalipun mampir ke kampung Semper. Setelah membaca post ini Kampung Semper jadi satu destinasi yang wajib nanti dikunjungi

  • Budaya itu bisa bertahan asal ada tokoh yang mencintainya. Dulu didepan rumah ada yang suka ngumpulin orang2 untuk main keroncong tiap Rabu malam. Begitu beliau meninggal, ya sudah, Nggak terdengar lagi keroncong di kampung kami.

  • lima tahun sudah tinggal di jakarta, aku baru tau jika ada komunitas peranakan portugis di Jakarta Utara. Padahal kantor ku berada di Jakarta Utara juga, dan beberapa kali pernah investigasi perkara ke daerah tugu. Baru tahu setelah baca liputan media tentang tradisi Mandi-mandi di awal tahun 2017 kemaren. Thanks bang atas info nya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: