Indonesia Sebelah Mananya Bali?

ubud-water-scene

Ubud ~ Sumber foto dari www.spiritofkauai.com

Syahdan, seorang pemuda Indonesia pergi merantau ke Inggris. Ini adalah kali pertama ia berangkat ke luar negeri. Belum pernah terbayang bahkan dalam mimpi tidur siang sekalipun bahwa ia akan ke luar negeri. Hanya nasib baik dan keenceran daya cerna otaknya yang membuat ia bisa melanglang buana menikmati senja di kota-kota Eropa.

Di sebuah kafe di jalan kecil di kota Sheffield, pemuda itu duduk menikmati teh di sore hari yang tidak begitu dingin. Kesendiriannya akhirnya memancing sebuah perkenalan dengan seorang pemudi yang berasal dari Russia. Sebuah basa basi yang berlanjut dalam pembicaraan dan diskusi hangat mengenai budaya negara masing-masing.

Kehangatan antara keduanya tiba-tiba menukik tajam saat si Russia menyatakan dia belum pernah ke Indonesia bahkan tidak tahu apa itu negara Indonesia. DHEG! Si pemuda kita melongo menerima kenyataan. Dan lebih melongo lagi ketika si Russia mengatakan, “But my parents had visited Bali a few years ago. Indonesia, which part of Bali?”

DHEG!

Percaya tidak percaya, phrase di atas, “Indonesia, which part of Bali?” bukan hanya sekali dua kali terlontar menjadi kata tanya oleh orang-orang asing. Kalau mereka belum pernah ke Bali, tidak heran bisa bertanya seperti itu. Lebih aneh lagi ada beberapa orang yang sudah pernah ke Bali malah mengatakan, “I’ve never been to Indonesia, but I’ve been to Bali, that’s a very nice place!”

Kecak-dance-uluwatu

Tari Kecak dan sunset di Uluwatu. ~ Sumber foto dari www.uluwatukecakdance.com

"Ramayana: An Indian Epic" Balinese music and dance by Gamelan Burat Wangi at REDCAT directed and choreographed by I Nyoman Wenten and Nanik Wenten.

Tari Ramayana ~ Sumber foto dari www.acn2019.org

bali

Bali, sebuah landscape yang indah. ~ Sumber foto dari www.en.eurotelgroup.com

Indonesia sebelah mananya Bali? Pasti kita orang Indonesia yang mendengar pertanyaan itu akan langsung menghakimi betapa pekoknya si penanya. Lha kalau dia memang benar-benar tidak tahu, tidak bisa juga dengan semena-mena dibilang pekok. Nah, saya justru melihat betapa hebatnya branding image pulau Bali ini. Pulau yang luasnya hanya berbeda sedikit dengan luas Jabodetabek, sentra perputaran ekonomi Indonesia, tetapi memiliki nama yang terkenalnya jauh melebihi negaranya sendiri, ibu kandungnya sendiri. Indonesia sebelah mananya Bali?

Bali itu sudah puluhan tahun menjadi ikon pariwisata Indonesia. Padahal alam Indonesia indahnya tersebar dari ujung pulau Weh di Aceh sampai ke kepulauan Raja Ampat di Papua. Wisata landscape yang memukau ada di Bromo atau di Lembah Harau, lalu surfing bisa di G island Banyuwangi, menyelam bisa di Wakatobi, menikmati keindahan Maldives bisa kok di kepulauan Derawan, dan wisata budaya bisa di Jogja. Cuma itu? Masih banyak lagi! Semua ada dan sama indahnya. Tetapi kenapa Bali memiliki branding image yang kuat sekali? Salah satu hal yang menjadi faktor penyebabnya adalah; Bali berlari jauh terlebih dulu di banding daerah lain di manapun di Indonesia, sejak tahun 60-70an mungkin, ia tidak melihat ke kanan-kiri, tetapi langsung berlari menjual diri untuk didatangi para wisatawan dari luar negeri. Ibarat seorang wanita yang sudah dari lahirnya cantik, Bali memoles kecantikan itu lalu duduk manis di depan selasar sambil tersenyum kepada orang-orang yang lewat. Sementara daerah lain terlambat menyadari kecantikannya, sekarang baru belajar untuk tersenyum dan masih malu-malu kucing untuk duduk di selasar.

Desa Panglipuran, kecantikan alami Bali. ~ Sumber foto dari www.indonesiantourismo.blogspot.com

Kiblat Dewata, Pura Besakih ~ Sumber foto dari www.sejarahharirayahindu.blogspot.com

ngaben2

Ngaben, upacara pembakaran mayat di Bali ~ Sumber foto www.ensiklopediaindonesia.com

Kita tahu di Indonesia itu, baik sebagai pribadi ataupun sebagai kelompok sosial, hidup tidaklah gampang tetapi tidak juga sulit. Ada hal-hal yang harus kita pahami, kita resapi, dan tentunya kita amalkan, yaitu; kegigihan, keteguhan, kesabaran, dan gotong royong. Apabila salah satu dari empat hal tersebut tidak terimplementasikan dengan baik, maka hidup akan tersendat-sendat. Bali adalah salah satu tempat di Indonesia yang menjalankan sinergi empat hal tersebut dengan sangat-sangat baik bahkan sejak ratusan tahun yang lalu.

Dalam sejarah perang nusantara melawan imperialisme Belanda, perang Bali tercatat sebagai salah satu perang terlama. Pihak Belanda beberapa kali mengalami kekalahan dalam pertempuran, meskipun pada akhirnya Belanda berhasil menguasai Bali melalui perang yang dimulai pada tahun 1846 dan diakhiri dengan Puputan Klungkung tahun 1908. Tetapi proses itu bukanlah sebuah hal yang mudah bagi tentara Belanda.

 

Perang Jagaraga

Kegigihan dan keteguhan rakyat kerajaan Buleleng dalam perang yang dipimpin oleh Patih Jelantik berhasil mengalahkan pasukan Belanda pada perang Jagaraga 1 dan 2. Kemenangan pasukan  ini juga karena terjalinnya gotong royong yang erat oleh para wanita yang dipimpin oleh istri Patih Jelantik yang mengatur supply makanan kepada pasukan laki-laki di garis depan pertempuran. Kekalahan ini telak menampar pemerintahan Hindia Belanda di Batavia dan kedahsyatan semangat tempur laskar Patih Jelantik dicatat dalam kesaksian orang Belanda yang menulis di Surat Kabar Negara Belanda (De Nederlandsche Staatcourant) dengan kode K, sebagaimana dikutip Ide Anak Agung Gde Agung dalam Bali pada Abad XIX (1989). Di sana K menulis, “Bukan karena kubu-kubu pertahanan yang kuat menghalangi pasukan kita (baca: Belanda) untuk menguasai Jagaraga, akan tetapi karena perlawanan yang berani, galak, dan penuh semangat juang musuh yang tak kunjung padam, yang sepuluh kali jumlahnya dibandingkan kekuatan kita, dan berhasil memukul mundur pasukan kita tiga kali dari kubu pertahanan yang berhasil diduduki oleh batalyon ketiga dan sesudah itu mengadakan serangan balasan terhadap kedudukan kita, akan tetapi berhasil ditahan dengan tembakan meriam. … Siasat itu tidak berhasil karena Adipati Agung Gusti Ketut Jelantik berada di tempat dan memimpin pasukannya dengan memberi semangat juang kepada pasukan Bali, sehingga mereka memberi perlawanan hebat dengan gaya tempur yang belum pernah kita alami dan tidak ada bandingannya dalam medan perang lain dalam sejarah panjang angkatan darat kita di Hindia.”

Pada perang Jagaraga 3, Belanda mengerahkan jumlah pasukan yang lebih banyak dibantu dengan persenjataan lebih lengkap sehingga akhirnya Patih Jelantik dan seluruh pasukannya gugur, yang dikenal dengan peristiwa Puputan Jagaraga. Istilah puputan memiliki arti perjuangan sampai titik darah penghabisan, lebih baik binasa  dari pada harus mengalah/menjadi tawanan.

 

Perang Kusamba

Perang ini adalah kemenangan kerajaan Klungkung pada bulan Mei 1849 atas pasukan Hindia Belanda sekaligus menewaskan Jenderal AV Michiels yang sebelumnya berhasil menghabisi seluruh pasukan Patih Jelantik dalam perang Jagaraga 3. Meskipun pada akhirnya Kusamba berhasil direbut oleh Belanda pada bulan Juni 1849, tetapi tewasnya Jenderal Michiels adalah kekalahan yang menyakitkan karena Jenderal tersebut telah berhasil memenangkan perang di beberapa daerah  termasuk mengalahkan perlawanan Tuanku Imam Bonjol di Jambi dan sempat diangkat sebagai Gubernur Pesisir Barat Sumatera.

Perang Klungkung akhirnya benar-benar tuntas pada 28 April 1908 dengan gugurnya Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Jambe bersama para kerabat, keluarga serta pengiring. Menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya.

 

Puputan Badung

Puputan Badung mungkin bisa disebut sebagai perang yang paling menyedihkan dalam sejarah Bali melawan Hindia Belanda. Perang yang berlangsung selama beberapa hari ini berakhir pada tanggal 20 September 1906 dengan aksi puputan oleh raja dari kerajaan Badung beserta seluruh pengikutnya. Perang Puputan Badung tidak mungkin akan terjadi tanpa persetujuan keputusan bersama dan tanpa tekad dari ketiga Raja yaitu Raja Pemecutan, Raja Denpasar, Raja Kesiman. Sungguh luar biasa semangat dan kegigihan ketiga raja tersebut dalam mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai kehormatan rakyat mereka.

indonesia sebelah mana bali

Puputan, berjuang sampai titik darah penghabisan, adalah lambang betapa rakyat Bali memiliki sebuah  kesabaran dalam menjaga kehormatan mereka, kegigihan serta keteguhan untuk memperjuangkannya, dan semangat berkerjasama bergotong royong untuk melaksanakan niat suci tersebut.  Walaupun harga yang dibayar adalah nyawa. Sehingga ketika Belanda telah pergi meninggalkan bumi nusantara, kesetiaan  menjaga budaya dan alam bumi tempat mereka hidup menjadikan Bali sebagai tempat teristimewa di Indonesia.

Phrase  “Kamu belum ke Indonesia apabila belum ke Bali” bukanlah hal yang dilebih-lebihkan. Coba lihat dengan lebih mendalam, bahwa Indonesia kecil memang ada di Bali. Sebuah cerminan, gotong royong, kebertuhanan, keindahan budaya, keindahan alam, dan tentu saja keberbedaan.

sunset-tanah-lot

Tanah Lot kala matahari terbenam ~ Sumber foto www.anythingbali.com

Jadi jangan heran dan jangan menjadi udik ketika bertemu dengan turis mancanegara yang bertanya “Indonesia sebelah mananya Bali?” Justru jawablah dengan mata berbinar bahwa Bali itu cuma sebagian kecil dari Indonesia, dan YOU Mister, belum ke Indonesia apabila belum nonton wayang di Jogja, indahnya pantai Ora di  Maluku, melihat komodo di Flores, menikmati kesederhanaan bersama orang Baduy di pedalaman Banten, mencoba melompati batu di Nias, atau melakukan selancar di sungai Kampar Riau.



 

26 Responses to “Indonesia Sebelah Mananya Bali?

  • baca ini sambil menikmati pantai sanur… ^^

  • wahahaha baca judulnya langsung ketawa. tapi emang bener sih kalo lagi ngobrol sama orang asing gitu sering juga ditanya, Indonesia sebelah mananya Bali. :)))
    duh jadi pengen ke Bali. 🙁

  • Iya, sering banget yang nanya kaya gini.
    Bali warbiyasak!

  • ternyata masih ada aja ya yang nanya begini.. turisnya jarang liat peta pasti hehehe

  • Kalau ketemu wisman asing memang sering tanya kayak gitu hehehe, tapi tetep bangga sama Bali dan Indonesia 😀

  • setuju, wajar aja kalo ga tau bali itu bagian dari indonesia, bagi yang belum pernah ke bali atau indonesia bagian lainnya.
    tapi kalo udah pernah ke bali dan gak tau bahwa bali itu bagian dari indonesia, gua heran sih. perasaan gua kalo ke luar negeri selalu cari tau hal-hal dasar tentang tempat itu, dan nama negaranya adalah salah satu hal dasar. pas ngurus visa on arrival, misalnya, emangnya gak ada form yg harus diisi-isi dan ada keterangan nama negara ya? (ini beneran nanya)
    terus, kalo misalnya ikut tur, mungkin emang promosinya cuma pake nama bali. tapi.. pemandu turnya gak jelasin apa-apa, gitu? (ini juga beneran bertanya-tanya)

    hihi.. lucu ya..

  • Saya baru sekali ke Bali. Auranya memang beda, apalagi pas ke Penglipuran dan Ubud. Berasa di negeri kahyangan. Sedikit berbau mistis juga. Mudah-mudahan ada rezeki lagi ke sana.

  • Hal yang begini ini semoga terus menginspirasi daerah-daerah lain di Indonesia 🙂

  • kenyataannya memang begitu ya
    tapi kayaknya sekarang Indonesia semakin dikenal, apalagi di zaman serba internet dan medsos seperti sekarang

    jayalah Indonesia

  • Kadang terdengar miris, saat mendengar bahwa negara ini kalah tenar sama wilyah didalamnya,,

  • Baca sejarah perjuangan masyarakat Bali itu emang membuat aku sebagai warga negara indonesia bangga, hehehe.. dan wajar kalau pulau bali lebih tersohor dipenjuru dunia daripada ibu kandungnya sendiri.

  • Dan tugas kitalah sebagai putra putri bangsa membranding INDONESIA sebagai Negeri seribu pesona.

    Salam Bangga menjadi Indonesia.

    Putri Bali.
    Nik

  • Kemaren aku ketemuan sama teman-teman, aku cerita tentang roadtrip di Bali beberapa waktu lalu. Lagi seru-serunya cerita dia komentar gini… “Aku sering mendengar tentang Bali tapi aku tidak menyangka bahwa dia ada di Indonesia, aku pikir di Thailand” padahal dia itu berpendidikan tinggi, punya pergaulan kelas atas, punya bisnis bagus cuma mainnya selalu ke barat, tak pernah ke Asia, jadi tidak paham Bali.

    Begitulah kenyataannya, memang Bali lebih bersinar daripada indonesia kok.. Oh iya kami tinggal di Jerman.

    • Iya. Hal ini memang sudah lazim terjadi. Secara branding image, Bali memang lebih bagus di luar negeri.

  • Emang banyak turis yg ngga tau Indonesia tapi tau Bali mas. Keren ya Bali. Btw, baca artikel nya seru banget, ada pengetahuan juga, jadi nginget2 pelajaran sejarah 😁

  • Babang pernah jumpa bule backpacker asal kanada di Oludeniz, gak tau indonesia tapi rencana mau ke bali 🙁

Leave a Reply

%d bloggers like this: