Indonesia di Kampung Kubu Gadang

Kampung Kubu Gadang, saya yakin nama tempat ini sangat asing. Seandainya tidak ada google, mungkin membutuhkan orang ke sekian ratus untuk mendapat jawaban, “ya saya tahu di mana itu Kampung Kubu Gadang!”

Kubu Gadang terletak di kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebuah kampung yang berada di lembah di antara gunung Marapi, gunung Singgalang, gunung Tandikat, dan bukit Barisan. Menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dengan mobil dari kota Padang.

Walaupun belum begitu dikenal, justru Kubu Gadang ibarat sebuah permata, harta karun yang tersimpan di wilayah nusantara, Indonesia. Ketika kita berkunjung ke sana, tidak ada perasaan lain yang ada di hati selain kebahagiaan karena keindahan alam dan suasana hangat dari kebersahajaan masyarakat penghuninya.

Nah, seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelum ini, bersama tim Datsun Risers Expedition, selama 3 hari saya melakukan tur dari kota Pekanbaru, Bukittinggi, dan sampai di  Padang.

⌈Silahkan baca keseruan tur tersebut di Datsun Risers Expedition Etape 3 Sumatera: Mengunjungi Teras Surga⌉

Sebelumnya, dari rundown acara yang saya baca, jadwal hari terakhir adalah CSR di salah satu SD di Padang Panjang, lalu melihat sebuah pertunjukan silat. Saya tertarik dengan kegiatan CSR tersebut, apalagi selama ini belum pernah melakukan CSR yang audience nya adalah anak-anak SD. Masing-masing tim Datsun Risers wajib untuk menyiapkan satu cerita yang dapat membangkitkan inspirasi anak-anak SD tersebut.

CSR di SDN 07 Ekor Lubuk

Perjalanan dari Padang menuju Padang Panjang sangat lancar, jalanan mulus, dan kami juga tidak tergesa-gesa. Pada awalnya. Iya pada awalnya. Sampai ketika di tengah jalan tiba-tiba kami mendapat berita bahwa di SDN 07 Ekor Lubuk tempat tujuan kami, kami sudah ditunggu oleh Walikota Padang Panjang. What?? Jreng Jreng! Kejutan pertama! Buru-buru kami merapikan dandanan yang lumayan terbiasa ngasal selama 3 hari tur.

DSC05822s

SDN 07 Ekor Lubuk, ternyata sekolah ini gratis!!!

Begitu sampai di SDN 07 Ekor Lubuk, namanya disambut Walikota ya bok, bukan cuma beliau yang ada, tapi rameeeeeeee banget. Sepanjang jalan banyak petugas Dishub yang ikut mengatur jalan. Saya yang memang tidak terbiasa dengan protokoler terus terang awalnya agak kagok. Turun dari mobil, saya langsung disalami oleh bapak-bapak yang membuat saya bertanya, siapa dia? Berkumis tebal, jari-jari yang dihiasi batu akik berukuran besar, dan dia langsung menarik saya naik tangga di mana sepanjang tangga itu ada orang-orang yang bermain gendang, bermain saluang (suling khas daerah Minang), dan banyak lagi yang langsung menyalami saya. Waduh, saya benar-benar kagok, padahal kan ketua rombongan  bukan saya, cuma kebetulan aja duluan naik tangga. Jreng! begitu menengok ke belakang, lho kok baru saya yang naik duluan? Yang lain manaaaaa?

Oke, saya menunggu. Akhirnya mereka datang. Saya langsung mengarahkan Mbak Hana yang merupakan perwakilan dari Brand Datsun untuk bersalaman dengan Walikota Padang Panjang, Bapak Henri Arnis. Kami masuk ke dalam sebuah kelas dan ada sedikit acara protokoler di situ, seperti sambutan dan perkenalan. Tetapi, walaupun protokoler, suasananya santai dan akrab banget. Di dalam kami banyak bergurau, kok. Perasaan hati yang awalnya kagok sudah mencair. Apalagi ketika panitia menyuguhi kami minuman susu sapi segar yang diambil dari peternakan di dekat situ.

DSC05761s

Tuh, santai dan akrab, kan?

Dari Pak Henri kami tahu bahwa kota Padang Panjang sedang berbenah untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kampung Kubu Gadang itu menyediakan homestay untuk para turis. Selain itu turis juga dapat menginap di rumah warga, karena pemerintah setempat sudah membuat kebijakan mengenai rumah warga yang bisa dijadikan tempat menginap para turis. Biayanya? Bervariasi, yang jelas jauh lebih murah dari hotel. Kalau saya tidak salah mulai dari harga seratus ribu per malam. Kebijakan yang sungguh bijak, karena warga mendapat keuntungan langsung dari turis, sementara para turis dapat merasakan wisata back to nature. Hal lain yang tercipta adalah adanya hubungan lebih dekat antara turis dengan masyarakat.

Pak Henri secara khusus mengajak kami untuk tinggal lebih lama dan berkeliling di kampung Kubu Gadang ini, karena ternyata banyak sekali tempat yang belum terexplore oleh para wisatawan. Mudahan saya bisa kembali lagi ya, Pak. Kalian bisa memantau aktivitas dan update dari beliau karena  Pak Henri memiliki page di Facebook di tautan ini

DSC05767d

Bapak yang menyambut saya di depan mobil tadi ternyata Datu Sati, pemangku adat setempat, orang yang sangat dihormati.

Karena anak-anak sudah menunggu di luar, acara sambut-menyambut tidak berlangsung lama. Kami langsung menyapa anak-anak  adik-adik murid SDN 07 yang sudah menunggu dari pagi. Oh iya, Datsun memberikan paket buku bacaan untuk kebutuhan sekolah tersebut.

DSC05780a     Pak Henri secara simbolis menerima paket buku dari Datsun

Pak Henri secara simbolis menerima paket buku dari Datsun

Gaes, seperti yang saya bilang, baru kali ini saya melakukan CSR dengan murid sekolah dasar. Jujur pada malam sebelumnya saya sempat bingung, wah mau ngapain ya, wah gimana ya, wah bisa ga ya gue. Ternyata senyum dan kecerian adik-adik murid SD  dan masyarakat yang hadir membuat saya tidak bisa menahan senyum. Senyum yang sangat bahagia.

DSC05786s

Tolong abaikan gigi ompong saya.

Dari beberapa adik yang saya tanya mengenai cita-cita, kebanyakan mereka ingin menjadi tentara atau polisi. Khas anak-anak banget ya. Hanya sedikit yang menjawab jadi dokter atau guru. Dan hanya satu orang yang menjawab ingin menjadi pilot. Di dalam kelas, sambil memperlihatkan foto-foto perjalanan yang pernah saya tempuh, saya mencoba memberikan inspirasi, apapun yang mereka cita-citakan, selama itu bukan kriminal, capai lah tanpa pernah mengenal lelah. Satu hal lagi, saya menceritakan asiknya menulis, dan bahwa hobi menulis bisa membuat kita keliling dunia, jadi cita-cita bukan hanya terbatas pada ingin menjadi tentara, polisi, atau apa yang biasa mereka lihat. Tapi bermimpilah sejauh yang mereka bisa. Dengan waktu yang hanya 20 menit, semoga kalian paham ya, dek. By the way, saya sempat tergugah ketika memperlihatkan foto naik pesawat kepada anak yang ingin jadi pilot, his face was sooooo enthusiastic. Sayang saya lupa siapa namanya, cuma ingat mukanya yang tengil dengan gigi depan yang ompong.

Perkawinan adat Minang

Lho kok ada acara kawinan? Sambil nulis ini gw gak bisa menahan ketawa.

Jadi, perlu saya jelaskan terlebih dahulu ya biar tidak ada yang salah paham. Entah idenya siapa, kami disajikan acara perkawinan adat Minang, yang tentunya ini cuma pura-pura, sandiwara, bukan kawin beneran. Pengantin pria dan wanita diambil dari rombongan tim Datsun, yang didandanin beneran seperti pengantin.

Awalnya, sekali lagi pada awalnya, kami semua mengira mereka mengenakan pakaian pengantin itu untuk keperluan protokoler di sekolah tadi, ternyata bukan, tapi lebiiiiih dari ituuu… ini kejutan ke dua bagi kami!

“Pengantin” diarak di depan sekolah kemudian dibawa menuju masjid. Bukan, bukan untuk dinikahkan, tetapi kami mampir sebentar untuk bersholat zuhur di masjid tertua di Padang Panjang. Ada dua versi mengenai tahun pembangunannya, pencatatan adat menyebutkan masjid dibangun pada tahun 1770, sementara pencatatan pemerintah Belanda menyebutkan dibangun pada tahun 1685. Masjid masih terbuat dari kayu dengan design khas rumah adat Minang.

DSC05831s

Masjid Asasi Nagari Gunuang. Berada di dalam mesjid ini adem, nyaman.

Padang Panjang merupakan kota yang keislamiannya masih sangat kental, sehingga disebut juga serambi Mekah. Ini tertulis di gerbang masuk kota. Jadi ternyata bukan cuma Aceh yang disebut serambi Mekah, ya.

Selesai sholat, kami menuju balai desa Nagari Gunuang “Balairung Sari” untuk serah terima “pengantin”. Balairung Sari ini hanya digunakan untuk acara adat yang sangat spesial, bukan untuk umum. Misalnya penyelesaian konflik atau permasalahan adat. Jadi kami sangat beruntung ternyata mendapat ijin dari pemangku adat untuk memasuki balai.

DSC05943a

Peace dari Balairung Sari

Kami berbaris untuk mengarak “pengantin” sambil kesenengan menahan tawa. Etapi gak ditahan juga, aslinya kami semua tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa menahan ketawa, acara “kawinan” nya kan cuma sandiwara, tetapi para ibu-ibu pelaksana adat di sana membuat semuanya seperti beneran. Bahkan masyarakat sekitar menyangka itu acara kawinan beneran.

DSC05839a

Ibu-ibu setempat berpose bahagia dengan pengantin pria :))))))))))))

Sebelum menaiki tangga balai, “pengantin” berdiri mendengarkan ucapan/pantun selamat datang yang dilakukan oleh seorang ibu yang berperan sebagai tuan rumah. Dia juga melemparkan beras kuning ke arah pengantin. Asli ini serius udah kayak kawinan beneran.

DSC05860a

Pengantinnya “bahagia”, sementara para pengantarnya jauuuuuh lebih bahagia. :))

 

DSC05867s

Pengantin prianya gagah ya :p

 

DSC05870x

Hanya di Padang Panjang, pengantin wanita minta pisah saat masih di pelaminan. :))

 

Jadi balai ini ibarat rumah pengantin wanita, kami sebagai pengantar pengantin pria.

Di dalam balai, kami menunggu makanan dikeluarkan. Jadi di sini adatnya bukan prasmanan, tetapi makanan disajikan dalam sebuah nampan yang berisi semua jenis makanan. Satu nampan cukup untuk 4 orang. Nah, cara makannya pun tidak sembarangan, yaitu piring nasi tidak boleh diangkat dari lantai. Begitupun nampan, tidak boleh diangkat dari lantai. Untuk mengambil menu makanan yang lain, nampan harus diputar.

DSC05916s

Telur puyuhnya itu pedes bangetttt. Tapi ena

Makanan sudah tersaji lengkap memenuhi ruangan, eit tunggu dulu, belum boleh makan, karena masih ada prosesi seperti sambut pantun yang dilakukan para lelaki wakil dari penganti wanita dengan wakil dari pihak pengantin pria. Mereka berbicara dengan bahsa Minang. Sayang sekali saya tidak mengerti bahasa Minang. Pada akhir kalimat, tuan rumah mempersilahkan tamu untuk makan, sebelum itu gak boleh sama sekali lho. Kalau kita mulai makan sebelum dipersilahkan, itu artinya tidak menghormati tuan rumah.

Selesai makan, semua prosesi acara perkawinan selesai. Kami pamit dari balai. Nah, karena ini cuma sandiwara, jadi kami mengajak pulang pasangan pengantin juga. Seharusnya kalau yang beneran, pengantin kami tinggalkan.

Sekedar info, pemeran pengantin wanita, Silmy, akan menikah beneran pada bulan September nanti. Itulah alasan utama kenapa dia panik ketika prosesi “kawinan” di Nagari Gunuang Kubu Gadang ini menjadi serius. Semoga tunangannya gak cemburu ya. :)))))

Silek Lanyah

Acara paling akhir tim Datsun hari ini adalah menikmati suguhan atraksi silek lanyah yang menjadi khas Kubu Gadang. Apaan itu silek lanyah? Silek Lanyah adalah pencak silat dengan jurus-jurus yang diperagakan di sawah yang becek. Silek=silat, lanyah=basah. Katanya silek lanyah ini sudah mulai langka. Beruntung anak-anak muda kampung Kubu Gadang meneruskan warisan dari leluhur ini.

Penasaran kaan?

IMG-20160318-WA0020-01

Credit photo by Adi Sunarko IG: @kobul

Baiklah, ini spoiler dulu ya. Karena mengenai silek lanyah akan saya bahas secara spesial di tulisan berikutnya. Asik, asik banget kok. Bukan cuma silek lanyah yang kami nikmati, tetapi segala ekstase kegembiraan bersama masyarakat Kubu Gadang yang amat sangat sangat sangat ramah.

DSC05978s

Uni-uni cantik yang menyambut kami di Kubu Gadang

Ibarat sebuah film yang layak mendapat Oscar, sambutan  masyarakat di SDN 07 Ekor Lubuk pagi tadi baru prologue, menjadi lebih hangat ketika di Balairung Sari, dan klimaksnya di persawahan kampung Kubu Gadang.

Saya benar-benar merasakan, inilah Indonesia yang selama ini saya rindukan.



Walaupun acara ini dilakukan bersama Tim Datsun Risers Expedition, tulisan ini merupakan opini pribadi

6 Responses to “Indonesia di Kampung Kubu Gadang

Leave a Reply

%d bloggers like this: