Genitnya Mie Bancir di Banjarbaru

Ada yang tau arti kata bancir? Menurut bahasa orang Banjar di Kalimantan, bancir itu berarti bencong/wadam/waria. Nah lalu kalo Mie Bancir di Banjarbaru, apapula itu? Penjualnya bancir? Hehe. Wait, wait, jangan salah sangka dulu.

Semua ini berawal dari perjalanan singkat saya selama seminggu di Kalimantan Selatan. Mmmmm sebenarnya bukan perjalanan sih, tetapi lebih tepat apabila disebut sebagai pulang kampung. Iya, saya memang lahir di Banjarmasin. Hanya saja saya sudah berkelana meninggalkan kampung halaman selama lebih dari 20 tahun.

Sebelum memasuki bulan puasa yang lalu, saya pulang sesaat karena ada urusan kerjaan. Selama seminggu, setiap ada waktu luang saya manfaatkan untuk berkeliling Banjarbaru-Martapura dan sekitarnya layaknya seorang travel blogger yang lagi dibayar buat jalan-jalan. Lho emang saya bukan travel blogger? Belum. Belum layak disebut sebagai itu. Hanya sebagai blogger yang sering berburu kopi dan menikmati keindahan pemandangan alam.

Selama berkeliling, saya berpesan kepada adik saya yang jadi tour guide, please jangan ajak masuk mal! Helloooooo?? Saya sudah bosen kali! Tinggal di Jakarta puluhan tahun, begitu pulang kampung masa diajak masuk mal? Untung adik saya langsung paham. Dia mengerti banget kemana harus membawa saya.

Salah satu tempat yang sempat disinggahi adalah tempat makan Mie Bancir di Banjarbaru ini yang terletak di Jl Panglima Batur, Banjarbaru. Oh iya, Gambaran kota Banjarbaru itu luasnya kira-kira seluas kota Depok. Dan Jl Panglima Batur salah satu jalan utama selain Jl Ahmad Yani yang membentang ratusan kilometer membelah provinsi Kalimantan Selatan mulai dari kota Banjarmasin sampai ke… entah, kutub utara mungkin. Sebelum saya sampai di kutub utara, saya memutuskan mampir ke Mie Bancir dulu yang dimiliki oleh Agus Sasirangan.

mie_bancir_di_banjarbaru

Siapa itu Agus Sasirangan?

Agus Sasirangan bukanlah orang sembarangan di dunia masak-memasak. Dia merupakan juara dua lomba memasak Master Chef Indonesia sesion 1. Mengenal dunia memasak sejak kelas 5 SD, dia juga menjadi seorang guru di SMK Negeri 4 Banjarmasin. Sejarah singkat Agus bisa dilihat kalau tulisan warna biru ini kamu klik, cinta.

Gerai Mie Bancir di Banjarbaru terletak di sebuah komplek ruko yang gampang kok ditemukan. Coba bertanya sama orang sana, kebanyakan sudah tau. Begini cara nanyanya:

“Anuuuu… (kata anuu ini sangat penting, jadi jangan kelupaan!) Umpat betakun pang, rumah makan mie bancir di mana yo lah?”

Nah, itu cara bertanya yang universal. Bisa ditambahkan awalan Man (panggilan untuk laki-laki lebih tua), atau Cil (panggilan untuk ibu-ibu), Ding (panggilan untuk laki/perempuan yang lebih muda). Kalau ternyata jawaban mereka tidak bisa kalian mengerti bahasanya, ya itu masalah kalian. Heheh.

Cabang di Banjarbaru ini beroperasi pada tahun 2015. Sementara cabang utamanya ada di Banjarmasin.

mie bancir agus sasirangan

Mie Bancir by Agus Sasirangan

 

mie_bancir_agus_sasirangan

Interior ruko Mie Bancir di Banjarbaru

Lahan parkir di depan ruko Mie Bancir lumayan lega. Begitu masuk ke dalam, tempatnya enak, nyaman, bersih, desainnya enggak nganu, sehingga lumayan bikin betah. Buat kencan sore-sore cocok, kok. Ngedate sama pasangan yang sah atau yang enggak sah, rekomended tempat ini.

Saya memesan tiga menu, Mie Bancir Ayam Bapukah, Kue Lempeng, dan Es Campur Galuh Bungas. Rrrrr. Maap lupa foto buku menunya. Heheh.

Mie Bancir

Kenapa disebut mie bancir? Ternyata karena statusnya enggak jelas, itu mie goreng atau mie kuah. Seperti mie goreng tapi ada kuahnya. Pengen disebut mie kuah, tapi kuahnya cuma seuprit, enggak bisa dipake berenang.

Yang membuat saya “terharu” adalah penyajian mie bancir masih menggunakan piring yang terbuat dari bahan seng. Aduh very jadul sekali. Me like it! Jadi inget masa-masa masih belum sunat, ketika makan pake piring seng dan minum juga dengan gelas yang terbuat dari bahan sama.

mie_bancir

Penyajian Mie Bancir menggunakan piring seng. Old fashioned style.

Selain piring seng, Agus Sasirangan juga menggunakan ayam kampung untuk lauknya. Ayam kampung memang memiliki struktur daging yang sangat berbeda dari ayam broiler. Dagingnya lebih lebih sedikit dan lebih liat. Mungkin karena ayam kampung, sering olahraga, sering lari-lari. Enggak cuma di kandang aja ngendon nunggu dipotong.

Hal pertama yang saya lakuin adalah menyicipi dengan apa adanya tanpa tambahan cabe atau perasan jeruk. Rasanya? Amboy! Kuahnya gurih, dan mienya empuk. Sangat berbeda dengan mie ayam yang banyak dijual di Jakarta. Mie Bancir ini rasanya lidah orang Kalimantan banget yang menggemari rasa kaldu yang kuat. Jadi seperti ada rasa soto sedikiiiiitt.

mie_bancir_agus_sasirangan

Ditambah perasan jeruk, rasanya tambah amboy!

Nah, hal kedua yang saya lakukan adalah menyoba tambahan perasan jeruk nipis. Mmmmm kalian tau bagaimana rasanya ketika kangen sama gebetan dan ternyata dia juga kangen sama kita? Asik kan? Enak kan? Seperti terbang kan? Nah begitu yang bisa saya sebutkan kalau mie bancir ditambahin dengan perasan jeruk nipis. Ntap! Lidah tidak pernah berhenti berdecak saking enaknya. Rasa gurih yang bercampur rasa asam jeruk. Beeeeeuhh!

Kalau kalian penyuka rasa pedas, tinggal ditambahin cabe yang tersedia dengan manja di meja makan.

Kesimpulan saya, Mie Bancir Agus Sasirangan ini enak banget. Genitnya pas! Walaupun level enaknya belum sampai seperti ketika saya menggebrak meja karena mengalami foodorgasme saat pertama kali menyicipi Sop Konro di samping bank BCA di Balikpapan.

Es Campur Galuh Bungas

Galuh bungas itu artinya gadis cantik kalau dalam bahasa Banjar. Jadi ketika saya memesan es campur galuh bungas, sesungguhnya saya sedang memesan seorang gadis cantik.

Eh gimana..?

Banjarmasin memang banyak gadis cantik yang berkulit putih, rata-rata berambut hitam panjang. Dan biasanya lengan mereka ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menggoda untuk ditarik-tarik.

es_campur_galuh_bungas

Es Campur Galuh Bungas

Es campur galuh bungas ini apakah ada di tempat lain, saya kurang tahu ya. Rasanya tidak terlalu manis, karena FYI orang Banjarmasin/Kalimantan kurang begitu suka rasa yang manis. Jadi tidak ada susu kental yang ditambahkan di es campur galuh bungas ini seperti es campur yang biasa kita temui di pulau Jawa.

Kue Lempeng Pisang

Nah, ini! Ini! Ini salah satu kue khas Banjarmasin, yaitu kue Lempeng Pisang. Bentuknya seperti Pizza atau telur dadar yang tebal. Terbuat dari adonan tepung, telur, gula pasir, buah pisang, kadang ditambah dengan potongan buah nangka. Rasanya? Ya manis.

kue_lempeng_pisang

Kue Lempeng Pisang, pizza ala Kalimantan

Sepertinya bentuknya sederhana, tetapi membuatnya enggak gampang, lho! Banyak teman-teman saya yang asli orang Banjar tetapi enggak bisa membuat kue ini. Karena campuran adonanannya harus pas perfect. Salah sedikit aja akan merubah rasa dan teksturnya. Atau kadang dalamnya masih mentah tetapi luarnya sudah gosong.

 

kue_lempeng_pisang

Namanya Lempeng Pisang, tetapi tekstur pisangnya sudah tidak ada.

Lempeng Pisang ini paling enak dimakan pas masih panas membara, sambil lidah kelojotan. Beneran lho. Karena kalau sudah dingin biasanya rasa tepungnya jadi mendominasi dan teksturnya juga lebih alot.

Kue ini biasanya dimakan sebagai camilan sore-sore oleh orang Banjar sambil bercengkerama menikmati kopi hitam di pelataran rumah. Apalagi pas hujan, beeeuh ntap!

Harga-harga makanan di atas masih kantongable kok, berapa pasnya saya luphe. Kalo enggak salah masih kisarang belasan sampai dua puluh ribuan. Enggak ada yang di atas tiga puluh ribu.

Jadi, kalau kalian ke Banjarmasin, jangan lupa ya mampir ke Mie Bancir. Ada di Banjarmasin dan ada juga di Banjarbaru. FYI jarak dua kota itu cuma sekitar 30 kiloan.

Oh iya, satu lagi. Kalo ke sana dan kalian lagi perlu sesuatu, ingat, JANGAN PERNAH BILANG KALIAN BUTUH SESUATU! Bilang aja PERLU sesuatu! Jangan bilang butuh ya. Pokoknya jangan.



 

8 Responses to “Genitnya Mie Bancir di Banjarbaru

  • Aduuh aduuh aduuh ngeces dahh ane ahahah :’D

  • Bang … aku lagi perlu banggg … perlu uang sakuuu :3

    Jd penasaran ama rasa kue lempeng pisangnya … Emang sih, kue gituan emang mantebh dimakan pas lagi anget2nya … seperti hubungan kita bang … *dikeplak*

    Eh iya, jd Bang Dolley disunat umur brp sih? *pertanyaan ga penting**abaikan*

  • Kalo gw yaaa kemanapun selalu cari mall, hampir semua kota yg gw kunjungi, hukum nya wajib untuk menenggok mall nya, gw ngak mau pulang kalo blm kemall hahaha.

  • Kalau aku tergantung. Pas ke Medan, selalu minta dibawa ke dua mal yang memang punya ceritanya. Deli Plaza tempat mama bekerja dan ada satu kios penjual hamburger yang enak, dan Yuki Simpang Plaza.

    Aku belum pernah mencoba mie bancir ini. Ke Kalimantan pun tak ada yang membawaku mencoba makanan semacam ini 🙁

    tapi, kamu sendiri pernah digoda bancir-bancir nggak, Mas?

    • Hahahah. Pertanyaannya malah menukik. Kalo aku sih udah terbiasa digodain bancir-bancir yg ngamen di perempatan.

Leave a Reply to cumilebay Cancel reply

%d bloggers like this: