Datsun Risers Expedition Etape 3 Sumatera: mengunjungi Teras Surga

Tanggal 14 sd 18 Maret yang lalu saya mengikuti Datsun Risers Expedition etape 3 Sumatera antara Pekanbaru sampai Padang. Pada mulanya saya melihat advertising kegiatan ini dari twitter detikcom. Setelah membuka situsnya, lho kok menarik ya? Bisa tes drive mobil Datsun GO+ Panca sambil jalan-jalan, hratis pulak. Asik kan?

Untuk ikut mendaftar syaratnya harus sebagai tim, yang mana satu tim beranggotakan tiga orang. Setelah melalui proses yang bikin deg-degan, akhirnya fixed saya ikut bersama Timothy dan Jhohannes. Keduanya adalah blogger yang baruuuuuuuu aja saya kenal. Malah dengan Timothy (kadungcampur.com) saya baru bertemu pertama kali di gate 2F Bandara Soetta menjelang berangkat. Sementara dengan Jhohannes (salingsilang.net) saya sudah bertemu seminggu sebelumnya sewaktu ke Belitung untuk melihat Gerhana Matahari Total 2016. Somehow sebelumnya saya bisa merasakan kalo kami akan menjadi tim yang kompak.

Datsun Risers Expedition ini sudah dimulai sejak tahun 2015 sebenarnya, melintasi berbagai kota dan pulau di seluruh Indonesia. Setiap etape diikuti oleh 5 tim, yang kemudian akan diganti oleh tim yang berbeda di etape berikutnya. Kebetulan saya kebagian etape Pekanbaru-Padang. Biasanya dari 5 tim itu terbagi dari berbagai macam latar belakang, kali ini peserta terdiri dari blogger, mahasiswa, foodtester, dan perwakilan dari PT Nissan Motor Indonesia.

Pekanbaru

Singkat kata, menggunakan pesawat Garuda Indonesia (wow), kami tiba di kota Pekanbaru, semua peserta diinapkan di hotel Ibis Pekanbaru. Di kota ini kami melakukan tes perkenalan dengan mobil Datsun GO+ Panca sambil melakukan kunjungan ke dealer Nissan-Datsun setempat dan tur singkat keliling kota.

datsun-go+-panca

Tim Datsun Risers Expedition mejeng di depan gedung MTQ Pekanbaru.

Mengelilingi kota Pekanbaru, kami ditemani  oleh DGCI Riau yang merupakan komunitas pengguna mobil Datsun setempat.

Sumatera itu kan banyak duren, yah? Nah, belum lengkap ke Pekanbaru tanpa menikmati duren khas sana. Walaupun penggemar duren, saya sih ga gitu ngerti jenis-jenis duren. Yang kami nikmati malam itu durennya berbentuk kecil, bulet (ya iyalah), tapi isinya, amboi nikmat sekali. Seluruh tim DRE, officials, media, dan tim pendukung lainnya bebas menikmati sekuat dan sekemeng mungkin. Kalo saya… ya cukup dua buah aja. Gapapa, ada trauma dikit kalo makan duren kebanyakan. Heheh.

duren-sumatera

Pesta belah durennnnn

Di Pekanbaru acara memang tidak begitu padat, karena besok pagi-pagi kami sudah harus berangkat menuju Bukittinggi. Jadi setelah kekenyangan makan duren, semua peserta pulang ke hotel dan bobo cakep.

Menuju Bukittinggi

Kami mulai berangkat dari jam 8 pagi. Saya, Timo, dan Jho berada di mobil putih sebagai tim Risers 2. Yang menyetir pertama kali, siapa ya? Timo atau Jho? Lupa!!!! Kayaknya si Jho deh. Hehe. Yang jelas bukan saya, wong lagi menderita perut kembung, penuh angin, gak enak banget. Persis seperti malam pertama di Belitung.

Hari pertama, biasa, semua peserta masih pada malu-malu nyetirnya. Di radio komunikasi yang terpasang di setiap mobil juga masih malu-malu ngomongnya. Lagian kondisi jalan dan medan juga masih slow, belum sangar. Tidak ada yang begitu spesial pagi ini. Kami hanya terus mendaki memasuki hutan dan gunung. Pemandangan juga, walaupun indah, tetapi belum sampai tahap nganga. Hanya satu yang membuat peserta penasaran, kami menuju Kelok 9 yang fenomenal itu!

Kelok 9 adalah jembatan/jalan layang yang dibangun di antara lereng-lereng batu. Bangunan megah ini berhasil mempersingkat perjalanan antara Pekanbaru-Bukittinggi di sekitar daerah Payakumbuh.

jembatan-kelok-9

Jembatan Kelok 9 yang megah itu

Rombongan langsung narsis doooong di situ. Mulai keliatan bakat-bakat pecicilannya. Lagian di tempat seindah itu, ngapain jaim, coba? Sayang sih, kemegahan Kelok 9 menurut saya menjadi terganggu dengan banyaknya warung-warung tenda di situ. Walapun tidak nyampah, tapi jadi kurang bagus aja. Buat foto-foto juga harus pintar mencari angle yang pas, karena kalo tidak akan nyembul tuh ujung atap tenda yang warna-warni.

Selepas Kelok 9, kami langsung tancap gas menuju tempat makan siang. Di mana? Di tengah hutan. Iya, kami makan di Rumah Makan Terang Bulan, yang terletak entah di kilometer berapa, yang jelas masih di tengah hutan dan tebing. RM Terang Bulan menyajikan makanan Padang khas Payakumbuh. Saya baru tau sih kalo ternyata makanan Padang itu terbagi beberapa, antara pesisir dan pedalaman.

rm-terang-bulan-payakumbuh

RM Terang Bulan Payakumbuh

Bagaimana perbedaan antara masakan Padang pesisir dan pedalaman? Errrrr… yang jelas satunya lebih ringan, lebih cair, maksudnya kuah-kuahnya tidak begitu kental. Sementara yang satunya lebih kental (santan kelapa tua) dengan rasa bumbu yang lebih berani. Ini saya juga baru diberi tahu oleh Bram, anggota tim Risers 1 yang merupakan seorang food tester, ahli makanan.

sambal-hijau-payakumbuh

Sambal Hijau Payakumbuh

Orang Indonesia itu kalo habis makan kan biasanya jadi bengong, kekenyangan. Jadi sebelum menjadi tambah bengong, Tim DRE langsung kebut lagi menuju Bukittinggi.

Di perjalanan, entah idenya siapa, mungkin karena melihat waktu yang masih tersisa banyak, Tim DRE berbelok menuju Lembah Harau, sebuah lembah yang katanya luar biasa indah. Saya beberapa kali melihat foto-foto tentang Lembah Harau ini, dan memang indah, sih.

Kali ini giliran saya yang menyetir mobil, Jho sebagai navigator, dan Timo sebagai bengongers di belakang. Dihantam sama masakan Padang ala Payakumbuh, perut saya langsung enak, udah ga kembung lagi. Jadi bisa konsen full menyetir. Dan ternyata… memasuki Lembah Harau, ternyata… TERNYATA LEMBAH HARAU ITU INDAH BANGET!!!!! BAH! Rezekinya bocah dua itulah yang bisa jeprat-jepret moto. Sementara saya cuma bisa ngedumel dalam hati. Hih!

Rombongan mobil berjalan dengan kecepatan sedang, sementara di sebelah kanan dan kiri, terbentang pemandangan yang menakjubkan. Hamparan sawah menghijau, lalu tebing-tebing yang seolah-olah dibelah dengan pisau roti raksasa saking ratanya. Kerbau-kerbau yang bermain lumpur, dan lumbung padi milik masyarakat setempat yang masih berbentuk khas rumah Minang. Banyak sawah menghampar hampir di seluruh wilayah nusantara, tetapi titik keindahan Lembah Harau adalah tebing-tebing raksasa itu. Itulah yang menjadi perbedaan di Lembah Harau.

lembah-harau

Lembah Harau ini mungkin terasnya surga

 

lembah-harau

Entah bagaimana prosesnya ketika Tuhan menciptakan lembah Harau ini

Karena Lembah Harau adalah tujuan yang tidak direncanakan sebelumnya, jadi kami tidak berlama-lama di sana. Setelah narsisme selesai, kemon lagi menuju tujuan akhir hari ini, Bukittinggi.

Bukittinggi

Kota ini adalah kelahiran Bung Hatta, jadi tidak sopan rasanya kalo tidak mampir ke rumah kelahiran beliau yang terletak tidak begitu jauh dari hotel Novotel tempat kami menginap.

keluarga-bung-hatta

Bung Hatta dan keluarga. Isterinya cantik ya

rumah-kelahiran-bung-hatta

Tidak ada tarif khusus untuk masuk ke sini, pengunjung hanya diharapkan memberi uang kebersihan seikhlasnya.

Kami ditemani oleh Ibu Anita yang bertugas di rumah kelahiran Bung Hatta ini selama lebih dari 20 tahun. Banyak cerita dan wisdom yang kami dapatkan dari Ibu Anita. Di antaranya tentang kejujuran dan keikhlasan. Selama 20 tahun bekerja di situ, status beliau tetap sebagai PNS honorer. Tetapi keikhlasan beliau dalam menjaga rumah Bung Hatta telah mengantarkan beliau menuju tanah suci, dan sekarang sedang siap menunggu wisuda kuliah salah satu putrinya. Sehat-sehat selalu ya, Bu.

Nah, di Bukittinggi itu yang menjadi ikon kotanya adalah Jam Gadang. Sekilas info, ternyata Jam Gadang itu sudah 4 kali berganti bentuk atapnya, tergantung siapa yang berkuasa saat itu. Pertama pada tahun 1920an, saat Indonesia masih dikuasai oleh Belanda, mereka membuat bentuk atap yang sesuai dengan ciri khas kerajaan mereka. Lalu pada tahun 1940an, pemerintah Jepang menggantinya dengan gaya kebudayaan Jepang. Tahun 1960an pemerintah RI mengganti atap dengan ciri khas Jepang tersebut. Dan terakhir pada tahun 1970an, sekali lagi pemerintah RI mengganti atapnya menjadi bentuk yang kita kenal sekarang.

jam-gadang

Blue Hours di depan jam Gadang

Bukittinggi itu terletak di antara gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Keduanya merupakan gunung vulkanik yang masih aktif. Kehidupan di Bukittinggi sungguh bersahaja. Masyarakat ramah, cuaca sejuk, kota yang berbukit-bukit membuat pemandangan menjadi lebih eksotis.

Pagi hari di Bukittinggi adalah pagi hari yang penuh kesegaran. Embun pagi akan membuat kita menjadi lebih bersemangat bangun pagi. Walaupun begitu, kota Bukittinggi belum melakukan aktivitasnya sebelum jam 7 pagi. Jalanan masih sangat sepi jam segitu. Sungguh berbeda dengan irama kehidupan di Jakarta yang bahkan tidak pernah berhenti selama 24 jam penuh. Sementara di Bukittinggi, yang dibutuhkan hanyalah terus bersyukur dan berikhlas diri.

jam-gadang-bukittinggi

Selamat pagi dari Bukittinggi

Melibas Kelok 44

Hari ini, rute kami adalah Danau Maninjau, memutar melalui pesisir pantai menuju Pariaman, dan terus sampai akhirnya di Padang. Sebelumnya, mampir dulu untuk narsis time di Ngarai Sianok, yang terletak tidak jauh dari hotel Novotel. Ngarai Sianok itu agak mirip penampakannya dengan Lembah Harau, hanya saja persawahan digantikan oleh sebuah sungai/ngarai.

great-wall-bukittinggi

Katanya memiliki sekitar 300 anak tangga. Kesian ya pada mau pingsan. hehe

Menikmati pemandangan Ngarai Sianok akan lebih bagus kalau dari ketinggian. Ada dua pilihan menuju titik tertinggi pemantauan, yaitu melewati greatwall, yang mirip dengan greatwall di China. Hanya saja anak tangga yang harus dilewati sekitar 300an. Capek bo. Atau bisa juga melalui jalan memutar menggunakan mobil. Nanti akan sampai di puncak Ngarai Sianok. Kalo saya sih lebih memilih menaiki anak tangga aja, biar lebih berasa capeknya kesannya.

ngarai-sianok

Puncak Ngarai Sianok setelah ngos-ngosan. Capek abang dek..

Turun dari puncak, kebanyakan para Risers gemetaran lututnya. Haha. Haha. Gw juga sih..

Baiklah lutut gemetaran mungkin karena tulang-tulang sudah tua. tetapi kami tidak bisa beristirahat lama apalagi mencari tukang pijat. Karena makan siang di Danau Maninjau sudah menunggu. Perjalanan menuju Danau Maninjau akan melalui Kelok 44. Nah, apa pula itu? Dari namanya saja sudah mengerikan. Adrenalin saya yang sudah naik dari hari sebelumnya kembali dipacu hari ini. Saya memutuskan untuk menyetir mobil. Kelok 44 adalah perjalanan yang menuntut nyali dan keahlian tinggi sebagai driver. Sebelum mencapai Kelok 44 saja, jalanan sudah sempit, berkelok-kelok dan menanjak. Tapi belum sedahsyat begitu memasuki Kelok 44. Sepanjang jalan ada tulisannya, kok. Misalnya Kelok 1, Kelok 2, dan seterusnya sampai angka 44. Di Kelok 44, kita harus memberikan tanda klakson di setiap kelokan. Apabila posisi kita sedang turun dan dari bawah ada balesan klakson, maka kita wajib berhenti. Wajib, men. Untuk memberi kesempatan mobil di bawah naik dulu. Karena kalau kita memaksa, bisa-bisa mobil kita akan bersenggolan di kelokan. Karena saking sempitnya jalan dan tikungannya yang memutar tajam.

Pemandangan yang terpantau… indah men. Indah banget. Sepanjang jalan menuruni Kelok 44, kita disuguhi pemandangan Danau Maninjau. Tapi jangan membuka jendela mobil terlalu lebar ya, karena di pinggir jalan banyak monyet liar yang nongkrong. Daripada ada monyet yang iseng masuk ke dalam mobil mengambil makanan, ribet urusannya. Sayangnya, keindahan pemandangan pada saat turun tidak bisa saya jeprat jepret. Derita supir..

danau-maninjau

Sepanas apapun jadi adem ngeliat yang begini

Adrenalin saya benar-benar memuncak selepas makan siang di Danau Maninjau. Jalanan yang sepi dan mulus, mobil melaju kencang tanpa masalah sama sekali. Performa mobil Datsun GO+ Panca memang saya akui hebat. Mobil yang dibuat untuk kepentingan di dalam kota ternyata bisa melibas medan luar kota dengan anteng. Saya tidak merasa kuatir sama sekali naik tanjakan, tinggal manteng di gigi 2, mobil akan ngacir.

Sebelum melewati kota Pariaman, kami sempat mampir dadakan di Pantai Cermin. Walaupun bukan pantai berpasir putih, tetapi pantainya lumayan bersih dengan dataran landai yang luas.  Di lepas pantai terlihat beberapa pulau kecil yang sepertinya menjadi objek wisata resort. Mudah-mudahan saya bisa ke sana next time.

pantai-cermin

Narsis time di Pantai Cermin

datsun-risers-expedition

Tim DRE Etape 3 Sumatera

Di Bukittinggi, saat mengisi BBM, saya memperhatikan kilometer mobil ada di angka 14,014. Saat meninggalkan pantai Cermin, angka kilometer tempuh tertulis 14,151. Artinya perjalanan menempuh jarak 137km. Guess what? Panel BBM di dashboard baru berkurang satu garis, di mana satu garis itu mewakili kurang lebih 5liter BBM. Jadi dengan jarak 137km ngebut, naik dan turun gunung, Datsun GO+ Panca hanya menghabiskan 5liter! Gendheng iritnya!

Nah, kenapa kilometer mobil itu sudah segitu banyaknya? Karena mobil ini sudah digunakan nonstop dari etape pertama Jawa-Bali, lalu Sulawesi, Kalimantan, dan terakhir Sumatera. Itulah kenapa walaupun mobil baru, tetapi kilometer tempuhnya sudah banyak. Karena selalu dicek rutin oleh teknisi, performa mesin terjaga stabil.

Lebih serunya lagi, di perjalanan antara Pariaman Padang, entah gimana ceritanya ada jalanan yang ditutup karena ada pembangunan gedung apa gitu, gak jelas. Jalanan ditutup aja gitu, men, pake seng. Lucunya tidak ada papan pengumuman apa-apa, padahal kami sudah terlanjur masuk lumayan jauh. Sehingga harus memutar dan beruntung menemukan jalan alternatif yang, sekali lagi menjadi ajang tes mobil Datsun to the max! Karena jalannya.. mmmm.. ok, itu off road. Tanpa aspal, hanya tanah, dengan lubang-lubang besar menganga di seluruh badan jalan.  Tanpa bermaksud memuji berlebihan, Datsun GO+ lulus tes off road!

datsun-risers-expedition

Tim Datsun Risers dari blogger: Dolley sambilngopi.com; Jhohanes salingsilang.net; dan Timothy kadungcampur.com

Selewat waktu Magrib, Tim Datsun Risers Expedition memasuki kota Padang, mampir makan dulu sebelum check in di Hotel Pangeran, hotel terbesar di kota Padang.

Lalu apakah perjalanan hanya akan berakhir di sini? Tidak, tentu tidak. Karena besoknya kami akan menuju kota Padangpanjang. Di kota itulah klimaks semua cerita etape 3 Sumatera terjadi. Apa yang saya tulis di sini belum ada apa-apanya dibandingkan pengalaman yang akan kami dapatkan di kota Padangpanjang, terutama di kampung Kubu Gadang. Kalian bisa membaca tulisan tentang Kubu Gadang di “Indonesia di kampung Kubu Gadang”



14 Responses to “Datsun Risers Expedition Etape 3 Sumatera: mengunjungi Teras Surga

Leave a Reply

%d bloggers like this: