Cap Go Meh Glodok, Eksistensi Budaya Cina

Kemarin, tanggal 21 Februari 2016, adalah perayaan Cap Go Meh di Glodok, daerah Kota, Jakarta. Gue baru tau akan ada acara itu pas malam sebelumnya, liat banner Cap Go Meh Glodok, di akun twitter siapa gitu, lupa. Hari Minggu, kebetulan lagi lowong, dan juga lagi butuh keseruan baru sambil jeprat jepret motret, pergilah gue ke daerah Glodok, naik APTB dari Cibinong, lanjut bis TransJKT ke arah Stasiun Kota.

Gue nyampe jam 12an, sementara rundown acara mulai dari jam 2 siang, masih lama. Gue masih bisa muter-muter mempelajari keadaan biar tau dimana spot yang bagus muat jepret.

Cap Go Meh adalah hari ke 15 bulan pertama penanggalan Cina, atau dua minggu setelah perayaan Imlek. Banyak cerita dan dongeng terkait asal usul perayaan Cap Go Meh tersebut. Apapun itu, yang pasti perayaannya sudah ada sejak sebelum kalender Masehi. Pada tanggal 15 itu, masyarakat Cina akan menyalakan lampu lentera dan berpesta pora.

Salah satu versi cerita mengenai asal usul Cap Go Meh ini adalah adanya burung dewa dari langit yang jatuh ke bumi lalu dibunuh oleh penduduk. Sebelumnya penduduk bumi diganggu oleh para binatang buas dan raksasa jahat, sehingga mereka mengira burung tersebut bagian dari kelompok pembuat onar.  Kaisar langit yang mengetahui hal ini menjadi murka, ia ingin memberi pelajaran kepada makhluk bumi dengan cara membakar beberapa perkampungan tepat pada tanggal 15 setelah hari perayaan Imlek. Rencana tersebut diketahui oleh salah seorang putri dari kaisar langit. Ia sangat sedih dan tidak ingin hal ini terjadi. Demi menyelamatkan penduduk bumi, putri turun diam-diam, menceritakan hal tersebut pada penduduk. Para penduduk pun ketakutan, mereka tidak menyangka burung raksasa yang dibunuh itu adalah milik kaisar langit. Di tengah ketakutan mereka, putri memberi saran agar para penduduk menyalakan lampu merah pada malam tanggal 15 dan membunyikan petasan sebanyak-banyaknya. Upaya ini dimaksudkan untuk mengelabui kaisar agar ia menyangka telah terjadi kebakaran dan kekacauan di bumi sehingga mengurungkan niatnya untuk menghukum penduduk. Tak disangka ternyata upaya ini berhasil. Sejak saat itu setiap tanggal 15, dua minggu setelah Imlek, penduduk memperingati peristiwa tersebut dengan menyalakan lampion dan petasan.

Ini salah satu contoh cerita ya, masih banyak versi yang lain lagi. Kalau kalian nanya ke sesepuh Cina yang lain, mungkin aja akan ada versi lain yang embuh mana yang benar. Bagi gue gak begitu penting mana yang paling benar. Lebih baik kita ikutin aja seruseruannya.

Saat itu jam udah sudah menunjukkan angka satu siang, panitia masih bersiap siap. Acara Cap Go Meh Glodok ini dipusatkan di depan LTC, Lindeteves Trade Center, yang terletak di jalan Gajah Mada, kawasan Jakarta Kota. Di situ sudah berdiri panggung pembukaan, yang gue liat dari strukturnya panggung itu pasti cuma untuk duduk-duduk para tamu undangan aja. Menurut rundown yang gue baca di banner, hari itu inti acara adalah karnaval budaya yang diikuti berbagai macam kelompok, tidak hanya dari komunitas orang Cina. Ada reog dari Ponorogo, ada komunitas Dayak Kalbar, marching band, dan banyak lagi.

Di depan pasar HWI Lindeteves, banyak tenda berwarna putih yang diperuntukkan buat para peserta. Iseng gue masuk ke salah satu tenda itu yang isinya barongsay, hehe.

barongsay

Kesempatan banget ga sih? Mumpung diperbolehkan masuk. Gue langsung jeprat jepret di dalam. Ada sekitar 6 barongsay yang disiapkan, macam-macam warnanya. Nyala!

barongsay

Nah, gue baru tau yah ternyata barongsay itu isinya anak-anak muda lho. Kirain udah pada tua gitu. Ternyata mereka masih muda, ganteng dan cantik. Eh what? Cantik? Iya hehe, ada beberapa penari barongsay yang cewek, mereka cantik-cantik. Kok bisa? lah embuh. Sayang gak sempat kefoto, mereka pada malu.

DSC04176

Tubuh mereka semua terlihat enteng, ya iyalah. Kalo ndut mana mungkin jadi penari barongsay, kasian yang ngangkat. Sepertinya mereka juga belajar wushu, makanya gerakannya taktis gitu.

lampion

Keluar dari tenda, di sepanjang trotoar pasar HWI Lindeteves, orang-orang sudah mulai banyak yang duduk-duduk menunggu. Di plafon ruko digantung lampion hiasan. Cantik!

Matahari cakep banget panasnya, tapi orang-orang gak perduli. Gue sudah asik dapat spot di samping jalur busway. Jam sudah menunjukkan angka 2 siang, tapi panitia masih sibuk dengan persiapan. Para penonton sudah semakin membludak di depan panggung. Seperti yang sudah-sudah, khasnya acara keramaian di Indonesia, maka yang paling sulit diatur adalah penonton, mau itu gratisan atau bayar tiket. Kali ini juga,  penonton berdiri  memenuhi depan panggung, padahal sudah beberapa kali disuruh untuk membuat jarak lewat buat peserta karnaval. Gue langsung berpikir keras, kalo begini akan sangat sulit jeprat jepret, pasti kehalang pala pala orang.

Akhirnya prosesi acara pembukaan dimulai. MC dari finalis Koko & Cici Jakarta yang membuka. Agak kagok dan kurang kompak menurut gue. Terutama si Koko yang ngomong terus, jarang memberikan kesempatan ke Cici untuk bicara, jadi sekalinya ngomong seakan-akan nyodok. Saat ini gue menyingkir di bawah tenda di samping panggung. Panas booo. Tapi lumayanlah, dapat spot buat jepret, walaupun kehalang pala-pala.

DSC04206

Setelah Koko & Cici, tim barongsay beraksi, tapi nampaknya bukan dari tim yang tadi gue jepret di dalam tenda. Mereka menari dan meloncat di atas tiang-tiang besi yang tingginya di atas kepala manusia dewasa. Waow. Kalo jatuh piye ya..

barongsay

perempuan kecil di atas pundak ayahnya, gak peduli panas terik.

 

Panas semakin menggila, penonton juga tidak begitu perduli, tua muda, laki perempuan, anak kecil, beberapa bule, semua tumpek blek.

cap-go-meh

yang penting happy!

 

Nah, selesai barongsay turun panggung, gue pikir akan langsung dilanjutkan dengan karnaval. Ternyata masih ada ceremonial ala ala Indonesia. Sambutan ini dan itu. Ada beberapa pejabat tinggi yang hadir, Mendagri Tjahyo Kumolo, Puan Maharani, wakil gubernur DKI, walikota Jakarta Barat, dan tentu saja tokoh-tokoh Cina yang menjadi sponsor utama perayaan kolosal ini. Cuman sayangnya, dari beberapa orang penonton yang gue ajak ngomong, mereka sebenarnya menunggu satu orang, bukan para pejabat tinggi tadi. Yang mereka tunggu, the one and only, Ahok. Bagi gue keramean acara agak sedikit berkurang karena justru Ahok yang orang Cina malah tidak hadir. Entah kenapa, gue gak mau berasumsi.

Gue menyeberang, nyari spot yang lebih bagus. Di bawah tenda mustahil mendapat foto yang keren. Setengah jam lebih, lho kok karnaval belum jalan juga? Penonton panas-panas masih dipaksa dengerin sambutan ini itu, yang entahlah tentang apa. Mana udah mulai laper, sementara gak mungkin beli makan sekarang, masa harus menyingkir lagi?

Menjelang jam 3 sore, baru peserta karnaval dijalankan. Berurutan, dari tim barongsay, liong, dayak, kereta Joli atau dewa, marching band, hanoman, reog, macam-macam. Ga apal gue.

liong

Liong, atau naga, lambang tertinggi budaya Cina

 

liong

jarak penonton yang sangat dekat membuat peserta karnaval kesulitan.

 

joli

Kereta Jolie, yang jumlahnya puluhan.

Jolie, atau dewa-dewa, adalah yang paling ditunggu sebenarnya oleh orang cina. Sehari-harinya kereta Jolie ini terletak di dalam klenteng. Pengarakan atau keluarnya kereta Jolie ini tidak sembarangan lho, ada ritual-ritual khusus. Kalau di dalam budaya kraton Surakarta ada istilah pengarakan kerbau bule yang dilakukan pada malam 1 Suro, malam yang keramat bagi orang Jawa, terutama penganut aliran kejawen.

Yang gue perhatiin dalam ritual arakan kereta Jolie ini, apabila di budaya Jawa seperti arakan tumpengan dan semacamnya, rakyat akan berebut untuk mengambil mengambil makanan yang diarak, katanya untuk mendapat berkah. Nah, maka di sini yang gue liat justru kebalikannya, saat kereta Jolie lewat, orang-orang Cina malah berebut untuk memasukkan uang angpao ke dalam kereta Jolie. Menurut kepercayaan mereka, apabila kita berbuat baik kepada dewa, maka dewa akan menambahkan rejeki setahun ke depan.

 

DSC04283-01

Ini bukan atraksi, tapi bagian dari ritual

Di tengah-tengah arakan kereta Jolie, ada satu yang membuat gue bergidik; ada orang yang mulutnya ditembus beberapa paku panjang. Rrrrr.. Gue pernah ngeliat orang makan semprong, atau atraksi reog lainnya, di mana orang dicambuk, orang ngejilat besi panas, dan lain-lain. Baru kali ini gue ngeliat orang yang mulutnya ditusuk paku, terus darahnya mengucur aja gitu. Yang lebih hebatnya lagi, orang tersebut menjilat-jilat lembaran kertas kuning sampai penuh bercak darah, lalu membagikannya. Orang-orang pada berebut mengambil kertas itu lho. Asli yang ini gue tau apa artinya. Pasti ada sih makna ritualnya. Mungkin rezeki, kesehatan, kemakmuran, umur panjang, keselamatan, apa lagi.

Arakan karnaval itu melewati sepanjang jalan Gajah Mada menuju bundaran Harmoni, memutar memasuki jalan Hayam Wuruk, lalu berakhir di seberang gedung LTC Lindeteves.

DSC04306

Tim badut yang menggunakan enggrang juga ikut

Cuaca yang sebelumnya panas banget, menjelang jam setengah 5 tiba-tiba berubah mendung. Saat ini gue sudah berada di jalan Hayam Wuruk. Benar aja, begitu barisan awal peserta karnaval mulai berdatangan, hujan turun. Ada kelompok yang bertahan melanjutkan sampai finish, ada juga yang buru-buru meninggalkan barisan karena properti mereka, misalnya tim paskibra yang membawa bendera merah putih raksasa.

DSC04352-02-01

Perempuan penunggang kuda lumping

 

DSC04358-01

salah satu peserta dari kelompok reog.

Karnaval berakhir di dalam hujan. Peserta basah, penonton pulang. Sebuah ajang budaya yang layak kita nikmati karena budaya masyarakat Cina itu sudah membaur ke dalam budaya kita, sama halnya dengan budaya Batak, Jawa, Dayak, Bugis, Ambon, Papua, dan sebagainya.

Sebelum hujan turun, kebetulan lewat rombongan Hanoman yang pecicilan. Mereka mendekati penonton, minta difoto, menggoda penonton perempuan, dan segala tingkah usil lainnya. Gue menarik satu Hanoman yang berwarna merah lalu ajak foto selfie.

DSC04319

Yes!!!  Kumpulan foto selfie aneh gue sudah nambah satu lagi: Selfie level Hanoman. Hahaha. Gue memang suka foto selfie yang unik sedikit norak, misalnya selfie dengan anak sapi, dengan kambing, selfie sambil dicium ikan guedeee, selfie di depan orang yang lagi ngucapin akad nikah. Dan sekarang Hanoman.

Oh iya, dua minggu lagi gue akan nambahin selfie unik gue: Selfie level gerhana matahari total. Gue akan melakukan itu di Belitung. Karena ternyata tulisan gue tentang gerhana matahari telah dipilih oleh tim Blog Detik untuk ikut dalam rombongan Laskar Gerhana. Lalala Yeyeye.

8 Responses to “Cap Go Meh Glodok, Eksistensi Budaya Cina

Leave a Reply

%d bloggers like this: