3 Tips Agar Tidak Tertipu Investasi Bodong

Kemaren saya ngetwit lumayan serius tentang perbankan dan masih banyaknya orang  yang tertipu investasi bodong. Jarang sekali saya mau ngetwit serius selain hal tentang bola. Entah kenapa saya merasa ngtwit yang serius itu bukanlah passion saya. Kali ini bisa serius mungkin karena topik perbankan dan investasi memang hal yang menjadi perhatian saya selama bertahun-tahun.

Karena topik bahasan bisa menjadi amat panjang seperti kultwitnya Fahira Idris, maka saya memutuskan untuk menuliskan saja di blog. Lagian di blog tulisan yang saya share bisa lebih tertata dan lebih gampang nyarinya dibanding tulisan di twitter. Yo ra?

Emang ada masalah apa dengan investasi? Selama lebih dari 10 tahun bekerja di perbankan, salah satu tugas saya ya itu, memberi edukasi kepada rangorang tentang investasi dan bagaimana meminimalkan resikonya. Terus terang sampai saat ini saya tidak berhenti merasa miris melihat masih banyaknya masyarakat negara kita yang menjadi korban tertipu investasi. Baik itu investasi bodong atau investasi nyata yang dikelola secara asal.

Ada tips yang saya kumpulkan secara sederhana dan gamblang agar kalian yang membaca tulisan ini bisa mengerti dan ikut memberikan pengertian kepada teman-teman lain dan terutama orang tua kalian agar tidak menjadi korban tertipu investasi.

 

Bedanya menabung dan investasi

Hal yang pertama yang harus bisa dipahami adalah, bedakan antara menabung dan investasi. Menabung itu menyimpan uang tanpa ada pertambahan nilai. Selama setahun menabung, setiap hari memasukkan uang 1000 rupiah ke celengan, berarti dalam setahun uang kita akan menjadi 365 ribu rupiah. Bertambah dengan wajar sesuai dengan berapa jumlah yang kita setor. Selama celengannya tidak dicuri orang maka tidak ada resiko sama sekali dalam menabung. (Ini artinya bahkan dalam menabung pun tetap ada resiko).

Investasi itu ibarat menanam benih pohon.  Yang dilakukan adalah merawat benih pohon itu sehingga menjadi besar dan kemudian berbuah. Di sini banyak hal yang mempengaruhi tumbuh kembangnya benih pohon tersebut: pupuk, curah hujan, hama, pencuri buah, dan lain-lain. Bahkan saat buahnya kita petik dan ingin dijual pun, bisa saja harganya di pasar lagi jelek sehingga kita malah enggak dapat untung.

Jadi dari gambaran di atas harusnya bisa dipahami dengan mudah, menabung dan investasi memiliki tingkat resiko yang berbeda. Menabung resikonya hampir nol, sementara investasi resikonya banyak dan dipengaruhi faktor-faktor luar yang belum tentu bisa kita tangani.

Nah, saya langsung lompat ke pokok masalah yang lama menjadi PR bagi Otoritas Jasa Keuangan negeri ini, yaitu masih banyaknya masyarakat yang tertipu oleh aneka investasi yang banyak ditawarkan di sekeliling mereka.

Kalian pasti pernah ujug-ujug ditawarin ntah oleh orang enggak dikenal, oleh teman, atau oleh saudara (yang ini sulit ditolak) mengenai investasi, apapun itu bentuknya. Investasi dari perbankan, sekuritas, asuransi, properti, arisan, atau macam-macam investasi yang enggak jelas bentuknya.

Banyak di antara mereka  yang menawarkan itu menjanjikan tingkat bunga atau imbal hasil yang menggiurkan.

Seperti pertanyaan mbak Evi di twitter saya kemaren, bagaimana caranya bisa menaikkan antena waspada terhadap janji yang too good too be true?

Hal-hal ini yang harus kita lakukan saat menilai investasi yang ditawarkan kepada kita:

 

Cek kredibilitas institusi

Korban penipuan investasi paling banyak diderita oleh mereka yang melakukan investasi pada perusahaan yang tidak jelas asal-usulnya atau penipuan yang dilakukan oleh perorangan. Jangankan perorangan, pengelola investasi yang berbentuk perusahaan resmi pun banyak yang melakukan penipuan.

Saya hanya menyarankan investasi di 3 institusi berikut:

  1. Perbankan (usahakan bank BUMN atau bank swasta/asing yang memiliki nama besar)
  2. Asuransi
  3. Sekuritas/Asset Manajemen yang resmi dan terdaftar di OJK dan badan lain yang menaunginya seperti Bursa Efek Indonesia.

Ingat, bahkan di 3 institusi di atas juga masih ada lho yang melakukan penipuan. Jadi tidak ada resiko yang nol di sini. Dalam investasi, kita hanya bisa meminimalkan resiko, bukan menghilangkannya. Di luar dari 3 badan hukum di atas, mending jangan deh. Terlalu besar resikonya.

Dalam kasus yang sudah-sudah, penyelesaian kasus penipuan yang terjadi di 3 institusi di atas memerlukan waktu yang bertahun-tahun dan jarang bisa selesai sampai uang korban dikembalikan 100%. Nah apalagi kalo kasus di luar 3 badan tersebut? Relain aja uangnya, enggak akan kembali. Yang ada pelaku pasang badan, uang kalian tidak kembali.

Catatan untuk investasi di asuransi, secara pribadi saya tidak menganjurkannya. Bukan karena adanya unsur penipuan, tetapi adanya faktor biaya asuransi (COI/Cost of Insurance) yang sangat besar. Jadi kalo untuk asuransi, gunakan hanya asuransi tradisional seperti asuransi jiwa tanpa embel-embel investasi/unit link, lalu berinvestasilah secara langsung di instrumen lain seperi reksadana, obligasi, atau saham.

 

Cek instrumen investasi yang ditawarkan

Sekitar 10 tahun yang lalu banyak penawaran investasi dalam mata uang Dinar Irak. Secara logika asal-asalan, alasannya masuk akal. Negara Iraq sedang hancur karena perang, mata uang mereka jatuh menjadi 0,0008 USD per tanggal 3 Agustus 2007. Entah dari mana juntrungannya tiba-tiba ada yang mengusulkan untuk membeli dan menyimpan uang dinar Iraq dengan pertimbangan setelah kondisi negara mereka membaik maka nilai tukarnya terhadap USD akan kembali menguat. Sepertinya analisa ini cerdas dan cemerlang sekali. Padahal ngawur. Kenapa? Gini:

  1. Tidak ada yang bisa memastikan kapan kondisi negara Iraq akan pulih. Ternyata 10 tahun berlalu, kondisi negara mereka begitu-begitu saja. Bahkan setelah Amerika memutuskan angkat kaki, tetap tidak ada perubahan. Sampai kiamatpun sepertinya kondisi di Timur Tengah tidak akan pernah damai. Perselisihan di sana sudah terjadi ribuan tahun.
  2. Mau beli dinar Iraq di mana? Di money changer? Emang mereka punya? Kalaupun ada harganya berapa? Pasti mahal. Atau mau beli di luaran? Siapa yang bisa jamin uangnya asli? Atau mau beli virtual money lewat internet? Yakin itu bukan penipuan?
  3. Kalau berhasil membeli bentuk fisik uang dinar Iraq, mau disimpan sampai kapan? Setelah 5 tahun apa iya uangnya masih berlaku? Di negara kita aja uang 50ribuan gambar Soeharto atau uang 100ribuan yang semi plastik sudah enggak laku untuk jual beli, kecuali untuk koleksi.
  4. K alau memang investasi dinar Iraq menjanjikan sudah pasti para perusahaan sekuritas, wealth/asset management, dan perusahaan hedging di seluruh dunia akan berlomba-lomba melakukan itu. Lah ini mereka sepi-sepi aja.
  5. Coba liat grafik harga dinar Iraq terhadap USD pada hari ini:
tertipu investasi bodong

Mau dapat untung dari mana? Perubahannya cuma 0,0001%

Selain dinar Iraq, ada juga penawaran investasi emas, pohon jati, arisan, dan lain-lain. Mari kita bahas satu-satu ya.

  • Emas. Siapa bilang investasi emas tidak ada resiko? Coba lihat grafik harga emas dalam 10 tahun terakhir:
gold

Yang membeli emas pada tahun 2006 masih bisa menikmati untung sampai sekarang. Tetapi yang membeli pada bulan Juli 2011 mana bisa mereka menikmati untung? Rugi bye bye. Memang emas dalam bentuk fisik bisa disimpan sebagai perhiasan, tetapi secara harga dan investasi tetap aja rugi, kan?

  • Pohon Jati. Tahun 2009 saya pernah ditawari ini, saat itu kantornya terletak di bilangan Senayan. Lumayan tertarik pada awalnya, memiliki 1-2 hektar kebun jati yang bila dipanen beberapa tahun kemudian bisa dapat untung. Karena permintaan kayu jati kan lumayan tinggi yah? Untung saya enggak jadi beli. Beberapa waktu kemudian terjadi keributan antara nasabah pemilik lahan jati, yang ternyata oleh pengelola sertifikat tanahnya tumpang tindih. Nah lho kalau sudah begini gimana? Pengelolanya kabur meninggalkan pemilik lahan yang saling klaim hak tanah. Kasus penipuan berkedok pohon Jati ini tidak dilakukan oleh satu perusahaan saja, tetapi ada beberapa.
  • Arisan. Saya enggak mengerti kenapa masih ada rangorang, terutama buibu yang percaya dengan investasi di arisan. Arisan itu intinya untuk silaturahmi, kok, bukan investasi. Tidak ada penambahan apa-apa dari uang yang disetor. Biasanya menjelang lebaran kasus penipuan berkedok arisan ini meledak. Dengan iming-iming imbal hasil yang fantastis, buibu tertarik menyetor uang ke pengelola arisan. Tetapi begitu jatuh tempo pembayaran, jedeeerrr.. Boro-boro untung, bahkan uang modalpun enggak kembali. Pengelola yang biasanya perorangan pasang badan atau kabur kalau sempat. Lalu di televisi banyak kita lihat buibu yang menangisi uang yang hilang.

Semakin tinggi hasil yang dijanjikan = semakin mencurigakan

Siapa sih yang tidak tertarik imbal hasil yang tinggi? Semua pasti kepingin. Dengan modal hanya 10juta  bisa untung 120juta dalam setahun. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pengelola investasi bodong untuk menggaet calon nasabah. Korban investasi bodong adalah mereka yang buta karena janji imbal hasil fantastis tersebut.

Patokan saya dalam menjelaskan imbal hasil investasi biasanya bunga deposito bank saat itu. Misalnya sekarang di kisaran 7% SETAHUN BELUM POTONG PAJAK, berarti kalau berinvestasi jangan berharap terlalu banyak dibanding deposito. Dua kali lipatnya atau 14-15% setahun, itu masih masuk akal. Bisa mencapai 20% setahun, itu bonus. Bisa mencapai 50% setahun, itu bisa, tetapi mukjijat. DIJANJIKAN 10% SEBULAN ATAU 120% SETAHUN, ITU PENIPUAN!

Bahkan seorang George Soros atau Warren Buffet yang bisa mempengaruhi harga pasar sekalipun tidak akan berani menjanjikan untung 120% setahun. Lah kalo tiba-tiba ada orang datang lalu menjanjikan kepada kalian angka seperti itu, Hellooooo?? Siapa diaaaa?? Pewaris tunggal harta Nabi Sulaiman??

Udahlah yang begini ini pasti menipu. Baik dia itu teman dekat atau saudara sekalipun, cuekin aja.

Sayangnya ya, sekali lagi sayangnya, masih banyak masyarakat yang terbuai janji manis investasi tersebut. Padahal setiap tahun pasti ada kasus penipuan investasi bodong yang hilir mudik di layar televisi. Mereka yang menjadi korban seperti tidak pernah belajar pada derita orang lain sebelum mereka.

 


Beberapa kasus investasi bodong:

  1. Mahasiswa menipu 40 miliar
  2. Investasi bodong di emas
  3. Kasus CV Panen Mas

 

Tidak ada investasi yang 100% untung

Namanya investasi, dalam bentuk apapun. Apakah itu investasi keuangan di bidang pasar modal, investasi sektor real di bidang properti, atau emas, pasti memiliki resiko kerugian. Itu pasti. Properti yang katanya pasti untung, kata siapa? Pasti ada resiko ruginya. Misalnya tiba-tiba ada perubahan kebijakan di pemerintah mengenai pelebaran jalan yang memotong tanah dan bangunan? Atau tiba-tiba ternyata lokasinya menjadi langganan banjir? Belum lagi kasus sertifikat palsu yang sering terjadi.  Selain itu untuk menjual properti juga tidak secepat kita sendawa kekenyangan setelah makan. Proses menjual properti bisa memakan waktu lama. Kalau pengen cepat ya jual murah. Dan proses administrasinya juga bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Kenaikan harga properti seperti apartemen, biasanya hanya cepat di awal-awal tahun pembuatan. Setelah lebih dari 10 tahun, kenaikan harganya tidak begitu fantastis lagi karena faktor bangunan gedung yang sudah menua.

Saat ini dikawatirkan akan terjadi efek balon harga properti di Indonesia. Di mana kenaikannya sudah terlalu fantastis sehingga melewati kemampuan daya beli rangorang. Pada saat inilah harga properti akan anjlok.

Sekali lagi, apabila ada marketing yang menawarkan bahwa program investasinya 100% untung, getok aja kepalanya. Penipu itu. Orang begini kalo ada masalah paling kabur, enggak berani tanggung jawab, lalu menimpakan kesalahan pada perusahaannya. Lah dulu waktu jualan gimana? Sok iya banget perusahaannya itu bersih, jujur, professional, blablabla.

Rugi dalam hal berinvestasi itu bisa saja terjadi. Tetapi rugi karena tertipu investasi bodong, itu kesalahan pada nasabah, kok mau ditipu? Uangnya enggak akan kembali lho, catet. Jadi sebelum itu kejadian, pada saat kalian ingin memulai berinvestasi apapun, mending bertanya kepada rekan yang kerja di bank atau sekuritas yang bisa dipercaya, minta pendapat rasional dan netral.

 



 

8 Responses to “3 Tips Agar Tidak Tertipu Investasi Bodong

  • Banyak bener akhir kisah sedih dari investasi yang tidak didahului oleh cek dan Ricek. Iya jika hendak berinvestasi sebaiknya investor membekali dirinya dengan beberapa pengetahuan. Jangan sampai harapan kita terhadap pertumbuhan jadi senjata yang mematikan. Semoga mereka yang hendak memilih investasi apapun membaca artikel ini terlebih dahulu.

    Terima kasih sudah membuat saya lebih banyak mengerti tentang investasi 🙂

  • Masih bingung mau investasi apa, tepatnya apa yg mau diinvestasikan. LOL
    Thanks ilmunya masbro.

  • masih banyak yang ketipu ya
    karenta ketidaktahuan akan investasi jadi umumnya ingin cepat .. instant untungnya dan besar return-nya. Semoga banyak yang baca artikel ini supaya tidak kejeblos

    • Iya, biasalah sifat dasar manusia, serakah. Selalu ingin untung sebesar-besarnya tanpa keluar jerih payah yang melelahkan. Langsung buta tuli begitu disebutkan angka keuntungan yang fantastis.

  • Kamu pasti investasinya banyak… *kedip-kedip

Leave a Reply

%d bloggers like this: